Selain punya deretan pantai eksotis, Lombok diberkahi keragaman budaya. Salah satunya adalah tradisi kawin lari yang dilakukan oleh suku Sasak di sana. Disebut-sebut tidak ada duanya!
Jangan menilai negatif saat membaca judul di atas. Kawin lari yang dimaksud, bukanlah pernikahan diam-diam akibat hubungannya tidak direstui oleh orang tua. Walaupun, kawin lari di Lombok ini memang bisa dibilang penculikan.
"Jadi, pegantin pria akan menculik gadis pujaannya tanpa sepengetahuan orang tuanya," ujar pemandu wisata di Lombok, Surya kepada saya beberapa waktu lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pria hanya menyembunyikan gadisnya saja, yang mana saat itu si gadis juga dikenalkan ke keluarganya. Tentu, tidak boleh berbuat apapun mereka berdua," papar Surya.
Yang menarik, jika ada orang tua yang anak gadisnya tidak pulang sehari semalam, bisa dipastikan anak itu telah diajak kawin lari. Pihak orang tua pun tidak cemas.
Proses selanjutnya, sang pria akan bertemu tetua adat di kawasan tempat tinggal si gadis. Itu bertujuan sebagai pemberitahuan kepada calon mertuanya.
"Lalu, besoknya pengantin pria dan wanita akan berjalan ke rumah si wanita dengan cara diarak berjalan kaki. Mereka dirias layaknya pengantin, yang disertai rombongan pemusik yang memainkan lagu-lagu daerah agar memeriahkan suasana," ungkap Surya.
Ketika itu, mobil atau kendaraan lain yang melintas di jalanan harus menepi. Beberapa orang mengatur lalu lintas, agar arak-arakan tersebut bisa tiba sampai selamat di rumah orang tua gadisnya. Asal tahu saja, biaya arak-arakan tersebut tidaklah murah. Sang pria harus menyewa banyak orang untuk bermain alat musik. Bahkan, disediakan sound system juga untuk
Jika orangtua si gadis setuju dengan pria yang akan menikahi anaknya, mereka akan memberi tanda dengan cara membasuh kaki priatersebut dengan air sirup atau air kelapa. Sementara jika tidak setuju, disimbolisasikan dengan membasuh menggunakan air tajin.
"Kalau sudah ditolak tapi prianya ngotot, maka diberi mahar yang tinggi. Itu semata-mata agar anak gadis itu bisa diperlakukan dengan baik," kata Surya.
Rombongan saya saat itu memang tidak melihat prosesi kawin lari sampai habis. Sebab, kami harus melanjutkan perjalanan ke kaki Gunung Rinjani untuk mendatangi air terjun Sendang Gile.
Tapi tak mengapa, melihat tradisi kawin lari jadi hal baru yang saya ketahui dari Pulau Seribu Masjid ini. Asyiknya, wisatawan bebas berfoto-foto kalau kebetulan melihat arak-arakan kawin lari di jalan. Namun ingat, untuk menepikan kendaraan Anda ya!
"Bagi pria suku Sasak, menculik wanita adalah tindakan kesatria yang lebih terhormat dibanding melamar langsung. Tradisi ini cuma ada di Lombok saja," pungkas Surya sembari bus rombongan saya melanjutkan perjalanan. (aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong