Brrr! Menggigil Bersama Puncak Cartenz Papua
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Dream Destination Papua

Brrr! Menggigil Bersama Puncak Cartenz Papua

- detikTravel
Selasa, 20 Nov 2012 13:21 WIB
Brrr! Menggigil Bersama Puncak Cartenz Papua
Pemandangan cantik dari sekitar kawasan penambangan (Afif/detikTravel)
Tembagapura - Tim Dream Destination Papua berkesempatan mengunjungi 'jantung' Freeport di Tembagapura. Cuaca dingin dan perlengkapan khusus adalah cerita awal perjalanan kali ini. Tak hanya soal tambang, mereka juga bisa melihat Puncak Cartenz. Wow!

Setelah tiba di Bandara Mozes Kilangin, Timika pukul 06.30 WIT. Tim Dream Destination Papua melanjutkan perjalanan ke Tembagapura, Kabupaten Mimika. Kota kecil tersebut adalah tempat pertambangan Freeport.

Perjalanan ke Tembagapura ditempuh selama tiga jam. Awalnya mereka akan menggunakan helikopter, namun cuaca buruk memaksa mereka untuk naik bus anti peluru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekitar pukul 12.30 WIT, tim Dream Destination Papua tiba di Guest House untuk santap siang. Kabut yang menyelimuti Tembagapura dan gerimis, membuat cuaca semakin dingin. Berbicara saja, keluar asap saking dinginnya.

"Tembagapura memang begini cuacanya, sekitar pukul 11.00 WIT sudah berkabut dan gerimis," kata Staff Corporate Communication, Meliana Mitapo sebagai pemandu dari Freeport, menjelaskan.

Lalu, semua tim menggunakan perlengkapan khusus. Perlengkapan itu adalah helm, sepatu boots, kacamata, dan juga safety vest. Itu semua disebut alat perlindungan diri, yang biasa dipakai dalam bahasa industri. Peralatan tersebut wajib dipakai selama berada di dalam tambang Freeport.

Perjalanan kembali dilanjutkan dengan bus menuju kawasan pertambangan Freeport atau yang dikenal dengan Grasberg sebagai pertambangan terbuka. Jalanan menanjak dan tikungan tajam, membuat badan para rombongan bergoyang-goyang. Untungnya, tidak ada yang mual. Akan tetapi, bukan itu kekhawatiran utamanya.

"Nanti di atas oksigennya tipis, jadi jangan banyak gerak biar tidak capek," lanjut Meliana memberi penjelasan.

Setibanya di rumah sakit, semua tim melakukan medical check up. Syukurnya, semua peserta dalam keadaan sehat sehingga bisa masuk ke dalam tambang.

Sampailah di pintu masuk Grasberg, semua tim pun merasakan sesak nafas dan rasa kantuk akibat oksigen yang menipis tersebut. Tak hanya itu, udara yang makin dingin makin terasa menusuk tulang. Terang saja, mereka berada di ketinggian lebih dari 2.000 mdpl!

Setelah itu, rombongan memasuki trem atau kereta gantung untuk menuju kawasan tambang. Tak hanya tim Dream Destination Papua, tapi ada banyak juga pekerja Freeport di sini. Mereka memakai perlengkapan yang sama. Bedanya, mereka tidak kedinginan.

Trem ini bisa mencapai ketinggian hingga 3.574 mdpl. Dari atas terlihat pemandangan pengolahan emas mentah. Mereka semua pun saling berburu foto. Semua pun semakin takjub saat melihat pegunungan hijau dan air yang mengalir di tiap celahnya.

Perjalanan tak berhenti sampai situ, tim Dream Destination Papua kembali melanjutkan ke Grasberg, tempat penambangan yang berada di ketinggian lebih dari 4.285 mdpl. Dengan naik bis sekitar 10 menit mereka disambut oleh tim penambang.

"Barang tambang yang ada di sini adalah tembaga, emas, dan perak. Itu yang utama," kata Manager Productivity Improvment, M Zaki Dartius saat presentasi.

Informasi mengenai alat-alat kontraktor dan barang tambangnya pun dijelaskan dengan sejelas-jelasnya. Untungnya, ruangan presentasi hangat dan kontras dengan cuaca di luar yang super dingin.

"Kondisi sekarang, asumsinya adalah dalam satu ton batu hanya ada 0.5 gram emas," tegas Zaki.

Setelah itu, tim Dream Destination Papua terhipnosis oleh pemandangan di sekitarnya. Apa itu? Puncak Jaya dengan salju abadi yang bagaikan selimut putih. Di seberangnya, ada Puncak Cartenz yang berdiri megah. Puncak tertinggi di Austrolasia, Australia dan Asia. Wow!

"Ini sinting, ini gila. 4.000 Meter lebih cuma pakai jaket dan tidak pakai perlengkapan gunung. Ini amazing dan tidak tahu kapan gue tak cuma bisa liat, tapi bisa mendaki dan megang saljunya," kata Keken, dengan penuh antusias sambil senyum sumringah.

(shf/shf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads