Kabupaten Tuban yang terkenal dengan julukan 'Bumi Wali' menyimpan keindahan dan keunikan alam yang luar biasa. Salah satunya Gua Ngerong di Desa Rengel, Kecamatan Rengel. Lokasinya mudah dijangkau. Sebab berada di dekat jalan raya.
detikTravel berkesempatan mengunjungi Gua Ngerong bersama tim petualang Caldera, The Extreme Journey, Selasa (27/5/2014). Sekitar pukul 09.30 WIB, wisatawan mulai ramai berdatangan.
Gua Ngerong bisa disebut 'istana kelelawar'. Di mulut gua yang berukuran sekitar 3 meter, ribuan kelelawar bergantungan di dinding dan atap gua. Suara kelelawar yang saling bersahutan menghasilkan bunyi yang tak henti-henti. Sejumlah pengunjung tampak bersantai memandangi kawanan kelelawar. Tekadang, kelelawar terbang berpindah tempat.
Selain soal kelelawar, Gua Ngerong juga mengalirkan air yang memanjang hingga membelah jalan. Airnya jernih. Ribuan ikan berbagai jenis seperti bader, lele, gabus tampak dengan jelas di permukaan air. Jumlahnya tak terhitung. Kita seperti melihat 'akuarium alam', kawanan ikan berenangan.
Sejumlah pengunjung tampak duduk di bibir aliran air. Mereka memandangi ikan. Ternyata, ada cara tersendiri untuk menarik perhatian ikan agar berkumpul dan mendekat. Yaitu dengan biji kapas (kapuk). Para pengunjung melemparkan biji kapas tersebut, ikan pun berebut memakannya. Biji kapas ini dapat dibeli di seharga Rp.1000.
Keunikan Gua Ngerong tidak habis sampai di situ. Di atas Gua Ngerong juga terdapat perkampungan. Namanya Desa Ngerong. Sebuah desa yang berada di atas gua.
Bagi Anda pecinta petualang susur gua, tidak ada salahnya mencoba bertualang di Gua Ngerong. Gua ini hanya bisa disusuri pada malam hari. Sebab jika pada siang hari, apalagi ditambah dengan menggunakan alat penerang, tak ayal akan mendapat serbuan dari kawanan kelelawar. Tertarik mencoba?
(shf/shf)












































Komentar Terbanyak
Waspada! Ini Daftar Pangkalan Militer AS di Seluruh Dunia yang Harus Kamu Tahu
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5
Daftar Negara Teraman Andai Terjadi Perang Dunia III, Ada Indonesia?