Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 03 Jul 2012 12:43 WIB

DESTINATIONS

Jepret! Ini Dia 'Tukang Foto' Badak Jawa di Ujung Kulon

Putri Rizqi Hernasari
Redaksi Travel
Ujung Kulon - Apa jadinya konservasi Badak Jawa di Ujung Kulon tanpa kehadiran camera trap? Badak yang sulit ditemui hanya bisa diamati dengan jebakan kamera yang dipasang di mana-mana. Camera trap adalah 'si tukang foto' Badak Jawa.

Mata saya terus memandang ke arah benda yang menempel pada pohon di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Warnanya cokelat mirip kulit pohon, di bagian dalamnya terdapat lampu-lampu kecil dan benda mirip lensa. Inikah camera trap?

Saat itu, saya sedang berada di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, tepatnya di daerah Karang Ranjang bersama rekan media dan WWF. Sejenak saya terdiam, dengan tatapan yang tak putus ke arah benda berwarna cokelat tepat di hadapan.

Tiba-tiba ingatan saya kembali ke perbincangan bersama Kepala Balai TNUK, Mohammad Haryono sehari sebelumnya. Ia mengatakan ada sekitar 35 ekor badak saat ini di TNUK, semua terlihat dari camera trap yang dipasang pada pohon sekitar habitat mamalia ini.

"Dari tahun 2010 kami memasang 44 kamera yang bisa menangkap aktivitas badak Jawa, nanti kita bisa lihat langsung saat jalan ke TNUK," jelas Pak Haryono, Minggu (24/6/2012) sambil memutarkan video badak hasil rekaman camera trap.

Mungkinkah benda yang saya lihat sekarang camera trap? Pikir saya saat itu.

"Ini adalah camera trap yang akan merekam semua kegiatan Badak Jawa," kata Koordinator Tim ROAM (Rhino Observation and Activity Management), Daryan kepada tim media, seolah menjawab pertanyaan saya.

Kemudian dengan sigapnya, Tim ROAM memperagakan bagaimana cara memasang camera trap. Pohon yang digunakan untuk memasang camera trap adalah pohon yang berada sekitar 5-8 meter dari lokasi perkiraan objek.

"Tingginya sekitar 170 cm di atas permukaan tanah, kenapa dipilih 170 cm karena kami perkirakan tinggi badak itu sekitar 160 cm," jelas Daryan.

Sambil lanjut memperagakan cara pemasangan kamera mulai dari pemasangan baterai hingga pengaturan lama waktu perekaman, ia menjelaskan tujuan dipasangnya kamera pada ketinggian 170 cm. Menurutnya, pemasangan pada ketinggian tertentu untuk menghindari tingkat agresifitas badak terhadap kamera.

"Lampu merah yang ada di sini menandakan kamera sudah mulai merekam, nanti kamera akan mendeteksi panas tubuh benda di depannya, dari sensor panas itu kamera mulai merekam," tambah Daryan.

Salah satu tim media pun berdiri di depan kamera untuk mencoba apakah kamera sudah merekam, tapi tidak ada tanda apa-apa. Ya, memang tidak ada tanda kalau kamera sudah merekam, ini juga bertujuan agar tidak mengganggu aktivitas badak saat merekam.

Tiba-tiba, ingatan saya lompat ke beberapa waktu silam saat menjejakkan kaki di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), tepatnya di Desa Bodogol. Saat sedang asyik berjalan, tiba-tiba terdengar bunyi, jepret! Kamera trap menangkap saya.

Rupanya camera trap yang saya lihat saat itu menyimpan gambar dalam bentuk foto. Berbeda dengan camera trap di TNGGP yang menyimpan dalam bentuk foto, TNUK menggunakan kamera yang menyimpan bentuk dalam video.

Apapun hasilnya, yang jelas camera trap berhasil merekam keberadaan satwa langka, seperti badak Jawa yang hanya ada di TNUK.


(ptr/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED