Jalan Kaki 9 Km ke Kampung Adat Wae Rebo, Seru Banget!

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Jalan Kaki 9 Km ke Kampung Adat Wae Rebo, Seru Banget!

- detikTravel
Jumat, 22 Nov 2013 07:38 WIB
Perjalanan menuju pos pertama (Shafa/detikTravel)
Manggarai Tengah - Wae Rebo adalah sebuah kampung adat yang berada di tengah pegunungan Flores. Butuh 4 jam trekking meniti gunung untuk menuju ke sana. Meski panjang, perjalanan ini berbuah manis!

Perjalanan dimulai dari Desa Denge di kaki bukit. Dari sana, trekking dimulai. Sebenarnya, jarak aslinya dari kaki bukit menuju kampung Wae Rebo hanya 5 km, namun karena rute, jarak tempuhnya menjadi 9 km.

Awal minggu ini, detikTravel bersama rombongan dari Kemendikbud berkunjung ke kampung yang berada di ketinggian 1.117 mdpl ini. Perjalanan hingga pos pertama dipenuhi dengan peluh karena jalur yang cukup lebar dan tanpa pepohonan untuk tempat berteduh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jarak dari kaki bukit menuju pos pertama yang bernama Wae Lomba ini sekitar 1,5 jam jalan kaki. Tenang, segala kelelahan akan hilang di pos pertama karena ada sungai berair jernih yang bisa dijadikan tempat beristirahat.

Kebanyakan wisatawan mengisi botol minumannya dengan air dari sungai ini. Menurut Roman, salah satu penduduk asli Wae Rebo, air dari sungai ini tidak kalah segar dari air mineral kemasan merk terkenal lho!

Setelah melalui pos pertama, perjalanan cukup sejuk dengan pepohonan yang menaungi jalan setapak. Meski terus menanjak, pepohonan yang menangkis sinar mentari bisa mengurangi peluh yang terus menetes. Jarak dari pos pertama ke pos kedua yang bernama Poncoroko sekitar 1 jam.

Pos kedua terkenal dengan tempat untuk menelepon. Karena di pos ini, ada beberapa sinyal provider yang bisa tertangkap.

"Di sini bisa nelpon dan sms, tapi ada syaratnya, HP-nya harus jelek," gurau tur guide sekaligus Penasehat Lembaga Pelestari Budaya Wae Rebo, Martinus Anggo kepada detikTravel.

Perjalanan sebagian menanjak dan sebagian menurun untuk mencapai pos ketiga yang bernama Nampe Bakok. Banyak traveler yang sudah kelelahan saat mencapai pos ini. Tapi ketika benar-benar sampai, semua lelah hilang sudah.

Dari kejauhan, terlihat kampung dengan 7 rumah Niang yang kerucut dan berwarna hitam. Keindahannya sungguh melunturkan semua lelah dan peluh. Rasanya, ingin segera berlari ke bawah untuk melihat lebih dekat.

Benar saja, hampir seluruh wisatawan yang mendaki langsung semangat dari pos tiga hingga ke kampung. Segala langkah yang berat terbayar dengan sajian keindahan alam dan kekayaan budaya di desa yang dianugerahi Warisan Budaya Hidup dari UNESCO pada bulan Agustus 2012 kemarin.

(ptr/fay)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads