Tak perlu kenal, tak perlu sungkan, ikut saja makan. Saat pesta Pecel Pethek di Desa Kemiren, Banyuwangi semua orang boleh ikut makan bersama ratusan orang di sepanjang jalan desa. Inilah bentuk keramahan di Banyuwangi.
Explore Indonesia: Tour Banyuwangi adalah program detikTravel untuk mempromosikan destinasi wisata di Indonesia. Program ini didukung penuh oleh Garuda Indonesia dan Pemkab Banyuwangi.
Malam terakhir di Banyuwangi, Sabtu (21/6/2014) peserta Explore Indonesia: Tour Banyuwangi diundang makan-makan di desa adat Kemiren. Tim adventure yang baru pulang dari Taman Nasional Alas Purwo, dan tim family yang baru wisata kuliner ayam pedas Warung Tengah Sawah, berangkat bareng menuju Desa Kemiren.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Orang-orang duduk memanjang dalam kelompok 5-6 orang. Di hadapan mereka masing-masing ada sebakul nasi dan wadah besar masakan berupa ayam kampung bumbu urap kelapa. Inilah yang mereka sebut Pecel Pethek. Minumnya ada air kendi yang khas.
Wah duduk dimana saya? Saya melihat ada beberapa tamu bule sudah duduk bersila menyantap hidangan. Ada orang yang baru datang dan langsung duduk begitu saja.
"Ayo Mas, duduk dimana saja sama. Silakan," ujar beberapa warga dengan ramah kepada saya.
Saya lihat juga para peserta Explore sudah asyik makan. Saya melihat ada tempat kosong dan duduk di sana. Satu centong nasi pun mengisi piring saya yang beralas daun pisang, bersama ayam kampung bumbu urap kelapa. Jika biasanya masakan Banyuwangi itu pedas, untuk yang ini tidak.
Pecel Pethek itu, nikmat gurihnya wow! Enak banget dan bikin ingin tambah lagi. Apalagi bumbu kelapanya, berpadu dengan nasi, rasanya pas benar.
Kenyang makan, warga dan termasuk peserta Explore Indonesia beranjak ke tepi sungai untuk menonton sendratari. Saya yang masih kelaparan, memilih menikmati makan terlebih dahulu sambil berbincang santai dengan warga desa. Rupanya yang memasak makanan ini adalah seorang ibu paruh baya bernama Sri.
"Kami bikin acara makan-makan besar seperti ini, kalau ada acara penting di Desa Kemiren. Misalnya saja bersih desa, Idul Fitri hari kedua dan Idul Adha," kata dia.
Saat itu, semua warga memasak Pecel Pethek di rumah masing-masing. Sementara, tikar digelar memanjang di sepanjang jalan desa. Semua masakan lalu dibawa ke depan rumah dan perjamuan besar pun dimulai.
Nah di sinilah letak kekaguman saya terhadap warga Banyuwangi. Semua orang boleh ikut makan, meskipun tidak saling mengenal. Yang jelas, ayam yang kita makan biasanya dimasak oleh keluarga yang tinggal di depan atau di belakang posisi kita duduk.
"Rumah saya yang ini, Mas," kata dia menunjuk sebuah rumah yang ramai anak kecil di hadapan saya.
Karena di Kemiren ada pagelaran sendratari besar-besaran. Warga pun kembali menggelar Pecel Pethek. Rupanya, semuanya ini swadaya dan gotong royong sesama warga saling menyumbang ayam, beras dan kelapa untuk dimasak beramai-ramai di rumah setiap warga yang terlibat.
Wah, suasana kekeluargaan masyarakat di Desa Kemiren, Banyuwangi, patut menjadi contoh. Betapa semangat kebersamaan dilakukan dengan tulus tanpa saling berhitung secara egois. Toh ketika semua orang bersuka ria bersama, yang senang juga kita semua, bukan?
Saat Selametan Pecel Pethek, bukan hanya perut saja yang kenyang. Kita juga bisa belajar mengenai hidup yang guyub dari para warga desa. Nah jika Anda ke Banyuwangi saat Lebaran Idul Fitri nanti, ayo ke Desa Kemiren dan bergabunglah dalam perjamuan makan Selametan Pecel Pethek nanti.
Nah, Banyuwangi juga punya Gunung Ijen yang seru untuk didaki. Tonton saja videonya berikut ini:
(fay/aff)












































Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun