Kuartal terakhir 2014 di sebuah persimpangan Havana, Kuba. Pria dengan kamera film Leica MP menyusuri jalanan di negara cerutu tersebut. Beberapa kali ia mengokang kamera, mengarahkan pada mobil-mobil kuno yang bersliweran dengan latar kota Havana yang nyentrik. Lain waktu, ia memicingkan mata ke aktivitas warga kota yang sangat sangat ramah dan tidak terganggu dengan kehadiran orang asing menenteng kamera.
"Akhirnya kesampean. Saya memang sudah lama cita-cita ingin ke Kuba karena menurut saya Kuba negara yang sangat unik dan menarik," kata Benny Asrul, fotografer film sekaligus penggila traveling saat berbincang dengan detikTravel, Minggu (8/2/2015).
Saking senangnya, Benny sampai perlu menghabiskan waktu 10 hari tinggal di negeri Che Guevara. Sebuah kota yang menurutnya sangat orisinil dan berwarna.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk merealisasikan mimpinya, Benny meriset jauh-jauh hari soal Havana terutama untuk akomodasi dan itinerary. Ia juga mengontak KBRI di Havana guna menambah informasi yang terbatas.
"Sebelum saya ke sana, saya pelajari. Sudah membuat itterary sendiri. Jadi begitu sampai, saya sampai sudah malam nggak bisa kemana-mana, pagi-pagi saya jalan kaki dulu," ucap Benny yang menggunakan rute Singapura-Prancis-Havana.
Sesampainya di Havana, Benny melakukan orientasi medan. Menikmati lingkungan tempat ia tinggal sambil di negeri Che Guevara itu. Beruntunglah, biaya hidup di sana tidak mahal, mirip-mirip di Jakarta.
"Saya jalan kaki dulu melihat-lihat sekitar tempat tinggal. Itu sambil saya pelajari karakteristiknya. Terus itu ya sudah, sudah terbayang hari ini mau kemana, besok kemana. Saya ada itinerary tapi sefleksibel mungkin," tandas WNI yang sehari-hari bekerja di Singapura tersebut.
Guna menghemat pengeluaran, Benny menyewa satu mobil dengan sopir yang hanya bisa berbahasa Spanyol. Ia pun agak kerepotan jika tidak ada teman satu trip yang bisa berbahasa Spanyol meski patah-patah. Kalaupun ada kondisi mendesak, Benny sudah siap-siap menelpon KBRI Havana yang dari awal berangkat sudah banyak membantu.
"Saya menyewa mobil dengan satu orang supir jadi saya lebih murah mau kemana-kemana. Tapi biasanya saya mau suatu daerah saya jalan kaki dulu. Kalau mau pindah ke daerah lain yang agak jauh baru saya memakai mobil," paparnya.
"Sopirnya juga nggak bisa bahasa Inggris. Di sana semua orang pakai bahasa Spanyol. Yang saya lakukan ya dengan teman saya yang bisa sedikit bahasa Spanyol," tukas Benny yang menyatakan warga lokal sangat ramah dan tidak canggung dengan orang asing yang menenteng kamera.
Hasilnya, Benny menghabiskan 12 roll film Velvia 50 untuk 10 hari tinggal di Havana. 300-an frame foto tersebut ia sortir hingga memperoleh 14 foto terbaik. Foto-foto itulah yang ia pamerkan untuk pertama kali Galeri Leica Store, Plasa Senayan Jakarta. Pameran sejak 4 Februari lalu akan berlangsung hingga pertengahan Maret mendatang.
"Kalau yang dipamerkan di sini masuk kelompok cityscape yang menonjolkan orang dengan lingkungannya, toko, ruko. Saya ingin menceritakan seperti apa di Kuba. Negara yang tertutup, di embargo Amerika ternyata. Bebas memotret, tidak ada polisi di jalan dan larangan-larangan," ucap Benny yang mencetak foto pamerannya dengan teknik yang sudah langka dan hampir punah, Cibachrome.
(sst/sst)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Agar Turis Betah, Pemerintah Malaysia Minta Warga Lebih Ramah