"Orang Papua itu seperti sagu. Keras, tapi hatinya lembut" kata Bupati Jayapura Matius Awetow saat pembukaan Festival Danau Sentani 2013, Rabu (19/6) lalu.
Pernyataan Pak Bupati bukan isapan jempol semata. Sejak awal acara, hingga akhir Festival Danau Sentani, semua elemen masyarakat di sekitar Sentani memang lembut dan ramah melayani para pendatang. Senyum merekah tak pernah berhenti terpancar dari wajah anak-anak hingga orang dewasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan penuh kehangatan, dia menyapa setiap turis yang datang. Wanita yang menikah dengan pria asal Jakarta itu punya segudang cerita tentang Asei.
"Di sini kita memproduksi kerajinan dari kulit kayu. Semua asli," kata Bertha sambil menunjukkan hasil karya penduduk Asei.
Di Asei, terdapat 388 jiwa. Semua warganya setiap hari memproduksi kerajinan gambar di kanvas kulit kayu. Mereka melakukan ini sejak tahun 1975, meski motif dan desainnya sudah ada sejak zaman leluhur.
Kerajinan lukisan kulit kayu itu dijual pada para pendatang. Harganya bervariasi, mulai dari Rp 50 ribu sampai Rp 300 ribu. Semuanya terbuat dari alam. Kanvas dari kulit kayu Khombow, lalu untuk warna berasal dari arang 'pantat' kuali. Warna putih dari getah, sementara warna merah dari tanah.
"Dulu hanya beberapa orang yang membuat kerajinan ini, tapi sekarang, hampir semua warga melakukannya. Ini memajukan ekonomi kampung," terang Kepala Desa Asei, Marthen Ohee, penuh keramahan.
Saat Anda traveling ke Danau Sentani, pastikan untuk mampir ke Pulau Asei. Lukisan kulit kayu buatan mereka adalah oleh-oleh wajib yang tidak boleh terlupakan.
(sst/sst)












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Sebut Bali 'Neraka Dunia', Dispar Badung Bereaksi
Cair! Desa Wunut Bagikan THR untuk Seluruh Warga, Termasuk Bayi Baru Lahir
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5