Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 27 Mar 2022 15:40 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Cikini, Aroma Masa Lalu di Tengah Modernitas Jakarta

Maidiyanto
d'Traveler
Bakoel Koffie, warung kopi legendaris di Kawasan Cikini
Bakoel Koffie, warung kopi legendaris di Kawasan Cikini
Kawasan Taman Ismail Marzuki, diresmikan Gubernur Ali Sadikin sejak 1968
Kawasan Taman Ismail Marzuki, diresmikan Gubernur Ali Sadikin sejak 1968
Roti Tan Ek Tjoan, mencoba bertahan dengan kemajuan jaman
Roti Tan Ek Tjoan, mencoba bertahan dengan kemajuan jaman
detikTravel Community -

Jika ingin menikmati aroma masa lalu di tengah modernnya Jakarta, traveler wajib mampir ke Cikini. Serasa bernostalgia saat jalan-jalan di Cikini. Ini kisahnya!

Kawasan Cikini dikenal sebagai salah satu kawasan dengan cerita sejarah masa lalu yang apik di Jakarta. Tak salah kalau Provinsi DKI menjadikan Cikini sebagai salah satu paket wisata Perkotaan berbasis sejarah.

Jika ingin merasakan Cikini dan Cerita Masa Lalunya, cobalah menyusuri jalan cikini raya sampai dengan jalan pegangsaan timur dengan berjalan kaki.

Dari Kantor Pos Cikini di Cikini Raya, sampai dengan perempatan Metropole, Jl Pegangsaan Timur. Jaraknya sekitar 1,6 kilomoter, kurang lebih ditempuh antara 20-25 menit dengan jalan kaki.

Sepanjang jalan, masih banyak bangunan ikonik peninggalan Belanda. Di masa dulu, kawasan cikini memang dibangun sebagai kawasan pendukung Perumahan Orang Eropa di Gondangdia, yang sekarang kita kenal dengan kawasan Menteng.

Dengan bangunan-bangunan tempo doeloe itu, Cikini bisa dibilang sebagai Braga nya Jakarta. Di ujung Jl Cikini Raya, berdiri Kantor Pos Cikini yang dibangun sejak 1920. Dulunya, kantor pos inilah yang digunakan sebagai pintu masuk dan keluar, surat-surat dan barang untuk Penduduk Luar Jawa, serta dari Indonesia ke Belanda.

Berderet dengan bangunan kantor pos, masih kental dengan suasana Tempo Doeloe, ada beberapa warung kopi di antaranya Bakoel Koffie. Di warung kopi legendaris ini, kita bisa menikmati kopi, roti, es krim serta cemilan ringan lainnya. Masih bisa kita lihat Coffee Maker jaman dulu, walaupun tidak digunakan lagi.

Nama Bakoel Koffie yang berdiri sejak 2003 ini, sama dengan logo tokonya yaitu perempuan penjaja kopi yang menggotong bakul diatas kepalanya. Ceritanya dulu, penjaja kopi ini menawarkan kopi kepada pendirinya, Tek Sun Ho.

Tek Sun Ho sendiri merupakan pemilik Kopi Warung Tinggi di daerah Mangga Besar yang merupakan kedai kopi tertua di Jakarta. Jika ingin mampir ke Bakoel Koffie, pastikan anda punya uang yang cukup, karena memang harganya lumayan, cukup sesuai dengan suasana tempo dulu yang bisa kita nikmati dalam ruangan.

Di depan Bakoel Koffie, kita bisa menjumpai gerobak-gerobak penjual Roti Tet. Roti Tet merupakan kependekan dari Roti Tan Ek Tjoan, nama pabrik roti masa dulu yang berdiri di Cikini, yang berdiri juga pada tahun 1920 an.

Pabrik rotinya sendiri sekarang berpindah di kawasan Ciputat, sejak Pemprov DKI tidak membolehkan ada pabrik di pusat kota pada 2015 silam. Tidak serupa dengan 'kemewahan' Bakoel Koffie dengan serba kekiniannya, pedagang gerobak Roti TET tampak sederhana layaknya pedagang emperan lainnya.

Kadangkala di depan emperan toko, kita juga berkesempatan bertemu dengan pengamen bertopeng putih alias seniman pantomim. Bergeser ke arah selatan, kawasan trotoar serta kuliner sepanjang Cikini memang memanjakan pelancong yang memilih jalan kaki.

Tak seperti daerah lain, tidak dijumpai kabel dan tiang listrik yang biasa semrawut letaknya. Lantai trotoar pun dibangun dengan granit, dilengkapi guiding blocknya untuk para disabilitas.

Jika ingin cari makan murah meriah, banyak kulineran kaki lima dengan gerobak dorongnya. Ketoprak Jakarta, Sate Ayam dan Kambing, Batagor, Nasi Bebek, Cemilan Gorengan serta makanan kaki lima lainnya.

Kalau ingin agak santai di rumah makan atau restoran ala ala, pilihannya juga sangat banyak. Untuk yang nyari fastfood dan kekinian, ada KFC, Bakmi Roxy, Holland Bakery, Rumah Makan Garuda (Masakan Padang).

Kalau mencari yang khas Cikini, bisa mampir ke Ampera 2 Tak yang menyajikan makanan khas sunda, atau bisa mampir ke Gado-Gado Bon Bin yang merupakan kuliner legenda sejak tahun 1960-an.

Selain makanan sunda dan gado-gado, coba juga mampir ke Bubur Ayam 99 di emperan Jl. Cilosari. Buburnya enak dan gurih, mirip-mirip sama bubur ayam di Masjid Cut Meutia. Harganya juga masih masuk di kantong backpackeran. Makan di sini kita juga disuguhi realita kehidupan yang lain di ibukota.

Di jejeran emperan toko di depannya, terdapat beberapa ibu-ibu dan anak kecil gelandangan yang nyamperin buat minta recehan. Anak kecilnya kadang juga mengganggu arus lalu lintas motor dan mobil yang lewat, mengingat tempat bermain mereka langsung di jalan raya.

Selain dikenal dengan kisah lama dan pusat kuliner, kawasan Cikini juga terkenal karena ada Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai pusat seni dan budaya di Jakarta. Diresmikan Gubernur DKI Ali Sadikin pada 1968, TIM menjadi saksi sejarah para seniman dan budayawan menuangkan karya-karyanya.

Tidak hanya seniman dalam negeri, beberapa pertunjukan internasional juga pernah tampil di TIM. Saat ini TIM terlihat sedang direvitalisasi oleh Pemprov DKI. Siapa yang tahu, lahan yang dulu kala kebun binatang dan tempat pacuan kuda, bisa berubah fungsi jadi pusat seni dan budaya kelas dunia.

Yang menarik perhatian saya adalah pedagang-pedagang emperan di depan kawasan TIM, yaitu ada yang menawarkan jasa ramal. Menerima Jasa Ramal, Curhat Sepanjang Hari, Murah begitu kira-kira promosi si abang tukang ramal di spanduknya.

Bisa ga ya kira-kira dia meramalkan, apakah nanti kawasan Cikini akan tetap mendunia lagi setelah Gubernur berganti? hehe. Yang pasti, saya tidak memilih untuk curhat ke abang jasa tukang ramal tadi. Kalau dia posting di Instagram hasil curhat saya, bisa berabe nantinya.

Jalan santai malam hari di Cikini, saya akhiri di Simpangan Metropole. Masih dengan bangunan khas tempo dulu, dalam bangunan metropole ini terdapat Bioskop XXI Cinema dan warung kopi Starbucks.

Bersisian dengan metropole, terdengar bisingnya kereta api lalu lalang karena terdapat flyover jalur kereta. Layaknya stasiun kereta lainnya, banyak aktivitas warga dari para pekerja yang hilir mudik, penjual minuman makanan ringan, abang-abang ojek, serta terlihat juga tukang tambal ban dengan seperangkat kompresornya.

Terdengar suara klakson kereta yang menandakan waktunya untuk pulang. Tuut...Tuuuuuuuuuuuuuutttt..

BERITA TERKAIT
BACA JUGA