Banyuwangi -
Kawah Ijen di Banyuwangi adalah salah satu destinasi favorit turis mancanegara. Jangan heran, Anda bakal bertemu banyak bule dari muda sampai tua yang berlibur ke sana. Begini tingkah laku mereka!
Kawah Ijen berada di atas Gunung Ijen yang punya ketinggian 2.443 mdpl. Anda harus berjalan sekitar 3 km dari Pos Paltuding, pos pendakian pertama, untuk tiba di puncaknya. Kawahnya sendiri ada di kedalaman 800 meter dari atas puncak gunungnya.
Panorama alam Kawah Ijen tak perlu diragukan. Buktinya, turis mancanegara yang kebanyakan dari Eropa paling sering berlibur ke Kawah Ijen. Selain panorama alam, api biru di Kawah Ijen juga jadi daya tarik bagi mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disusun detikTravel, Rabu (3/9/2014) begini tingkah laku para bule yang datang ke Kawah Ijen:
1. Foto selfie
(Afif/detikTravel)
|
Tak sedikit para bule yang datang ke Kawah Ijen membawa pasangannya. Meski pendakian cukup melelahkan, banyak bule dan pasangannya yang berhasil ke puncak untuk melihat Kawah Ijen dari dekat.
Kegiatan yang sering mereka lakukan adalah berfoto selfie bersama pasangannya. Banyak titik-titik bagus untuk berfoto selfie di Kawah Ijen, dari lanskap kawah sampai langit biru bersih dan gumpalan awan putih.
Yang patut diancungi jempol, para bule yang berfoto selfie bersama pasangannya tetap menjaga tata krama. Mereka berfoto sewajarnya karena menghargai norma-norma masyarakat setempat dan wisatawan lokal.
2. Bule tua dan muda, semuanya trekking
(Afif/detikTravel)
|
Faktanya, bule-bule yang trekking ke Kawah Ijen tak mengenal umur. Dari bule muda sampai yang sudah manula, semuanya trekking ke puncak Gunung Ijen untuk melihat kawahnya dari dekat. Salut!
Meski jarak yang dilalui mencapai 3 km dan medan jalan yang mendaki sejauh 200 meter, tidak menyurutkan semangat bule-bule manula. Mereka rela berjam-jam di jalan untuk tiba di atas puncak dan melihat Kawah Ijen di depan mata. Masa mau kalah sama mereka?
3. Hunting foto
(Afif/detikTravel)
|
Para turis yang datang ke Kawah Ijen paling suka menghabiskan waktu dengan berburu foto. Biasanya, mulai pukul 07.00 WIB adalah waktu terbaik untuk memotret sudut-sudut cantik Kawah Ijen. Cahaya matahari saat itu sudah cukup terik.
Ada juga turis yang berburu foto api biru di dasar Kawah Ijen. Kalau fenomena ini hanya terlihat dari mulai dinihari, sekitar pukul 03.00 WIB sampai matahari terbit. Tapi kalau untuk memotret api biru, mereka harus membawa peralatan pencahayaan untuk mendapat hasil terbaik.
4. Membeli suvenir dari belerang
(Afif/detikTravel)
|
Para penambang belerang di Kawah Ijen menjajakan aneka suvenir khas yang menggemaskan. Suvenir tersebut adalah cetakan belerang dengan berbagai rupa, dari kura-kura, mobil, kepiting, hingga berbentuk anime Hello Kitty. Harganya pun sangat murah, mulai dari Rp 2 ribu sampai Rp 10 ribu saja.
SUvenir-suvenir itu tampaknya juga menggoda para bule untuk membawanya pulang. Tak sedikit dari mereka yang penasaran dan membelinya.
5. Duduk di pinggir kawah
(Afif/detikTravel)
|
Para bule memang terkenal suka melakukan hal-hal ekstrim. Seperti bule ini misalnya, dia duduk di pinggiran kawah tanpa pengaman sama sekali. Walau tidak terlalu curam, tapi bisa saja dia jatuh merosot ke bawah kalau salah memijakan kaki.
Dia malah terlihat tampak tenang-tenang saja. Dia betah duduk berlama-lama memandangi Kawah Ijen yang ada persis di depan mata.
Tak sedikit para bule yang datang ke Kawah Ijen membawa pasangannya. Meski pendakian cukup melelahkan, banyak bule dan pasangannya yang berhasil ke puncak untuk melihat Kawah Ijen dari dekat.
Kegiatan yang sering mereka lakukan adalah berfoto selfie bersama pasangannya. Banyak titik-titik bagus untuk berfoto selfie di Kawah Ijen, dari lanskap kawah sampai langit biru bersih dan gumpalan awan putih.
Yang patut diancungi jempol, para bule yang berfoto selfie bersama pasangannya tetap menjaga tata krama. Mereka berfoto sewajarnya karena menghargai norma-norma masyarakat setempat dan wisatawan lokal.
Faktanya, bule-bule yang trekking ke Kawah Ijen tak mengenal umur. Dari bule muda sampai yang sudah manula, semuanya trekking ke puncak Gunung Ijen untuk melihat kawahnya dari dekat. Salut!
Meski jarak yang dilalui mencapai 3 km dan medan jalan yang mendaki sejauh 200 meter, tidak menyurutkan semangat bule-bule manula. Mereka rela berjam-jam di jalan untuk tiba di atas puncak dan melihat Kawah Ijen di depan mata. Masa mau kalah sama mereka?
Para turis yang datang ke Kawah Ijen paling suka menghabiskan waktu dengan berburu foto. Biasanya, mulai pukul 07.00 WIB adalah waktu terbaik untuk memotret sudut-sudut cantik Kawah Ijen. Cahaya matahari saat itu sudah cukup terik.
Ada juga turis yang berburu foto api biru di dasar Kawah Ijen. Kalau fenomena ini hanya terlihat dari mulai dinihari, sekitar pukul 03.00 WIB sampai matahari terbit. Tapi kalau untuk memotret api biru, mereka harus membawa peralatan pencahayaan untuk mendapat hasil terbaik.
Para penambang belerang di Kawah Ijen menjajakan aneka suvenir khas yang menggemaskan. Suvenir tersebut adalah cetakan belerang dengan berbagai rupa, dari kura-kura, mobil, kepiting, hingga berbentuk anime Hello Kitty. Harganya pun sangat murah, mulai dari Rp 2 ribu sampai Rp 10 ribu saja.
SUvenir-suvenir itu tampaknya juga menggoda para bule untuk membawanya pulang. Tak sedikit dari mereka yang penasaran dan membelinya.
Para bule memang terkenal suka melakukan hal-hal ekstrim. Seperti bule ini misalnya, dia duduk di pinggiran kawah tanpa pengaman sama sekali. Walau tidak terlalu curam, tapi bisa saja dia jatuh merosot ke bawah kalau salah memijakan kaki.
Dia malah terlihat tampak tenang-tenang saja. Dia betah duduk berlama-lama memandangi Kawah Ijen yang ada persis di depan mata.
(aff/aff)
Komentar Terbanyak
Saat Gibran Ikut Memikul Salib Paskah di Kupang
Setuju Nggak, Orang-orang Jepang Paling Sopan?
Bayangkan Hidup Tanpa Matahari: Kisah Desa dengan Hujan 'Abadi'