"Kami sengaja menjemurnya di jalan agar dilindas kendaraan," kata Sarimin, warga di Desa Bedegung, Kabupaten Muaraenim, Sumatera Selatan, kepada detikTravel beberapa waktu lalu.
Dijelaskan Sarimin, biji kopi yang dijemur merupakan kopi yang masih dibalut kulitnya. Diharapkan setelah dilindas ban kendaraan yang lewat, kulitnya terkelupas. Sehingga, saat ditumbuk mereka tidak
terlalu sulit membersihkan kulitnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Biji kopi yang dijemur di jalan yang beraspal, kata Sarimin, mutunya jauh lebih baik jika dijemur di atap rumah atau di atas semen. "Biji kopinya lebih cepat mengering, dan kandungan airnya berkurang,"
katanya.
Mungkin lantaran dijemur di jalan beraspal dan diolah secara tradisional, jenis kopi Arabika dan Torabika, yang banyak ditanam para petani di Muaraenim, ini rasanya begitu enak. Kopi asal Muaraenim ini biasa dikenal sebagai Kopi Semendo.
Di pasaran lokal, kopi yang sudah siap diseduh dijual Rp 40 ribu per kilogram, sementara dari tangan petani harganya lebih murah lagi. Saat ini Kopi Semendo yang dikelola secara tradisional ini sudah diekspor ke Italia dengan harga Rp 75 ribu per kilogram.
(tw/fay)










































