Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 10 Jun 2022 22:46 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Gowes Menembus Hutan Pinus di Payakumbuh, Seru Abis!

Dedy Rahmat Nurda
d'Traveler
Foto: Gowes menembus hutan pinus detik
Foto: Gowes menembus hutan pinus detik
Foto: detik
Foto: detik
Foto: Penggiat sepeda antusias
Foto: Penggiat sepeda antusias
Jeda sejenak melepas lelah
Jeda sejenak melepas lelah
Berpose di ketinggian
Berpose di ketinggian
detikTravel Community -

Lama tak ada event bersepeda, ribuan goweser berkumpul di Payakumbuh menuntaskan dahaganya, melahap trek tanjakan yang hijau, indah namun menantang. Seru abis!

Sudah cukup lama tak tampak lagi hiruk pikuk keramaian dan lalu lalang berbagai komunitas gowes yang biasa berbondong-bondong hilir mudik memenuhi jalanan raya di berbagai kota besar dan kecil di Indonesia.

Sepertinya pesta telah usai, hiruk pikuk olahraga bersepeda yang "booming" semenjak pandemi tak lagi riuh terdengar. Euforia gowes , dimana tiba-tiba banyak orang menjadi penggemar olahraga "kereta angin" ini tak lagi seheboh di penghujung tahun 2020 hingga awal 2021 lalu.

Namun tak begitu halnya bagi penghobi sejati, tak ada istilah berhenti hanya karena "musim" telah berganti. Bersepeda adalah kebutuhan dan kesenangan bahkan jadi kewajiban, bukan sekedar jadi pengekor trend sesaat.

Maka untuk membuktikan hal itu, pada Minggu (5/6) yang lalu berkumpul dalam sebuah event bertajuk "Gowes Silaturrahmi" bertempat di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat.

Ratusan orang, bahkan mungkin hingga lebih dari seribuan pegiat sepeda yang berdatangan dari berbagai komunitas sepeda maupun individu dari kabupaten/kota di Sumatera Barat, bahkan dari daerah-daerah propinsi tetangga seperti Riau dan Jambi.

Ribuan pegiat sepeda ini datang dalam rangka memenuhi undangan dari Asosiasi Sepeda Rekreasi Indonesia (ASRI) Kota Payakumbuh yang baru di-launching keberadaannya sekaligus dikukuhkan kepengurusannya saat event ini dilangsungkan.

Trek alam di sepanjang kawasan Aur Kuning, Ampangan dan Sicincin, daerah pinggiran Kota Payakumbuh yang merupakan kawasan kaki Gunung Sago, adalah suguhan utama yang disajikan oleh panitia kepada para tetamunya yang tampak sudah berdesak-desakkan dengan sepeda andalan mereka masing-masing, tak sabar ingin segera dilepas untuk "melumat" dan menjajal tantangan alam yang diberikan.

Maka tatkala bendera start dikibarkan oleh Walikota Payakumbuh Riza Falepi, di pintu masuk objek wisata Ngalau Indah, seperti air bah yang dibuka sumbatnya, ribuan peserta mengalir deras berpacu menuju ke arah Gunung Sago dengan melalui titik-titik perlintasan yang telah ditetapkan.

Keceriaan mewarnai peserta yang sudah lama menantikan event-event semacam ini. Sudah cukup lama sejak pandemi menyerang dua tahun belakangan, event-event keramaian semacam ini tidak diizinkan sehingga terpaksa ditiadakan. Kini bagai melepas puasa, para goweser yang sudah haus dengan gelaran seperti ini bersuka cita dan tampak sangat menikmati. Apalagi trek yang disajikan bukan "jalur kaleng-kaleng".

Penyelenggara seperti memahami selera para penggowes yang butuh jalur yang seru, segar namun sekaligus menantang. Maka jalur hijau yang didominasi oleh tanjakan dan turunan berkategori sedang, dilahap dengan antusiasnya.

Menyusuri jalan-jalan kampung yang berganti-ganti antara trek aspal dengan jalanan tanah, meliuk-liuk dengan panorama alam khas alam pegunungan berupa ladang dan sawah-sawah yang bertingkat-tingkat dengan desiran sungai yang mengalis deras di bawahnya.

Jalur yang sedikit licin akibat hujan ringan yang turun di malam sebelumnya terbukti tidak menghalangi peserta untuk menaklukannya. Keceriaan dan keakraban bersama antar komunitas yang beragam, tua muda dan dari berbagai asal daerah yang berbeda memang betul-betul mampu mempererat silaturahmi antara sesama pecinta olahaga sepeda.

Apalagi dipadu dengan teduhnya hutan-hutan pinus dengan pucuk-pucuk daunnya yang runcing menjulang, dengan panorama alam Kota Payakumbuh dikejauhan dari ketinggian sungguh memuaskan dahaga mengayuh sekaligus hasrat "berfoto ria" seluruh peserta. Karena bersepeda tanpa "jeprat-jepret" lensa kamera, sungguh ibarat makan makan Nasi Padang tanpa sambal lado hijau dan jengkolnya.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA