Misteri batu berjalan sendiri ini ada di Racetrack Playa, Taman Nasional Death Valley, AS. Racetrack Playa adalah sebuah danau yang kini telah mengering.
Saat ini, Racetrack Playa yang berada di sisi barat laut Taman Nasional Death Valley, California menjadi incaran para turis jika traveling ke AS. Mereka ingin melihat secara langsung tentang cerita batu yang bisa bergerak sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun belum ada yang melihat secara langsung bagaimana batu tersebut bergeser, setiap turis yang datang bisa melihat jalur yang terbentuk karena pergeseran batu.
Jalur ini terukir jelas di atas permukaan danau. Ada banyak jalur lurus dan berkelok dengan batu di setiap akhir jalur. Uniknya, setiap tahun jalur ini akan bertambah panjang, dan menghasilkan trek atau jalur baru, seolah hasil pergerakan batu.
Dari situs Enviromental Graffiti, Selasa (11/9/2012), jalur ini terbentuk akibat adanya gesekan antara dasar batu yang kasar, dengan permukaan danau yang kering. Gesekan ini yang membuat permukaan danau dipenuhi ukiran jalur.
Dari jalur yang terbentuk, terlihat kalau bebatuan ini bergeser ke kanan, kiri, bahkan tak jarang ada yang berbalik arah. Panjang trek pergerakan batu juga bervariasi, tidak ada yang sama. Bahkan ada jalur mencapai ratusan meter.
Padahal berat batu ini mencapai 45 kg, bahkan ada yang lebih. Memang aneh dan ajaib, tapi ini nyata. Jalur yang terbentuk seolah menunjukkan aktivitas batu yang terus bergerak. Kemudian timbul pertanyaan di kalangan traveler yang telah melihat sendiri, bagaimana ia bisa bergerak?
Sayangnya, sampai saat ini belum ada hasil penelitian ilmiah yang bisa menjelaskan fenomena unik ini. Ada beberapa pendapat yang mengatakan pergerakan batu ini karena efek gravitasi.
Untuk alasan gravitasi, para ahli mengatakan kalau permukaan Racetrack Playa tidak datar. Dataran Playa di utara ternyata lebih tinggi beberapa cm dibanding permukaan sebelah selatan.
Inilah yang membuat beberapa orang mengatakan pergerakan batu akibat gravitasi bumi. Pendapat lain menyebutkan, danau yang jarang hujan dan berangin kencang menjadi faktor utama pergeseran batu-batu ini.
(ptr/ptr)












































Komentar Terbanyak
Cair! Desa Wunut Bagikan THR untuk Seluruh Warga, Termasuk Bayi Baru Lahir
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5
Gara-gara Monyet, Komodo di Singapore Zoo Telan Boneka yang Dilempar