Benteng Vredeburg berlokasi di Jl A Yani, Yogyakarta, tepatnya masih di sekitar kawasan Malioboro. Walaupun sudah berkali-kali singgah ke Yogya, baru kali ini saya menyempatkan mampir ke Benteng Vredeburg, Sabtu (1/6/2013) kemarin.
Saya berkeliling mengitari kawasan benteng dengan pemandu setempat, Seno. Dia banyak bercerita tentang segala hal yang menjadi isi bangunan ini dan sejarahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bangunan ini dibangun atas permintaan kolonial Belanda, dengan alasan Sri Sultan belum mempunyai angkatan perang yang memadai. Segala infrastruktur dan keamanannya ditanggung oleh kolonial Belanda. Benteng ini didirikan untuk sebagai tempat peristirahatan saja saat itu.
Awalnya bangunan ini sangat sederhana, atap benteng hanya terbuat dari daun tebu yang dikeringkan. Penyangga atap menggunakan kayu gelugu atau pohon kelapa yang rentan terjadinya kebakaran. Saat pergantian gubernur tahun 1765, timbul satu kekhawatiran yang besar karena melihat perkembangan situasi keraton yang luar biasa.
"Bangunan ini sempat terhambat pembangunannya saat tahun 1787 lalu, tapi kolonial Belanda tak pantang menyerah untuk melengkapi. Akhirnya bangunan ini selesai sempurna dan dikasi nama Ristenburg artinya tempat peristirahatan," ujar Seno.
Lalu, namanya diganti dengan Vredeburg karena peristiwa alam letusan Gunung Merapi pada tanggal 10 Juni 1867. Akibat letusan itu, bangunan di sana pun hancur lebur.
Vredeburd menurut Seno, adalah benteng perdamaian, karena saat itu pemerintahan keraton dan koloni tidak terjadi perang. Padahal semata-mata bangunan ini hanyalah taktik koloni yang ingin mengawasi segala aktivitas sultan di keraton. Walah!
Fungsi dari Vredeburg ini sebagai tempat asrama tentara koloni dan sebagai benteng pertahanan. Dulunya, gerbang masuk Vredeburg merupakan jembatan yang di kanan kirinya dikelilingi parit sedalam hampir 8 meter.
"Jembatan gantungnya dulu bisa diangkat dan ditutup mbak," cerita Seno.
Seno juga menceritakan suasana pada masa itu, seperti kendaraan yang digunakan koloni hanyalah kuda dan kereta saja. Selain itu, di sekitar jembatan juga dilengkapi dengan benteng keliling yang tebalnya 1 meter berbentuk bujur sangkar.
Ada tonjolan keluar untuk mengantisipasi musuh yang kuat dan mereka berpikir bagaimanapun musuh melewati parit dengan cara apapun. Lalu, dibuatlah anjungan untuk menempatkan meriam untuk sistem pertahanan mereka. Benteng yang sangat kuat!
Benteng Vredeburg juga dilengkapi dengan fasilitas tempat hiburan berupa bar dan soes yang biasa digunakan untuk bermain bilyard. Ada pula ruang sidang, ruang administrasi, kamar prajurit dan asrama perwira, dapur serta tempat makan. Vredeburg bisa dikatakan sebagai bangunan komplek yang cukup lengkap dan mewah.
"Nah, sekarang bangunan asrama perwira sudah beralih fungsi jadi diorama-diorama yang diisi miniatur yang bercerita tentang masa penjajahan dahulu," cerita Seno sambil menunjuk ke arah pajangan miniatur.
Benteng Vredeburg tidak buka setiap hari, jika traveler ingin mampir ke sana datanglah pada hari Selasa-Jumat pukul 08.00-16.00 WIB. Lalu, bentengnya juga buka hari Sabtu-Minggu pukul 08.00-17.00 WIB.
Sebelum masuk kawasan komplek benteng, Anda dikenai tarif tiket sebesar Rp 2.000 saja. Di dalam bentengnya, ada banyak pelajaran sejarah tentang perlawanan masyarakat Yogya mengusir penjajah Belanda.
Seno juga memberikan tips bagi traveler, saat akan menjelajah benteng ini. Sebaiknya Anda melakukan grup tur bersama teman dan waktu yang cocok untuk menjelajah benteng ini adalah saat malam hari. Bagaimana, tertarik?
(aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Bule yang Ngamuk Dengar Warga Tadarusan di Gili Trawangan Ternyata Overstay
Viral 'Tembok Ratapan Solo', Politisi PSI: Bukti Jokowi Dicintai
Bandara Mencekam, Penumpang Panik-Ketakutan Saat Bos Kartel Tewas