Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 10 Agu 2015 14:50 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Apa Hubungan Suku Bajo di Wakatobi dan Lumba-lumba?

Bahtiar Rivai
detikTravel
Desa unik di atas karang (Bahtiar/detikTravel)
Wakatobi - Di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, selain diving wisatawan juga bisa berkenalan dengan Suku Bajo. Tampak sederhana, tapi mereka adalah para pengembara lautan. Tahukah kamu, ada kaitan khusus antara Suku Bajo dan lumba-lumba.

Selain termashur dengan keindahan alam bawah laut segi tiga karang dunia, Wakatobi juga memiliki komunitas Suku Bajo terbesar di Asia Tenggara bahkan dunia. Suku ini adalah pengembara dan dikenal sebagai orang yang hidup berpindah-pindah di laut.

Lagu 'Nenek Moyangku Seorang Pelaut' lekat dengan keseharian mereka. Mereka biasa disebut sebagai Sea Gypsy karena ketergantungan mereka terhadap laut.

Saat ini, pemukiman Suku Bajo terbesar ada di Wakatobi. Mereka tersebar di Mola Raya, Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi. Sebagai suku laut, mereka mendirikan rumah di atas karang yang tersebar di Mola Bahari, Mola Utara, Mola Samaturu, Mola Selatan dan Mola Nelayan Bhakti.

Bersama rombongan British Council, Bank Mandiri dan beberapa traveler, detikTravel sepanjang akhir pekan kemarin ikut dalam perjalanan mengenal suku pengembara lautan ini. Pengetahuan mereka terhadap laut, dan rumah tinggal di atas karang adalah ciri tersendiri Suku Bajo.

Sensasi pertama kekaguman terhadap mereka adalah melihat bagaimana suku ini begitu akrab dengan lumba-lumba. Bajo di Mola biasa menyebut mamalia laut ini dengan sebutan Lummu.

Untuk dapat menyaksikan lumba-lumba, kami kemudian dibawa menggunakan Bodi, perahu besar buatan Suku Bajo ke perairan Pulau Kapota pada pukul 05.00 Wita pagi oleh suku asli Bajo. Lokasi perairan ini adalah lokasi nelayan mencari ikan. Biasanya lumba-lumba di perairan ini muncul pada pagi hari saat mereka sedang mencari tuna.

Yang menarik, Suku Bajo percaya bahwa ketika mereka sedang mencari ikan dan melihat lumba-lumba, itu adalah pertanda. Ketika Lummu Pakorek atau lumba-lumba biasa (Delphinus delphis) muncul, artinya hasil tangkapan akan baik. Namun, ketika muncul jenis Panginta Dayah atau lumba-lumba gigi kasar (Stenno bredanensis) dan menggigit kail pancing, itu adalah sebaliknya.

Ada juga jenis lumba-lumba yang jika muncul pertanda akan datang bala bencana. Jenis ini mereka biasanya menyebutnya Lummu Mapote atau lumba-lumba risso (Grampus griseus). Jika melihat jenis ini, pencari ikan artinya harus kembali ke rumah.

(krn/Aditya Fajar Indrawan)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA