Berkunjung ke Rumah Pengasingan Sukarno di Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat, bukan cuma melihat bangunan tua. Di dalamnya masih ada sejumlah jejak masa lalu yang bisa dilihat langsung, mulai dari bangku berusia lebih dari 100 tahun hingga bagian rumah yang masih asli.
Rumah milik keluarga Djiaw Kie Siong tersebut dibangun pada 1920. Meski usianya sudah lebih dari satu abad, sejumlah bagian bangunan dan perabot lama masih dipertahankan keluarga hingga sekarang.
7 benda bersejarah di rumah Pengasingan Rengasdengklok
1. Bangku berusia lebih dari 100 tahun
Salah satu yang menarik perhatian adalah bangku semata. Bentuknya sederhana tanpa sandaran tangan dan disebut sebagai model bangku yang banyak digunakan masyarakat pada masa lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perawat sekaligus penunggu rumah Djiaw Kie Siong, Lani, mengatakan dua bangku semata yang masih ada di rumah tersebut telah berusia lebih dari 100 tahun.
Bangku itu juga dikaitkan dengan meja yang digunakan dalam proses perumusan di rumah tersebut.
2. Meja altar peninggalan DjiawKieSiong
Di sampingnya terdapat meja altar peninggalan Djiaw Kie Siong yang dulunya digunakan untuk sembahyang. Kondisi meja tersebut masih kokoh dan dipertahankan seperti bentuk aslinya.
"Kalau di tradisi kami kan disebutnya meja altar buat sembahyang," kata Lani dalam perbincangan dengan detikTravel.
3. Bingkai cermin masih ada
Lani menjelaskan pula bingkai cermin yang masih asli peninggalan dari tahun 1945, namun bagian cermin sudah diganti karena pecah dan menghitam, sedangkan bingkainya masih dipertahankan.
4. Lemari tradisional di kamar
Lemari kayu tradisional juga masih berada di dalam bilik kamar. Lani menyebut lemari tersebut asli yang dulunya dipakai untuk menyimpan pakaian rombongan Sukarno Hatta.
Lani juga menceritakan bahwa setelah Djiaw Kie Siong meninggal, sejumlah barang seperti meja dan lemari dibagikan kepada anak-anaknya sebagai cindera mata.
5. Dipan tidur di kamar Sukarno-Hatta
Wisatawan juga bisa menemukan jejak sejarah di rumah Djiaw Kie Siong berupa dipan yang dipakai tidur rombongan Sukarno dan Hatta. Di masing-masing kamar terdapat satu dipan yang saat ini masih dipertahankan.
"Jadi emang yang asli tuh tempat tidurnya, di depannya kalau anak-anak kan yang bisa ngeliat kan tau banyak maung," kata Lani.
6. Tempat penyimpanan uang
Ada hal menarik di atas dipan tidur berupa laci yang digunakan untuk menyimpan uang Mohammad Hatta. Sayangnya, laci yang digunakan untuk menyimpan uang kini sudah rusak dan hilang.
"Dulu kan orang tua nggak banyak naruh duit, kalau ada naruh uang di mana-mana, (naruhnya) ya di laci," kata Lani.
Meski lacinya sudah hilang, bagian lemari yang tersisa masih dapat dilihat pengunjung.
7. Plafon berbahan anyaman bambu
Persis di ruang tengah, pengunjung bisa melihat langit-langit rumah tradisional berbahan anyaman bambu. Kalau di zaman dulu, khususnya dari masyarakat Jawa, menyebut plafon itu dengan 'gedek'.
Kini rumah tersebut masih berdiri sebagai rumah tinggal keluarga. Ketika wisatawan datang, yang dilihat bukan sekadar bangunan bersejarah, tetapi rumah yang sampai sekarang masih dirawat dan dihuni keluarga keturunan Djiaw Kie Siong.











































Komentar Terbanyak
Jembatan Cirahong Bersolek, Cagar Budaya Peninggalan 1893 Kembali Dipercantik
Wisatawan Jepang Jadi Wisatawan Paling Sopan di Dunia, AS Paling Royal
2 Tempat di RI Masuk Daftar Destinasi Wisata Satwa Liar Terbaik di Dunia