Ada tempat yang paling indah ketika hari hampir selesai. Bagiku, Pangradinan salah satunya.
Di tengah kebisingan kota, aku memilih untuk menjauh lalu menghampiri tempat yang begitu tenang. Aku tiba sekitar pukul 2 siang, setelah perjalanan 15 menit dari rumahku di Cicalengka.
Jalan menuju basecamp-nya cukup mudah diakses; pemandangannya pun tak kalah indah, hamparan sawah hijau siap memanjakan mata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sampai di basecamp, aku langsung menuju tempat registrasi dengan harga simaksi Rp10.000 per orang. Siang itu benar-benar panas sekali. Semangatku dan temanku habis terbakar matahari.
Biasanya kita trekking hanya menghabiskan waktu 30 menit, tapi karena siang itu begitu terik, waktunya kita ralat menjadi 60 menit. Hal itu tidak menyurutkan niat kami untuk sampai ke puncaknya.
Perjalanan di trek kami nikmati dengan beberapa candaan, juga ada beberapa sapaan hangat dari orang-orang yang berpapasan saat turun menuju basecamp.
Sampai di puncak, kami langsung menuju warung, menghampiri penjaganya sambil bercerita dan bercanda, karena kebetulan kami memang sudah cukup akrab dengan para penjaga warung itu.
Di sana, Mang Tatang salah seorang penjaga warung menyambut kami dengan senyum hangatnya. Sambil menyeruput cuanki dan Nutrisari dingin, Mang Tatang sempat berpesan satu kalimat yang selalu membekas,
"Kalau lagi capek sama kehidupan di kota, pulang aja ke sini," kata dia.
Kalimat sederhana itu seketika menenangkan, seolah menjadi validasi atas lelah yang selama ini dibawa mendaki. Menjelang sore, terik yang tadi membakar perlahan surut. Semburat jingga mulai merayap di ujung langit, memantul lembut di atas hamparan savana bukit yang luas.
Aku duduk di bawah pohon sambil memandangi pemandangan bentang alam di bawah sana terlihat luas, menyambut malam yang perlahan bersiap menggantikan hari.
Angin sore berhembus pelan, menyapu sisa peluh dan rasa lelah di badan. Tidak ada suara bising kendaraan yang terdengar hanya deru angin yang bergesek dengan rerumputan dan gelak tawa kecil kami yang larut dalam damai.
Langit sore itu seolah menjadi ruang jeda yang sempurna tempat terbaik untuk melepas penat, merenungi hari yang telah berlalu, dan mensyukuri ketenangan di ketinggian ini.
Ketika matahari benar-benar tenggelam di balik garis horizon, menyisakan gradasi warna ungu, aku tahu selalu ada alasan untuk kembali lagi ke sini. Ke tempat di mana waktu seolah berjalan lebih lambat, dan sunyi terasa begitu akrab dipeluk.

Komentar Terbanyak
Menu Makanan di Kelas Bisnis Garuda Indonesia Dikritik Rhenald Kasali
Ular Terlihat di Kabin Pesawat, Pencariannya Sampai 2 Hari
Viral Pramugara Ditonjok Penumpang Saat Boarding, Pelakunya Dokter Spesialis