Perjalanan dini hari dari Bandung tak sia-sia, langsung terbayar lunas saat mata kami disuguhi dua telaga berwarna hijau dan toska terhampar di Telaga Warna Dieng dari sebuah titik pandang. Hari itu, kami menjejak Dieng.
Kabut tipis masih menggantung di antara bukit ketika saya dan Raihan (21) berhenti di sebuah titik pandang pada Jumat (23/10/2026) pagi. Dari sana, Telaga Warna terhampar di bawah kami, hijau terang di satu sisi dan toska tenang di sisi lain, dipagari pepohonan pinus yang rapat.
"Dari atas begini kelihatan jelas, ya," kata Raihan sambil menunjuk ke bawah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Warnanya benar-benar beda di tiap sisi," dia menambahkan.
Saya mengangguk. Telaga yang lebih besar berwarna hijau segar, hampir seperti hamparan lumut yang disinari matahari. Di sampingnya, telaga yang lebih kecil tampak jernih dan kalem, warnanya toska pucat. Keduanya hanya dipisahkan jalur sempit yang ditumbuhi pohon dan semak.
Dari jauh, pertemuan dua warna itu terlihat seperti garis yang sengaja digambar.
Kami berdiri cukup lama tanpa banyak bicara. Dingin pagi Dieng membuat napas kami mengepul, tapi tidak ada yang berniat pergi.
Mata saya justru sibuk menyusuri lereng-lereng di seberang telaga. Kebun sayur ditata berundak-undak, membentuk petak hijau dan cokelat yang rapi.
Di sela-selanya, atap rumah warga menyembul dari balik kabut. Di atas semuanya, bukit-bukit menjulang berlapis-lapis, dari hijau tua di kaki hingga biru keabuan di puncak, di bawah langit yang bersih tanpa awan.
Tak lama, bau belerang tercium samar dibawa angin. Raihan menoleh.
"Itu yang bikin warna telaganya bisa berubah-ubah, kan?" Benar. Kandungan belerang dari aktivitas vulkanik Dataran Tinggi Dieng membuat warna air telaga bisa berganti mengikuti cahaya dan waktu kunjungan. Itu sebabnya orang menamainya Telaga Warna.
Pagi itu, hijaulah yang tampil paling menonjol.
Kami kemudian menuruni jalur setapak menuju tepi telaga. Dari dekat, permukaan air tampak tenang dan memantulkan siluet pepohonan di sekelilingnya.
Suara burung bersahutan dari balik pinus, sementara beberapa pengunjung lain berdiri diam menikmati pemandangan yang sama. Kabut perlahan naik dari lembah, membuat bukit di kejauhan tampak semakin lembut.
"Rasanya tenang banget di sini," ujar Raihan pelan.
"Capek perjalanan dari Bandung langsung terbayar,' kata dia lagi.
Saya setuju. Perjalanan dini hari itu terasa pegal, tapi pemandangan di hadapan kami menghapus semuanya. Tidak perlu banyak kata untuk menjelaskan apa yang kami lihat pagi itu, yakni dua telaga, lereng berundak, desa kecil di balik kabut, dan langit biru yang luas.
Menjelang pukul sembilan, matahari naik makin tinggi dan hijau telaga tampak kian cerah. Saya sempat membayangkan seperti apa warnanya pada jam atau hari yang lain. Telaga Warna pagi itu tidak hanya menyuguhkan warna, tetapi juga sebuah lanskap utuh yang membuat kami betah berlama-lama memandang.

Komentar Terbanyak
Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar Meski Mendapat Penolakan
Menu Makanan di Kelas Bisnis Garuda Indonesia Dikritik Rhenald Kasali
Viral Pramugara Ditonjok Penumpang Saat Boarding, Pelakunya Dokter Spesialis