Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 11 Jul 2013 16:40 WIB

DESTINATIONS

Masjid Cheng Hoo, Masjid Unik Berbentuk Kelenteng di Surabaya

detikTravel
Masjid Cheng Hoo yang sekilas terlihat seperti klenteng (Rois/detikTravel)
Masjid Cheng Hoo yang sekilas terlihat seperti klenteng (Rois/detikTravel)
Surabaya - Warna merah, kuning dan hijau membalut bangunan yang terlihat seperti klenteng. Siapa sangka, bangunan ini adalah masjid. Masjid Cheng Ho, paduan unik dari China, Timur Tengah dan Jawa di Surabaya.

Masjid bernuansa Tionghoa ini terletak di Jalan Gading, Kecamatan Genteng, Surabaya. Lokasinya sekitar 1 km sebelah utara Balaikota Surabaya dan sekitar 100 meter dari Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa.

"Pengambilan nama Cheng Hoo ini sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan segenap muslim di Surabaya dan Indonesia, terhadap Laksamana, bahariawan asal China beragama Islam. Selama perjalanannya di kawasan Asia Tenggara, Cheng Ho tidak hanya berdagang dan menjalin persahabatan, tapi juga menyebarkan agama Islam di Indonesia," ujar Ta'mir Masjid Muhammad Cheng Ho, Ahmad Hariyono Ong kepada detiktravel, Selasa (9/7/2013).

Staf pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini menceritakan, masjid Cheng Hoo didirikan atas prakarsa para sesepuh, penasehat dan pengurus PITI (Pembina Iman Tauhid Islam). Selain itu, pengurus Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia Jawa Timur dan tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya juga diturutsertakan.

Peletakan batu pertama pada 15 Oktober 2001 bertepatan dengan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Pembangunan masjid selesai pada 13 Oktober 2002. Kemudian diresmikan oleh Menteri Agama RI Prof Dr H Said Agil Husein Al Munawar pada 28 Mei 2003.

Masjid yang bernama lengkap Masjid Muhammad Cheng Hoo ini berdiri di atas lahan seluas 21x11 m2 dan luas bangunan utama 11x9 m2. Masjid yang didominasi warna merah, kuning, hijau dengan ornamen bernuansa Tiongkok lama ini memiliki 8 sisi di bagian atas bangunan utama.

Ketiga ukuran dan angka ada maknanya yakni, angka 11 adalah ukuran Ka'bah saat baru dibangun. Sedangkan angka 9 melambangkan Walisongo. Sedangkan 8 artinya melambangkan Pat Kwa (dalam bahasa Tionghoa artinya keberuntungan atau kejayaan). Masjid Cheng Hoo ini mampu menampung sekitar 200 jamaah.

"Perpaduan gaya Tiongkok dan Arab ini memang menjadi ciri khas Masjid Cheng Hoo. Arsitektur Masjid Cheng Hoo diilhami Masjid Niu Jie di Beijing," tuturnya sambil menambahkan, gaya Masjid Niu Jie seperti bagian atap utama, bagian puncak dan mahkota masjid.

Masjid Cheng Hoo juga tidak melepaskan nuansa Timur Tengah seperti pintu utama masjid. "Serta bergaya Jawa seperti tembok yang susunan batu batanya terlihat," katanya.

Di sisi utara Masjid Cheng Hoo terdapat relief dan replika kapal dan wajah Laksamana Cheng Ho. Di lokasi ini, juga sering menjadi tempat foto para wisatawan.

Hariyono menerangkan, ada alasan kenapa dibangun relief dan replika kapal dan Cheng Hoo. Pertama, ingin menunjukkan bahwa Muhammad Cheng Hoo adalah pelaut, muslim dari Tionghoa yang taat, saleh dan utusan perdamaian yang terpuji.

Masjid Cheng Hoo juga banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Indonesia. Ada yang dari Makassar, Jawa Barat, Jakarta dan berbagai daerah lainnya. Banyak juga wisatawan dari mancanegara baik yang muslim maupun non muslim. Ada dari Malaysia, Arab Saudi, China, selandia Baru, Inggris, Afrika dan lainnya.

"Hampir semua negara di belahan dunia ini pernah berkunjung ke sini. Kunjungan wisatawan baik dari nusantara maupun mancanegara rata-rata sebulan bisa mencapai 1.500 sampai 2.000 orang," tuturnya.

Ia mengakui, wisatawan mancanegara baik yang muslim maupun non muslim terkagum-kagum dengan Masjid Cheng Hoo.

"Banyak wisatawan mancanegara yang non muslim mengira bangunan ini adalah klenteng (rumah ibadat umat Tri Dharma). Tapi kita jelaskan bahwa ini adalah masjid tempat ibadat umat Islam," jelasnya.

Kekaguman atas bangunan dan ornamen Masjid Cheng Hoo juga disampaikan Yunus Kocsis asal Hungaria yang tinggal di Wigan, Inggris. Pemuda muslim yang datang ke Indonesia bersama rekannya dari Indonesia seperti Susilahudin Putra Wangsa dari Lombok, Sofan dari Kebaron Surabaya dan rekan lainnya. Setelah menunaikan salat dzuhur, Yunus membawa kamera dan melihat-lihat ornamen yang bernuansa Tiongkok.

"Dari kejauhan seperti bukan masjid. Ada yang berbeda dengan masjid-masjid yang pernah saya lihat. Untuk memastikan apakah bangunan itu masjid atau bukan, saya lihat di ujungnya (mahkota bangunan) apakah ada bulan sabitnya," terang Yunus.

Pemuda 28 tahun yang rencananya menghabiskan waktu liburan musim panasnya di Indonesia hingga Agustus ini mengaku kagum keberagaman budaya di Indonesia. Termasuk bangunan Masjid Cheng Hoo.

"Arsitek bangunan masjid ini dapat menggambarkan keberagaman budaya," jelasnya.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Surabaya, bisa mampir ke Masjid Cheng Hoo yang terletak di pusat Kota Surabaya. Di area masjid Cheng Hoo ini juga terdapat prasasti tiga bahasa, Indonesia, Mandarin dan Inggris, yang menjelaskan sejarah Laksamana Cheng Hoo di gedung kantor Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo dan Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) di depan sisi selatan Masjid Cheng Hoo.



(sst/sst)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED