Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Jumat, 12 Nov 2021 10:54 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Bagaimana sih Liburan Buruh Migran Indonesia di Hong Kong?

Maha Liarosh
d'Traveler
dokumen pribadi
dokumen pribadi
dokumen pribadi
dokumen pribadi
dokumen pribadi
dokumen pribadi
detikTravel Community -

Weekend menjadi waktu untuk menghabiskan liburan singkat oleh siapa saja baik di Indonesia maupun di kota besar seperti Hong Kong.

Warga kota selalu menghabiskan waktu bersama keluarga, pasangan, ataupun teman sejawat. Begitu pula dengan para pekerja migran yang mengais dolar di kawasan kota bisnis di daratan China itu.

Dengan kompleksitas yang dimiliki, Hong Kong, menjadi kota tujuan para pekerja migran terbanyak, setelah Malaysia dan Taiwan. Pekerja migran di sana, didominasi oleh warga Negara Philipina, Indonesia, Thailand, Sri Lanka, Pakistan dan beberapa negara lainnya.

Jika traveler pergi menikmati liburan ke Hong Kong pada hari-hari tertentu seperti Weekend ataupun di Public Holiday, kalian akan menemui atau melihat pemandangan yang membuat siapapun bertanya-tanya. Ya pemandangan inilah yang saya lihat ketika saya menginjakkan kaki di Hong Kong untuk pertama kalinya di tahun 2019, di bulan-bulan menjelang pandemi COVID-19 melanda dunia.

Di setiap sudut kota seperti taman, Mass Transit Railway (MTR), bahkan di atas dan di kolong jembatan, menjadi spot favorit para pahlawan devisa yang tengah mengadu nasib. Melihat pemandangan tersebut, awalnya saya bingung dan penasaran. Siapakah mereka? Dan kenapa mereka berada di situ? Bahkan, saya juga mendapati banyak orang Indonesia di tempat itu.

Seperti yang tampak di mata, ketika saya melewati jembatan Tseung Kwan O, yang merupakan jembatan penghubung Mass Transit Railway (MTR) dan pusat perbelanjaan, wajah-wajah perempuan Asia yang berkulit sawo matang sedang bergerombol di atas jembatan. Makan, bernyanyi, tiduran, bersenda gurau dengan temannya, dan ada pula yang sedang asyik menelpon.

Kemudian, ketika saya menengok ke arah taman di samping jembatan, saya melihat warna-warni tenda seperti orang sedang camping. Perempuan-perempuan berkulit sawo matang itu sedang asyik tidur-tiduran dalam tenda warna-warni. Ada pula di dalam tenda lain, saya melihat seseorang sedang membaca buku.

Ini hanya di satu sudut kota Hong Kong, masih banyak tempat-tempat yang menjadi favorit orang-orang berkulit sawo matang untuk menghabiskan waktunya. Ya seperti yang saya temui ketika saya mampir di Victoria Park di Causeway Bay. Tampak pemandangan yang sama seperti di Tsueng Kwan O.

Selanjutnya, semakin banyak migran berbahasa Indonesia

Rasa penasaran saya semakin kuat ketika saya dengar obrolan mereka sekilas berbahasa Indonesia, bahkan ketika langkah kaki saya bergeser ke depan terdengar obrolan mereka dengan bahasa Jawa.

Masih banyak sudut kota Hong Kong yang diwarnai dengan orang-orang berkulit sawo matang dan garis wajah Asia di setiap akhir pekan yang saya temui, seperti yang saya dapati di daerah Central, jembatan Mongkok, Tsim Sha Tsui, Kowloon, dan beberapa tempat lainnya. Usut punya usut, akhirnya saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang memenuhi benak.

Banyak informasi dari saudara saya yang menyebutkan, mereka adalah para pekerja migran yang sedang menghabiskan hari libur akhir pekan. Pekerja migran di Hong Kong didominasi oleh kaum perempuan dari Philipina dan Indonesia itu, mayoritas bekerja sebagai Domestic Helper.

Mereka bekerja untuk keluarga Hong Kong atau keluarga orang asing yang berdomisili di Hong Kong. Data dari Badan Perlindungan dan Penempatan Migran Indonesia (BP2MI), Hong Kong menjadi negara tujuan utama pekerja migran Indonesia pada semester I-2021. Ada 26.695 pekerja migran Indonesia yang pergi ke Hong Kong pada semester pertama tahun ini.

Pekerjaan mereka macam-macam. Mulai dari mengurus rumah, memasak, belanja, mengurus bayi dan anak-anak, sopir pribadi, mengurus orang tua atau jompo, hingga mengurus orang berkebutuhan khusus.

Durasi waktu kerja yang dihabiskan rata-rata 14 jam per hari selama 6 hari kerja. Sehingga di akhir pekan, mereka memilih mengambil libur untuk istirahat. Umumnya, saat mengambil libur, pekerja migran itu mencari hiburan seperti karaoke atau hanya bertemu dengan pekerja lain yang sama-sama berasal dari tanah air.

Seharian penuh, mereka menghabiskan waktu dengan saling bertukar pendapat atau sekedar kongkow-kongkow ringan. Kegiatan seperti banyak dihabiskan di bawah jembatan atau taman-taman.

Hong Kong merupakan kota besar modern dengan segala kompleksitas dan permasalahannya. Untuk mencari tempat hiburan yang lebih layak ketimbang menghabiskan waktu di kolong jembatan, Hong Kong banyak menawarkan itu.

Hanya saja, para pekerja migran lebih mempertimbangkan save money dibandingkan spend money untuk hal yang dianggap jauh dari kebutuhan primer. Padahal, gaji para pekerja migran di tahun 2021 sebanyak 6.370 HK$ atau setara Rp 11 juta. Dengan nilai tukar cukup tinggi, untuk mencari hiburan premium cukuplah mudah.

Tapi seperti yang dikatakan salah seorang Buruh Migran Indonesia (BMI), sebut saja Ita yang berada di Hong Kong. Ia merasa libur akhir pekan tak memberikannya cukup waktu untuk melancong ke tempat-tempat hiburan di luar kota.

Ita, salah satu BMI yang sudah lama di sana yang sempat saya tanya ketika kita sama-sama naik MTR menceritakan, waktu libur akhir pekan yang diberikan oleh majikan hanya 12 jam.

Tapi kata Ita, 12 jam waktu santai itu juga sangat bergantung dengan kebijaksanaan bos yang mempekerjakan mereka. "Ada yang disuruh jam 7 sudah masuk rumah, tapi rata-rata jam 8 malam sudah harus berada di rumah," kata Ita.

Dengan waktu santai 12 jam itulah, mereka rata-rata memilih menggunakannya untuk berkumpul di banyak sudut Hong Kong bersama rekan-rekan sejawat mereka sesama pekerja migran.

---

Artikel ini ditulis oleh pembaca detik Travel, Maha Liarosh. Traveler yang hobi berbagi cerita perjalanan, yuk kirim artikel, foto atau snapshot kepada detikTravel di d'Travelers. Link-nya di sini

BERITA TERKAIT
BACA JUGA