Museum Kata Andrea Hirata & Inspirasi Mark Twain
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Museum Kata Andrea Hirata & Inspirasi Mark Twain

- detikTravel
Minggu, 15 Mar 2015 16:15 WIB
Museum Kata Andrea Hirata & Inspirasi Mark Twain
(Rini/detikTravel)
Belitung Timur - Museum Kata milik novelis 'Laskar Pelangi' Andrea Hirata adalah destinasi wajib para penggemarnya dan wisatawan yang berlibur ke Pulau Belitung. Museum ini rupanya terinspirasi museum sejenis di Amerika Serikat.

Museum Kata sudah berdiri sejak 5 tahun yang lalu dan berhasil menarik wisatawan hingga 250 ribu orang per tahunnya. Andrea mengaku mendapatkan inspirasi membangun Museum Kata dari museum si pengarang The Adventure of Tom Sawyer, Mark Twain.

"Kalau Anda tanya referensi museum ini, adalah Mark Twain Museum di Hannibal, Missouri, AS. Saya kesana dua bulan untuk mempelajari itu," ujarnya kepada wartawan usai menerima rombongan Menpar dan Menko Maritim di Museum Kata miliknya di Desa Gantong, Belitung Timur, Sabtu (14/3/2015) sore.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dirinya terinspirasi dari Mark Twain Museum karena desain interiornya yang dianggap 'bercerita'. Beberapa ilustrasi dari cuplikan novel disajikan secara nyata sehingga pengunjung dapat membayangkan visualisasi dari adegan yang ada di dalam novel.
Β 
"Kenapa Hannibal memiliki literary yang hebat? Karena β€ŽHannibal lah setting buku The Adventure of Tom Sawyer. Kalau Anda tertarik mendalami tulisan ini pergilah ke Hannibal, belajar membuat ini kesana," kata dia.

Meski terinspirasi, menurut Andrea Museum Kata miliknya dua kali lipat lebih besar dari Mark Twain Museum. Karena selain menceritakan visualisasi novel dan film Laskar Pelangi, museum sastra ini juga menyimpan ratusan judul buku terkenal dari seluruh dunia.

"Kalau saya lihat ini dua kali lipat dari Mark Twain Museum. Di Mark Twain museum hanya menceritakan tentang Mark Twain, kalau disini, sayang waktu Anda terbatas ya, di belakang sana ada edisi pertama In the Name of the Rose karya Umberto Eco. Saya punya beli di pasar loak di London," kata dia sambil menunjuk ke sebuah ruangan mirip perpustakaan.

"Di sini juga punya 5 karya literary art pelukis sastra dari Ubud tapi saya tak kasih label karena takut hilang, karena kami tidak punya dana untuk bayar satpam. Kalau datang ke kantor langsung ke sini mampir tak ada yang jaga. Di sini ada 76 lukisan, yang berasal dari karya-karya novel, banyak kucing kan? Nah itu terinspirasi dari novel," tutupnya.

(sst/sst)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads