×
Ad

Pekhos Pati, Masakan Khas Lampung

- detikTravel
Rabu, 21 Okt 2026 07:00 WIB
Warung makan Pekhos Pati di Tanggamus, Lampung.
Lampung -

Menginjakkan kaki di tanah Lampung tidak akan terasa berbeda dengan Jawa, sebelum merasakan kuliner khas setempat. Masakan Pekhos Pati yang menjadi penanda perbedaan dua pulau yang dipisahkan Selat Sunda ini.

Begitu mendarat di Bandara Radin Inten, seorang kawan menyambut kami dengan bahasa Jawa. Walaupun lahir dan besar di Lampung, namun dia keturunan transmigran asal Jawa.

Para transmigran asal Jawa ini tersentralisir di beberapa wilayah di Lampung, satu diantaranya di Kabupaten Tanggamus, lokasi tujuan perjalanan kami. Sepanjang perjalanan dari bandara menuju lokasi tujuan, saat beberapa kali kami berhenti, tidak sadar kalau ini di luar Jawa. Karena obrolan setiap orang yang kami temui, selalu memakai bahasa Jawa.

Seperti ketika kami berhenti di mini market daerah Pringsewu, penjaganya menyambut dengan ucapan "Monggo, ngersakne nopo (Silahkan, membutuhkan apa)?". Begitu juga ketika kami mampir ke sebuah warung untuk makan siang, sang penjaga warung juga menanyakan menu pesanan kami dengan bahasa Jawa.

"Badhe dahar nopo, kerso pedes menopo mboten (ingin makan apa, mau pedas atau tidak)?" tanya Yuni yang orang tuanya asli Wonogiri ini.

Yuni ternyata bekerja di warung yang menyajikan makanan khas Lampung. Namanya Pekhos Pati, olahan berbahan ikan yang disajikan dengan kuah santan yang tidak begitu kental. Melihat tampilan gambar di daftar menu, kami penasaran dengan rasa makanan yang diklaim khas Lampung ini. Kami pun memesan tiga porsi. Karena cukup lama menunggu proses memasaknya, saya yang kepo ini berjalan menuju bagian dapur.

Pantaslah lama, karena mereka memasak ikan yang benar-benar segar dan baru diambil dari kolam jika ada memesan menu ini. Untuk Pekhos Pati, warung yang lokasinya di Jalan A Yani, Rantau Tinjang, Kecamatan Pugung, Tanggamus ini menggunakan ikan nila segar.

Usai dibersihkan, ikan nila dimarinasi dengan bumbu tradisional seperti bawang putih, jinten, ketumbar, kunyit dan garam. Kemudian dipanggang di atas bara arang kayu , hingga meninggalkan aroma khas di daging ikan nila.

Proses memanggang inilah yang ternyata cukup lama. Karena ikan harus dibolak- balik sampai tingkat kematangannya sempurna. Berulang kali dilumuri bumbu, agar benar-benar meresap di daging ikan hingga warnanya berubah coklat dan bau gurih memenuhi ruangan. Ikan nila panggang ini, kemudian ditaruh di piring yang sudah diisi kuah santan. Uniknya, kuah santan ini disajikan matah atau mentah.

Yuni memeras santan dengan air matang, kemudian dilarutkan bumbu ulekan yang terdiri dari cabai, bawang merah, bawang putih dan kemiri serta perasaan jeruk limau. "Kuah santannya memang matah, gak dimasak lagi, biar terasa lebih segar. Nanti sambalnya juga matah, hanya cabai dan bawang putih, terus dikasih perasan air jeruk limau," jelasnya. Selain ikan nila berkuah, seporsi Pekhos Pati ini ditemani beragam lalapan dan dua jenis sambal.

Mulai dari terong dan kangkung rebus, kacang panjang, jantung pisang dengan sambal jeruk matah atau sambal terasi. Mereka menyebutnya sambal tempoyak. Mirip sambal terasi khas Bali yang dikucuri air jeruk limau, dengan aroma khas yang menyegarkan.

"Kalau merasakan masakan Pekhos Pati ini, baru sadar kalau saya di luar Jawa. Soalnya makanan seperti ini belum pernah saya temukan di Jawa," aku Sabato Kaliwuan, pembeli asal Yogyakarta.

Iya memang bener. Menikmati Pekhos Pati membuat tersadar posisi kami menginjakkan kaki di tanah Lampung. Rasa otentik kuah santan matah dan sambalnya, membuat masakan ini berbeda dengan olahan berbahan dasar ikan variasi lainnya. Karena setiap tanah, akan melahirkan tradisi kuliner yang menyesuaikan selera citarasa masyarakat yang bermukim di atasnya.

Kuliner tradisional khas Lampung Pesisir ini, menyajikan perpaduan rasa gurih, asam, dan segar. "Bener-bener gurih dan kuah santan matahnya berhasil menciptakan sensasi rasa segar yang berbeda," imbuh Sabato.

Untuk membayar tiga porsi Pekhos Pati plus minuman teh hangat, uang Rp 100 ribu ternyata masih ada kembaliannya Rp 4.000. Hampir sama dengan harga masakan di Jawa, kelas warung pinggir jalan raya. Sudah nikmat, murah pula. Namun begitu keluar dari warung itu, kembali ke setelah awal, berada di Lampung serasa tetap di Jawa.




(ddn/ddn)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork