detikTravel menikmati kemeriahan Imlek di Selatpanjang, Pulau Tebing Tinggi, pusat Kabupaten Kepulauan Meranti dari Selasa malam hingga Rabu pagi (23-24/2/2015). Pusat kegiatan perayaan Imlek hari ke-5 dan hari ke-6 ada di Vihara Sejahtera Sakti alias Kelenteng Hoo Ann Kiong yang sudah berumur 147 tahun.
Agenda perayaan Imlek dari malam sampai pagi adalah persembahyangan Dewa Toa Pe Kong, penyalaan kembang api dan petasan sampai tengah malam. Sementara umat Konghucu berdoa di kelenteng.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BACA JUGA: Surprise! Kab Meranti Punya Tradisi Perang Air Lebih Heboh dari Thailand
Di depan kelenteng ada lapangan cukup besar yang menghadap ke selat yang memisahkan Pulau Tebing Tinggi dan Pulau Rangsang. Lapangan itu dipasangi puluhan dupa raksasa setinggi 4 meter yang dijejerkan rapi.
Pukul 21.00 WIB dimulailah pesta kembang api. Jalanan di depan kelenteng dikosongkan dan ada 6 kota kembang api sebesar kardus air mineral. Sementara polisi mengamankan ratusan warga Tionghoa dan Melayu yang menonton dalam radius 5 meter dari kembang api.
Duarrrrrr! Duarrrr! Cetarrrr! Cetarrrrr! Kembang api raksasa suaranya membahana, bunga apinya dengan indah menghiasi langit malam di Selatpanjang. Selanjutnya, warga menyiapkan petasan China yang panjang merembet berwarna merah itu.
"Pasang petasannya bisa sampai tengah malam," kata seorang warga. Ah bagaimana mungkin? Memangnya seberapa banyak petasannya?
Ternyata memang luar biasa banyak, entah berapa puluh kardus dan setiap kardusnya bisa ada puluhan petasan China yang digulung rapi. Retetetetet! Retetetet! Petasan China yang digelar di tengah jalan merembet liar tidak karuan. Habis satu rantai panjang, datang lagi yang lain.
BACA JUGA: Desa Wisata di Kep Meranti, Punya Pohon Durian 100 Tahun
Kuping saya sampai tuli dibuatnya. Menjelang tengah malam, saya angkat tangan. Mata ini tak kuat menahan kantuk. Namun warga Selatpanjang masih bersemangat menyalakan petasan. Retetetet! Retetetet! Hingga saya masuk kamar hotel, suara petasan itu masih sayup-sayup terdengar.
Saya kembali ke lokasi pada Rabu dini hari pukul 05.00 WIB. Suara petasan sudah berhenti. Yang tersisa adalah kertas bekas petasan yang menggunung di depan kelenteng. Wow! Habis berapa puluh kardus nih?
Suasana dini hari itu lebih khusyuk dari pada malam kemarin. Puluhan dupa raksasa sudah dinyalakan dan asapnya mengepul ke langit pagi. Di belakang deretan dupa ini, sebuah perapian sudah dinyalakan. Warga membakar kertas doa ke dalam perapian yang apinya menjilat-jilat.
Altar dengan berbagai sesajian termasuk kambing dan babi sudah disiapkan. Untuk hari Rabu, agendanya adalah arak-arakan dewa berkeliling kawasan di sekitar kelenteng. Tandu-tandu untuk membawa patung dewa sudah dijejerkan dengan rapi dan sudah dihias.
Pawai dimulai pukul 07.00 WIB, suasananya seperti pawai Cap Go Meh di Singkawang. Sayang saya tidak bisa berlama-lama. Speedboat untuk pulang via Pekanbaru sudah menunggu di pelabuhan.
BACA JUGA: Bertualang ke Kepulauan Meranti, Naik Speedboat Saja
(fay/aff)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru