Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengunjungi Taman Nasional Wasur di Distrik Sota, Merauke, Papua. Dari Bandara Merauke, perjalanan menuju taman nasional ini memakan waktu dua jam. Perjalanan yang sangat melelahkan, ditambah panasnya cuaca di Merauke.
Rumah-rumah semut menjadi pemandangan sebelum tibanya di Taman Nasional Wasur. Bentuknya besar dan tinggi, ada yang mencapai lebih dari satu meter. Rumah semut sendiri adalah salah satu ciri khas dari Merauke.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebuah gedung raksasa yang merupakan pusat informasi Taman Nasional Wasur ada di pinggir jalan. Saat itu, terlihat gedung tersebut sedang direnovasi dengan beberapa bambu-bambu sebagai tiang penyangga. Beberapa orang sedang duduk-duduk membakar ikan.
"Oh, ini sedang direnovasi mas. Mau diperluas," kata Tarno, salah seorang kuli bangunan yang menjawab rasa penasaran saya.
Namun, bukan inilah yang saya cari. Tujuan saya ke taman nasional ini adalah untuk bertemu kangguru. Kangguru pohon asli Papua yang mudah ditemukan gambarnya di internet, membuat perasaan ini deg-degan ingin bertemu. Bagaimana ya aslinya?
"Kalau mau lihat kanggurunya, ada di kandang sebelah mas," kata Tarno yang menunjuk kadang besar di sebelah gedung tersebut.
Tarno pun mengizinkan saya untuk masuk ke kandangnya. Memang, pengunjung boleh masuk ke kandang ini untuk melihat kangguru tersebut. Kandangnya pun cukup besar. Pagar-pagarnya yang dari besi kira-kira tingginya 1,5 meter. Di dalamnya ada semak-semak yang setinggi perut orang dewasa.
"Kalau mau lihat, sabar ya mas, soalnya kecil dan geraknya lincah," kata Tarno mengingatkan.
Saya langsung masuk ke dalam semak-semak. Dengan sedikit menundukan badan, saya terus mencari hewan lucu ini. Malang bagi saya, sekitar 10 menit, belum juga kangguru pohon terlihat. Tapi bukan berarti menyerah, saya malah masuk lebih ke dalam lagi sambil terus menundukan badan.
Tiba-tiba Tarno berteriak, "Mas, itu di sebelah kiri!"
Saya langsung berjalan menuju tempat yang ditunjuk Tarno. Melewati semak-semak dan pepohonan, sambil menahan rasa gatal di kaki akibat tergesek tanaman. Tapi di mana kamu kangguru?
Waktu pun terus berlalu, tapi saya juga belum melihat kangguru pohon. Cahaya matahari pun mulai menghilang. Karena akan masuk malam, akhirnya saya menyerah juga.
"Bentuknya itu kecil mas, ya kayak tikus tapi ukurannya besar. Di sini tinggal dua kanggurunya, kemarin satu lepas mas. Kalau di hutan sih masih banyak lagi," jelas Tarno yang seolah mengobati rasa kecewa saya.
Ada rasa sedih karena tidak bisa bertemu kangguru pohon ini. Sungguh, ingin sekali rasanya melihat dan memotret kanggurunya. Tapi apa daya, kangguru pohon memang sulit untuk ditemui.
Traveler yang mau melihat kangguru pohon, ada baiknya datang dari pagi. Tentu, Anda lebih punya banyak waktu untuk mencari dan melihat hewan lucu ini.
(ptr/fay)












































Komentar Terbanyak
Bule yang Ngamuk Dengar Warga Tadarusan di Gili Trawangan Ternyata Overstay
Viral 'Tembok Ratapan Solo', Politisi PSI: Bukti Jokowi Dicintai
Bandara Mencekam, Penumpang Panik-Ketakutan Saat Bos Kartel Tewas