7 Benda Bersejarah di Rumah Pengasingan Rengasdengklok

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

7 Benda Bersejarah di Rumah Pengasingan Rengasdengklok

Vicky Fadly Ardana Putra - detikTravel
Jumat, 14 Agu 2026 14:15 WIB
loading...
Vicky Fadly Ardana Putra
Bangku semata di Rumah Rengasdengklok (Vicky Fadly Ardana Putra)
Tempat menyimpan uang di kamar Rumah Rengasdengklok (Fadly Ardana Putra)
Bingkai cermin di Rumah Rengasdengklok (Vicky Fadly Ardana Putra)
Meja altar di Rumah Rengasdengklok (Vicky Fadly Ardana Putra)
Bilik Rumah Rengasdengklok (Vicky Fadly Ardana Putra)
Plafon anyaman bambu di Rumah Rengasdengklok (Vicky Fadly Ardana Putra)
Lemari di kamar Rumah Rengasdengklok (Vicky Fadly Ardana Putra)
7 Benda Bersejarah di Rumah Pengasingan Rengasdengklok
7 Benda Bersejarah di Rumah Pengasingan Rengasdengklok
7 Benda Bersejarah di Rumah Pengasingan Rengasdengklok
7 Benda Bersejarah di Rumah Pengasingan Rengasdengklok
7 Benda Bersejarah di Rumah Pengasingan Rengasdengklok
7 Benda Bersejarah di Rumah Pengasingan Rengasdengklok
7 Benda Bersejarah di Rumah Pengasingan Rengasdengklok
Karawang -

Berkunjung ke Rumah Pengasingan Sukarno di Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat, bukan cuma melihat bangunan tua. Di dalamnya masih ada sejumlah jejak masa lalu yang bisa dilihat langsung, mulai dari bangku berusia lebih dari 100 tahun hingga bagian rumah yang masih asli.

Rumah milik keluarga Djiaw Kie Siong tersebut dibangun pada 1920. Meski usianya sudah lebih dari satu abad, sejumlah bagian bangunan dan perabot lama masih dipertahankan keluarga hingga sekarang.

7 benda bersejarah di rumah Pengasingan Rengasdengklok

1. Bangku berusia lebih dari 100 tahun

Salah satu yang menarik perhatian adalah bangku semata. Bentuknya sederhana tanpa sandaran tangan dan disebut sebagai model bangku yang banyak digunakan masyarakat pada masa lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perawat sekaligus penunggu rumah Djiaw Kie Siong, Lani, mengatakan dua bangku semata yang masih ada di rumah tersebut telah berusia lebih dari 100 tahun.

Bangku itu juga dikaitkan dengan meja yang digunakan dalam proses perumusan di rumah tersebut.

ADVERTISEMENT

2. Meja altar peninggalan DjiawKieSiong

Di sampingnya terdapat meja altar peninggalan Djiaw Kie Siong yang dulunya digunakan untuk sembahyang. Kondisi meja tersebut masih kokoh dan dipertahankan seperti bentuk aslinya.

"Kalau di tradisi kami kan disebutnya meja altar buat sembahyang," kata Lani dalam perbincangan dengan detikTravel.

3. Bingkai cermin masih ada

Lani menjelaskan pula bingkai cermin yang masih asli peninggalan dari tahun 1945, namun bagian cermin sudah diganti karena pecah dan menghitam, sedangkan bingkainya masih dipertahankan.

4. Lemari tradisional di kamar

Lemari kayu tradisional juga masih berada di dalam bilik kamar. Lani menyebut lemari tersebut asli yang dulunya dipakai untuk menyimpan pakaian rombongan Sukarno Hatta.

Lani juga menceritakan bahwa setelah Djiaw Kie Siong meninggal, sejumlah barang seperti meja dan lemari dibagikan kepada anak-anaknya sebagai cindera mata.

5. Dipan tidur di kamar Sukarno-Hatta

Wisatawan juga bisa menemukan jejak sejarah di rumah Djiaw Kie Siong berupa dipan yang dipakai tidur rombongan Sukarno dan Hatta. Di masing-masing kamar terdapat satu dipan yang saat ini masih dipertahankan.

"Jadi emang yang asli tuh tempat tidurnya, di depannya kalau anak-anak kan yang bisa ngeliat kan tau banyak maung," kata Lani.

6. Tempat penyimpanan uang

Ada hal menarik di atas dipan tidur berupa laci yang digunakan untuk menyimpan uang Mohammad Hatta. Sayangnya, laci yang digunakan untuk menyimpan uang kini sudah rusak dan hilang.

"Dulu kan orang tua nggak banyak naruh duit, kalau ada naruh uang di mana-mana, (naruhnya) ya di laci," kata Lani.

Meski lacinya sudah hilang, bagian lemari yang tersisa masih dapat dilihat pengunjung.

7. Plafon berbahan anyaman bambu

Persis di ruang tengah, pengunjung bisa melihat langit-langit rumah tradisional berbahan anyaman bambu. Kalau di zaman dulu, khususnya dari masyarakat Jawa, menyebut plafon itu dengan 'gedek'.

Kini rumah tersebut masih berdiri sebagai rumah tinggal keluarga. Ketika wisatawan datang, yang dilihat bukan sekadar bangunan bersejarah, tetapi rumah yang sampai sekarang masih dirawat dan dihuni keluarga keturunan Djiaw Kie Siong.

Travel Highlights
Kumpulan artikel pilihan oleh redaksi detikTravel
Kisah Naskah Proklamasi
Kisah Naskah Proklamasi
9 Konten
Penyusunan naskah proklamasi kemerdekaan RI memiliki alur yang berliku. Jejaknya tersimpan di tiga lokasi, di rumah pengasingan Rengasdengklok, kediaman Laksamana Tadashi Maeda, juga drumah bung Karno yang kini jadi Taman Tugu Proklamasi.
Artikel Selanjutnya
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads