Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 25 Apr 2022 13:51 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Pesona Godang, Masjid yang Bertahan 200 Tahun Dilintasi Zaman

Dedy Rahmat Nurda
d'Traveler
Mesjid Godang berusia hampir dua ratus tahun
Mesjid Godang berusia hampir dua ratus tahun
Tetap berdiri kokoh meski terus menua
Tetap berdiri kokoh meski terus menua
Tiang tiang kokoh menopang mesjid
Tiang tiang kokoh menopang mesjid
Makam Sutan Cedoh, sang Regent
Makam Sutan Cedoh, sang Regent
detikTravel Community -

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang di bulan Ramadan. Tetap bisa melakoni hobi tanpa harus kehilangan waktu dan kesempatan untuk melakukan aktivitas bernilai ibadah mengisi bulan suci.

Nah, bagi traveler yang suka bepergian, berfoto-foto sekaligus mengunjungi tempat-tempat baru yang unik dan tak biasa, maka bertraveling mengunjungi masjid-masjid tua dengan catatan sejarahnya yang panjang adalah sebuah kegiatan yang amat menyenangkan. Traveling di bulan puasa tak perlu jauh-jauh, apalagi sampai harus menyeberangi lautan dan meninggalkan kota tempat tinggal demi untuk menemukannya.

Cukup lihat dan layangkan pandangan ke lingkungan di sekitar kita. Percayalah, jika anda cukup jeli dan mempunyai minat cukup besar akan tempat-tempat bernilai sejarah, maka niscaya anda akan dengan mudah menemukan spot-spot lokasi yang bernilai historis tinggi.

Di Kota Payakumbuh sebuah kota kecil yang berada sekitar 120 km jaraknya ke arah utara dari Kota Padang ibu kota provinsi Sumatera Barat, ada sebuah masjid yang sarat dengan catatan sejarah perkembangan agama Islam di Ranah Minang. Tak jauh dari pusat kota, tepatnya di kelurahan Balai nan Duo kecamatan Payakumbuh Barat, masih berdiri dengan kokoh sebuah masjid tua yang dibangun dengan struktur kayu, berasitektur khas surau-surau lama di Minangkabau.

Masjid Godang Koto nan Ompek namanya. "Godang" adalah dialek Payakumbuh untuk kata "Gadang" dalam bahasa minang yang berarti "besar". Sedangkan koto nan Ompek adalah nama nagari tempat keberadaannya.

Dari beberapa sumber literatur yang ditemukan, diketahui bahwa Masjid ini dibangun sekitar tahun 1840, di atas lahan yang merupakan wakaf dari empat kaum di daerah Koto nan Ampek saat itu, yaitu kaum Datuk Bangso Dirajo Nan Hitam, Datuk Rajo Mantiko Alam, Datuk Paduko Majo Lelo, dan Datuk Sinaro Kayo.

Dari tahun pendiriannya ini, kita dapat memahami bahwa masjid ini didirikan tak lama setelah jatuhnya seluruh daratan Minangkabau ke dalam genggaman penjajahan kolonial Belanda, yaitu sekitar lebih kurang 3 tahun setelah berakhirnya Perang Paderi di tahun 1837.

Perang Paderi ini sendiri merupakan perlawanan terbesar yang tercatat dalam sejarah masyarakat Minangkabau terhadap kolonial yang meluluhlantakkan ranah minang dalam periode 1821-1837. Fakta ini menunjukkan bahwa pembangunan masjid ini terlaksana di masa-masa "kelam " dan menyedihkan bagi orang Minang.

Masa ini adalah periode awal dimana masyarakat minang sedang "berduka" akibat takluknya daerah mereka terhadap penjajah kolonial Belanda dalam Perang Paderi. Bisa jadi, pembangunan masjid ini juga bagian dari usaha "mengobati hati" masyarakat Minang yang sedang "terluka".

Selanjutnya, Masjid Godang memiliki atap segi empat dan piramid lancip

Masjid Godang ini memiliki bentuk atap segi empat piramid lancip, berundak tiga tingkat yang tinggi menjulang. Bangunan berkonsep dasar rumah panggung ini memiliki tiang-tiang besar sebagai penopang utama, yang berdiri miring semakin melebar ke bagian atas, mengingatkan kita pada tipikal bangunan rumah adat Minang "Rumah Gadang" yang memang bagian atas bangunannya akan lebih lebar jika dibandingkan bagian tapak atau pondasinya.

Secara ilmu konstruksi, struktur bangunan seperti ini disebut-sebut memiliki daya tahan atas goncangan gempa seperti yang kerap melanda daerah ini. Terbukti, bangunan masjid ini tetap mampu bertahan dari berpuluh kali gempa besar dan kecil yang melanda tanah minang selama hampir dua abad usianya.

Masjid tua ini lokasinya tak seberapa jauh dari sebuah Rumah Gadang yang juga diperkirakan hampir bersamaan pendiriannya dengan masjid tersebut. Rumah gadang yang hingga sekarang masih berdiri kokoh ini, dahulunya merupakan rumah kediaman dari Sutan Chedoh (Tuanku Nan Cheduk) yang ketika itu menjabat sebagai Wedana atau Regent (setingkat jabatan Bupati saat ini) di masa pemerintahan Hindia Belanda.

Pada masa itu, jabatan Regent ini adalah pangkat tertinggi yang dapat disandang oleh orang pribumi asli. Bangunan masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan.

Namun secara umum, untuk keseluruhan bangunan masjid ini masih mempertahankan struktur bangunan aslinya, termasuk ornamen ukiran tradisional khas Minangkabau disekeliling dinding kayunya. Tiang-tiang masjid diperkirakan masih sama dengan kondisi aslinya saat masih dibangun.

Perubahan terbesar ada pada atap masjid dimana dahulu atap tersebut dilapisi oleh bahan ijuk, kini seiring perkembangan zaman bahan ijuk yang semakin langka digantikan dengan bahan seng berbentuk genteng metal. Satu hal yang cukup menarik perhatian, di bagian halaman masjid tepatnya didepan bagian mihrab atau sisi barat masjid, terdapat bangunan setinggi 2 meter atau lebih, yang sekilas berbentuk semacam monumen atau candi.

Tidak terdapat tulisan penanda atau keterangan lebih lanjut dari bangunan ini dan tidak ada narasumber dilokasi yang dapat memberikan keterangan akan hal ini. Setelah dilakukan penelusuran dari berbagai sumber, diketahui bahwa bangunan ini merupakan makam Tuanku Nan Cheduk (Sutan Chedoh), sang Regent.

Dengan kedudukannya sebagai Regent, yang merupakan posisi yang sangat prestisius pada masa itu, diperkirakan pembangunan masjid ini tak lepas dari peranan dan andil besar dari pemuka adat sekaligus tokoh masyarakat. Sehingga tak heran, jika bangunan makamnya terlihat dibangun megah dan diletakkan di bagian terhormat dari lingkungan masjid.

Adzan Zuhur sayup-sayup berkumandang dari pengeras suara di puncak masjid. Lafadz asma-Nya mengalun merdu dari seorang muazin yang tampak sudah cukup lanjut usia. Generasi boleh berganti dan terus berganti. Namun jejak-jejak peradaban mestilah tetap bertahan dan lestari.

---

Artikel ini ditulis oleh pembaca detik Travel, Dedy Rahmat Nurda. Traveler yang hobi berbagi cerita perjalanan, yuk kirim artikel, foto atau snapshot kepada detikTravel di d'Travelers. Link-nya di sini




BERITA TERKAIT
BACA JUGA