Saya berkunjung ke Moskow pada 26 Juni 2012 lalu dalam sebuah lawatan liputan. Hawa berangin dingin, namun cuaca cukup cerah.
Lapangan Merah saat itu ramai. Semua turis tumpah ruah, saya melihat turis Eropa, Asia, kulit hitam, tua dan muda, semua ada.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memang kata supir KBRI Moskow, sayang sekali jika ke Moskow tapi tidak mengunjungi Lapangan Merah. Inilah simbol Ibukota Rusia tersebut.
Pelan-pelan saya menyadari, sore ini seolah tidak pernah berhenti. Kapan malamnya? Sedari tadi senja melulu.
Saat melirik jam tangan, angka menunjukkan pukul 22.30. Ya ampun, ini sudah mulai larut malam sebenarnya!
Di Moskow, siang hari di musim panas jauh lebih lama dari pada kota besar Eropa lainnya yang biasanya sudah mulai gelap pada jam yang sama. Para turis ini sebenarnya sedang jalan-jalan malam, bukan jalan-jalan sore.
Ini lantaran posisi Moskow yang berada lebih ke utara dibandingkan kota besar di Eropa yang lain, misalnya Paris, atau Roma. Matahari rupanya terbenam pukul 23.30. Nyaris tengah malam!
Tidak lama memang waktu saya di Lapangan Merah. Namun itulah sore terlama yang pernah saya rasakan dalam hidup saya.
(fay/ptr)












































Komentar Terbanyak
Desa dengan Hujan Abadi, Hampir Tak Pernah Melihat Matahari
Bayangkan Hidup Tanpa Matahari: Kisah Desa dengan Hujan 'Abadi'
3 Hari Festival Songkran, 95 Orang Meninggal