Nonton Atraksi Wisata Gratis di 5 Festival Ini

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Travel Highlight Wisata Gratis

Nonton Atraksi Wisata Gratis di 5 Festival Ini

- detikTravel
Kamis, 27 Nov 2014 07:55 WIB
Nonton Atraksi Wisata Gratis di 5 Festival Ini
(detikFoto)
Jember - Bicara soal wisata gratis, asyiknya datang ke festival-festival yang ada di tiap daerah di Indonesia. Berikut 5 festival yang bisa Anda datangi tanpa perlu merogoh kocek untuk menontonnya dan populer di kalangan traveler.

Disusun detikTravel, Kamis (27/11/2014) berikut 5 festival wisata gratis yang bisa masuk agenda traveling Anda selanjutnya:

1. Jember Fashion Carnival, Jember

(detikFoto)
Anda adalah traveler yang suka karnaval? Wajib datang ke Jember Fashion Carnival di Jember, Jawa Timur. Sudah berlangsung sejak tahun 2008, inilah karnival yang meriah dengan parade kostum dari berbagai wilayah di Indonesia.

Selama perayaan Jember Fashion Carnival, jalanan di pusat kota yang sepanjang lebih dari 3 km ditutup. Jalanan itu berubah jadi catwalk ratusan peserta karnival yang melenggak-lenggok dengan aneka kostum yang berwarna-warni. Tak sampai di situ, hiasan kostumnya yang kebanyakan menempel di punggung peserta tingginya bisa lebih dari 2 meter. Tak hanya itu, para peserta ada juga yang menari.

Biasanya, Jember Fashion Carnival berlangsung pada pertengahan tahun. Cek saja, situs resmi Jember Fashion Carnival untuk tahu update acaranya di tahun depan ya!

2. Upacara Kasada, Probolinggo

(Hacantya Yudanagara/d'Traveler)
Sudah pernah dengar Upacara Kasada? Inilah ritual adat di Kawah Gunung Bromo, Jatim yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu dan dilakukan oleh Suku Tengger yang ada di sekitar Pasuruan, Probolinggo, Malang, dan Lumajang. Upacara ini biasanya berlangsung pada awal bulan Agustus.

Upacara Kasada adalah bentuk persembahan kepada Sang Hyang Widhi, sebutan untuk Tuhan bagi umat Hindu. Saat itulah, mereka melemparkan hasil bumi yang berasal dari sawah dan perkebunan ke dalam Kawah Gunung Bromo.

Dalam sejarah di balik Upacara Kasada, Suku Tengger diyakini merupakan keturunan dari Rara Anteng (putri Raja Majapahit) dan Jaka Seger (putra Brahmana). Kedua pasangan itu ternyata tidak punya anak selama bertahun-tahun, yang akhirnya bersemedi kepada Sang Hyang Widhi untuk dikaruniai anak.

Permintaan mereka dikabulkan, tapi ada syaratnya. Mereka harus mengorbankan putra bungsunya ke Kawah Gunung Bromo. Hingga mereka berdua punya 25 anak, syaratnya tidak dilakukan juga. Sang Hyang Widhi pun marah, lalu Gunung Bromo meletus dahsyat.

Anak bungsu mereka, Kesuma pun minta dikorbankan. Walau, kedua orang tuanya sangat berat untuk mengorbankan Kesuma karena dia begitu gagah dan jadi kesayangan. Dari situlah, hingga kini Upacara Kasada terus berlangsung dan dipertahankan oleh Suku Tengger.

3. Grebeg Maulud, Yogyakarta

(Harry Septian/d'Traveler)
Masyarakat Yogya punya tradisi khas dalam setiap perayaan hari raya Maulid Nabi Muhammad atau peringatan kelahiran Nabi Muhammad, yang bernama Grebeg Maulud. Asal tahu saja, tradisi ini sudah dilangsungkan sejak masa Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Dalam Grebeg Maulud, ada beberapa gunungan yakni suatu tumpukan dari hasil bumi seperti sayur mayur, beras ketan, gula jawa, dan lainnya. Gunungan-gunungan tersebut bakal ditempatkan di beberapa titik seperti di Alun-alun Utara, Masjid Agung Gedhe Kauman, serta Bangsal Kepatihan (DPRD Yogyakarta).

Setelah didoakan dan dilakukan prosesi dari pihak Keraton Yogyakarta, gunungan akan diserbu oleh masyarakat setempat. Mereka rela untuk berdesak-desakan, dorong-dorongan dan saling naik ke badan orang lain agar mendapat bagian dari gunungan.

Mereka percaya, isi gunungan tersebut dianggap membawa berkah. Meski begitu, wisatawan boleh percaya boleh tidak. Yang pasti, suasana sangat heboh, meriah dan menegangkan ketika masyarakat setempat saling berebut gunungan. Siapkan kamera, karena kapan lagi bisa nonton tradisi yang terkenal ini!

4. Festival Bau Nyale, Lombok

(Shafa/detikTravel)
Festival yang paling tersohor di Lombok, tentu saja adalah Festival Bau Nyale. Dalam bahasa setempat, suku Sasak, Bau berarti menangkap, sedangkan Nyale adalah cacing laut yang biasa hidup di lubang-lubang batu karang.

Jadi, Festival Bau Nyale adalah acara menangkap cacing laut yang dilakukan masyarakat setempat. Biasanya sekitar bulan Februari-Maret tiap tahunnya dan dilangsungkan di pantai-pantai kawasan selatan Lombok.

Festival tersebut rupanya sarat dengan legenda. Dikisahkan, nyale diyakini merupakan penjelmaan dari Puteri Mandalika dari Kerajaan Johor di Lombok Tengah yang cantik jelita. Dia lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan menceburkan diri ke laut daripada harus menyakiti hati banyak pangeran dari kerajaan tetangga yang ingin mempersuntingnya.

Putri Mandalika lalu menjelma sebagai cacing yang sangat banyak agar lebih bermanfaat bagi rakyat Lombok. Setelah itu mitos menyebutkan, bagi petani yang menangkap nyale dan menaruhnya di sawah, maka sawah tersebut akan menjadi subur. Mitos lain menyebutkan, siapa saja yang memakan nyale maka akan enteng jodoh.

Terlepas dari itu, festival ini sungguh unik. Bahkan, tak sedikit turis mancanegara yang ikut Festival Bau Nyale lho!

5. Festival Cap Go Meh Singkawang, Singkawang

(Utami Widowati/detikTravel)
Festival Cap Go Meh Singkawang berlangsung di Kota Singkawang, yang berjarak 145 km ke arah utara dari Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Mungkin, inilah festival yang gratis tapi hanya bisa ditonton oleh traveler yang 'kuat mental'.

Festival ini berlangsung pada hari ke-15 setelah Tahun Baru China, yang berarti merupakan salah satu perayaan Imlek. Puncak festivalnya adalah ritual Tatung yang bertujuan untuk mengusir kemalangan.

Tatung adalah media dalam ritual perayaan Cap Go Meh untuk menolak roh-roh jahat. Selama ritual Tatung, peserta yang akan dirasuki oleh arwah akan mengalami ketidaksadaran sehingga mereka mampu melakukan tindakan yang luar biasa dan bahkan di luar nalar manusia, seperti menginjak pedang, menusukkan kawat baja atau paku ke pipi mereka dan ajaibnya para tatung tidak kesakitan sama sekali.

Berani lihat?
Halaman 2 dari 6
Anda adalah traveler yang suka karnaval? Wajib datang ke Jember Fashion Carnival di Jember, Jawa Timur. Sudah berlangsung sejak tahun 2008, inilah karnival yang meriah dengan parade kostum dari berbagai wilayah di Indonesia.

Selama perayaan Jember Fashion Carnival, jalanan di pusat kota yang sepanjang lebih dari 3 km ditutup. Jalanan itu berubah jadi catwalk ratusan peserta karnival yang melenggak-lenggok dengan aneka kostum yang berwarna-warni. Tak sampai di situ, hiasan kostumnya yang kebanyakan menempel di punggung peserta tingginya bisa lebih dari 2 meter. Tak hanya itu, para peserta ada juga yang menari.

Biasanya, Jember Fashion Carnival berlangsung pada pertengahan tahun. Cek saja, situs resmi Jember Fashion Carnival untuk tahu update acaranya di tahun depan ya!

Sudah pernah dengar Upacara Kasada? Inilah ritual adat di Kawah Gunung Bromo, Jatim yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu dan dilakukan oleh Suku Tengger yang ada di sekitar Pasuruan, Probolinggo, Malang, dan Lumajang. Upacara ini biasanya berlangsung pada awal bulan Agustus.

Upacara Kasada adalah bentuk persembahan kepada Sang Hyang Widhi, sebutan untuk Tuhan bagi umat Hindu. Saat itulah, mereka melemparkan hasil bumi yang berasal dari sawah dan perkebunan ke dalam Kawah Gunung Bromo.

Dalam sejarah di balik Upacara Kasada, Suku Tengger diyakini merupakan keturunan dari Rara Anteng (putri Raja Majapahit) dan Jaka Seger (putra Brahmana). Kedua pasangan itu ternyata tidak punya anak selama bertahun-tahun, yang akhirnya bersemedi kepada Sang Hyang Widhi untuk dikaruniai anak.

Permintaan mereka dikabulkan, tapi ada syaratnya. Mereka harus mengorbankan putra bungsunya ke Kawah Gunung Bromo. Hingga mereka berdua punya 25 anak, syaratnya tidak dilakukan juga. Sang Hyang Widhi pun marah, lalu Gunung Bromo meletus dahsyat.

Anak bungsu mereka, Kesuma pun minta dikorbankan. Walau, kedua orang tuanya sangat berat untuk mengorbankan Kesuma karena dia begitu gagah dan jadi kesayangan. Dari situlah, hingga kini Upacara Kasada terus berlangsung dan dipertahankan oleh Suku Tengger.

Masyarakat Yogya punya tradisi khas dalam setiap perayaan hari raya Maulid Nabi Muhammad atau peringatan kelahiran Nabi Muhammad, yang bernama Grebeg Maulud. Asal tahu saja, tradisi ini sudah dilangsungkan sejak masa Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Dalam Grebeg Maulud, ada beberapa gunungan yakni suatu tumpukan dari hasil bumi seperti sayur mayur, beras ketan, gula jawa, dan lainnya. Gunungan-gunungan tersebut bakal ditempatkan di beberapa titik seperti di Alun-alun Utara, Masjid Agung Gedhe Kauman, serta Bangsal Kepatihan (DPRD Yogyakarta).

Setelah didoakan dan dilakukan prosesi dari pihak Keraton Yogyakarta, gunungan akan diserbu oleh masyarakat setempat. Mereka rela untuk berdesak-desakan, dorong-dorongan dan saling naik ke badan orang lain agar mendapat bagian dari gunungan.

Mereka percaya, isi gunungan tersebut dianggap membawa berkah. Meski begitu, wisatawan boleh percaya boleh tidak. Yang pasti, suasana sangat heboh, meriah dan menegangkan ketika masyarakat setempat saling berebut gunungan. Siapkan kamera, karena kapan lagi bisa nonton tradisi yang terkenal ini!

Festival yang paling tersohor di Lombok, tentu saja adalah Festival Bau Nyale. Dalam bahasa setempat, suku Sasak, Bau berarti menangkap, sedangkan Nyale adalah cacing laut yang biasa hidup di lubang-lubang batu karang.

Jadi, Festival Bau Nyale adalah acara menangkap cacing laut yang dilakukan masyarakat setempat. Biasanya sekitar bulan Februari-Maret tiap tahunnya dan dilangsungkan di pantai-pantai kawasan selatan Lombok.

Festival tersebut rupanya sarat dengan legenda. Dikisahkan, nyale diyakini merupakan penjelmaan dari Puteri Mandalika dari Kerajaan Johor di Lombok Tengah yang cantik jelita. Dia lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan menceburkan diri ke laut daripada harus menyakiti hati banyak pangeran dari kerajaan tetangga yang ingin mempersuntingnya.

Putri Mandalika lalu menjelma sebagai cacing yang sangat banyak agar lebih bermanfaat bagi rakyat Lombok. Setelah itu mitos menyebutkan, bagi petani yang menangkap nyale dan menaruhnya di sawah, maka sawah tersebut akan menjadi subur. Mitos lain menyebutkan, siapa saja yang memakan nyale maka akan enteng jodoh.

Terlepas dari itu, festival ini sungguh unik. Bahkan, tak sedikit turis mancanegara yang ikut Festival Bau Nyale lho!

Festival Cap Go Meh Singkawang berlangsung di Kota Singkawang, yang berjarak 145 km ke arah utara dari Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Mungkin, inilah festival yang gratis tapi hanya bisa ditonton oleh traveler yang 'kuat mental'.

Festival ini berlangsung pada hari ke-15 setelah Tahun Baru China, yang berarti merupakan salah satu perayaan Imlek. Puncak festivalnya adalah ritual Tatung yang bertujuan untuk mengusir kemalangan.

Tatung adalah media dalam ritual perayaan Cap Go Meh untuk menolak roh-roh jahat. Selama ritual Tatung, peserta yang akan dirasuki oleh arwah akan mengalami ketidaksadaran sehingga mereka mampu melakukan tindakan yang luar biasa dan bahkan di luar nalar manusia, seperti menginjak pedang, menusukkan kawat baja atau paku ke pipi mereka dan ajaibnya para tatung tidak kesakitan sama sekali.

Berani lihat?

(fay/fay)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads