Pulau Reunion Dijuluki 'Tempat yang Apes'
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Pulau Reunion Dijuluki 'Tempat yang Apes'

Afif Farhan - detikTravel
Senin, 03 Agu 2015 15:30 WIB
Pulau Reunion Dijuluki Tempat yang Apes
Lava yang keluar dari Gunung Piton de la Fournaise (AFP)
Saint-Denis -

Pulau Reunion mendadak terkenal, karena di sana ditemukan puing-puing yang diduga Malaysia Airlines MH 370 yang hilang sejak 2014 lalu. Pulau di Samudera Hindia ini dijuluki 'pulau yang apes' karena kerap terjadi bencana dari gunung meletus, sampai penemuan puing pesawat tersebut.

Puing-puing seperti sayap pesawat dan logam ditemukan di perairan di sekitar kota Saint Andre pada pekan lalu. Hingga kini, puing-puing tersebut sudah dibawa ke Perancis dan diteliti lebih lanjut.

Jika sebelumnya, Anda sudah mengenal tentang Pulau Reunion sebagai destinasi wisata (baca di sini untuk artikel selengkapnya) ternyata ada fakta lain yang mencengangkan. Pulau ini dinilai apes karena kerap diwarnai bencana, meski lanskap alamnya sangat indah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada dua alasannya. Pertama adalah karena di sana terdapat Piton de la Fournaise yang merupakan salah satu gunung berapi paling aktif di dunia. Satu lagi, serangan hiu di kawasan pesisirnya.

Baru-baru ini, seperti dilansir situs BBC yang dilihat detikTravel, Senin (3/7/2015) Gunung Piton de la Fournaise sedang erupsi. Lava pun muncrat ke udara dan asap membumbung tinggi. Aliran lavanya mengalir sampai ke lautan!

Tercatat, tiga kali sudah Gunung Piton de la Fournaise erupsi di tahun 2015. Bahkan, 170 letusan besar sudah terjadi sejak abad ke-17 oleh gunung tersebut.

Jika sudah erupsi, maka penerbangan ke Pulau Reunion akan terganggu. Begitu pula masyarakatnya yang tinggal di dekat Gunung Piton de la Fournaise, harus siap-siap angkat kaki demi keselamatan diri.

Walau Gunung Piton de la Fournaise merupakan destinasi wisata, pemerintah setempat benar-benar mengutamakan keselamatan. Karena kini sedang erupsi, maka tanpa pengecualian seluruh turis dilarang mendaki gunungnya!

Kedua soal serangan hiu. Tercatat, terjadi serangan hiu sebanyak 18 kali dalam 4 tahun terakhir. Tujuh kali masuk dalam kategori fatal, yang salah satunya seorang turis cilik kehilangan nyawanya di bulan April kemarin.

Bagi traveler penggila surfing, Pulau Reunion memang memiliki ombak yang sangat menantang. Paling tidak, rata-rata tiap tahun ombak di sana setinggi 5 meter.

Soal serangan hiu dan surfing, ternyata beberapa selancar juga diserang karnivora laut tersebut. Malah ditahun 2013, pemerintah setempat harus memberlakukan peraturan yang memancing kontroversi. Peselancar tidak boleh surfing sembarangan!

Para peselancar hanya boleh surfing di kawasan-kawasan yang sudah disediakan, yang kebanyakan dekat dengan laguna. Jika tidak, bisa dikenakan denda sebesar 38 Euro atau setara Rp 563 ribu. Jangan salah, mata uang Euro merupakan mata uang resmi di sana.

Peraturan yang dikeluarkan sejak tahun 2013 lalu, hingga kini masih berlaku. Namun, beberapa turis tidak mengindahkannya dan tetap berselancar bebas di lautan. Mereka masih mau mencari ombak yang super menantang. Padahal sudah jelas, peraturannya bertujuan untuk menyelamatkan turis dari serangan hiu.

Dua hal tersebut menjadi hambatan bagi pariwisata di Pulau Reunion. Yang terakhir, soal puing-puing pesawat yang diduga milik Malaysia Airlines MH 370 yang ditemukan disana, makin banyak saja yang mengecap pulaunya sebagai 'unluckiest place in the world?'.

(aff/aff)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads