Bukit Beta, Tempat Terbaik Menunggu Pagi di Pulau Samosir

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Bukit Beta, Tempat Terbaik Menunggu Pagi di Pulau Samosir

Fitraya Ramadhanny - detikTravel
Jumat, 06 Sep 2013 14:20 WIB
Bukit Beta, Tempat Terbaik Menunggu Pagi di Pulau Samosir
Matahari pagi di Bukit Beta, Pulau Samosir (Fitraya/detikTravel)
Samosir - Tempat terbaik untuk menunggu pagi di Pulau Samosir adalah di Bukit Beta. Padang rumput menghampar bagai permadani menghadap ke Danau Toba. Jika beruntung, cahaya matahari terbit akan menyempurnakan pagi di Bukit Beta.

Pada pagi-pagi buta, Rabu (28/8/2013) lalu, detikTravel dan para fotografer finalis Garuda Indonesia Photo Contest sudah berada di kaki Bukit Beta, di Tuk Tuk, Pulau Samosir. Bermodalkan senter, kami berjalan dalam satu baris panjang menuju ke sebuah padang gembala kerbau nan luas.

Mata kami dengan hati-hati menatap ke mana kaki melangkah. Maklum, tahi kerbau ada di mana-mana. Akhirnya, sampailah kami ke Bukit Beta. Dalam keadaan remang-remang, tampaklah bentang Danau Toba di hadapan kami. Bangunan semi permanen, sepertinya WC umum, dibangun menyambut Festival Danau Toba yang akan digelar 8 September 2013 mendatang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaikan para tentara penembak jitu, para fotografer dari 5 negara langsung menyebar dengan tripod mereka mencari tempat asyik menunggu matahari terbit. Sayangnya, awan tebal menggantung di atas kami. Sepertinya kami tidak punya kesempatan melihat langsung matahari terbit.

Ketika sudah lebih terang, makin jelaslah betapa indahnya Bukit Beta. Rumput menghampar rapi dan pendek, seperti rajin dipotong dengan mesin. Padahal, rumput di sini dipotong secara alami karena dimakan kerbau. Bukit Beta memang menjadi padang gembala kerbau untuk warga sekitar.

Kalau disebut ada yang mengganggu mata saat menikmati pemandangan Danau Toba, itu adalah dua menara BTS yang menjulang. Para fotografer pun berdiskusi bagaimana caranya tiang BTS ini tidak ikut terfoto oleh mereka.

Saya pun memilih naik ke puncak Bukit Beta. Makin tinggi, makin indah pemandangannya. Apalagi, di puncak Bukit Beta terdapat makam-makam tradisional Batak yang menambah kental nilai budaya di Bukit Beta ini.

Selebihnya, saya sungguh menikmati suasana tenang dan damai di Bukit Beta. Suara orang bicara hanyalah kami saja, selain itu tidak ada bunyi-bunyian lain. Matahari akhirnya muncul, tapi langsung tertutup awan. Para fotografer hanya gigit jari.

Meski demikian, dari atas bukit pemandangannya dahsyat. Di hadapan saya ada Danau Toba yang jauh menghampar sampai ke kaki langit. Di belakang saya, Bukit Beta langsung menukik turun dan memberi tempat kepada lembah yang hijau dengan persawahan. Bukit ini seperti menjadi tembok alami yang membatasi lembah Tuk Tuk dengan Danau Toba.

Kerbau-kerbau kemudian dibawa para gembala, yang kemudian jadi obyek foto kami. Andai mentari pagi bersinar terang, sempurnalah pagi di Bukit Beta. Tapi tak apa, saat kaki ini melangkah turun untuk pulang dan sarapan, hati ini sudah terpuaskan dengan pemandangan cantik di atas bukit.

(fay/shf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads