WR Soepratman sebagai pencipta lagu Indonesia Raya menyimpan 2 kisah menakjubkan di Museum Sumpah Pemuda. Ini kisah tentang biola dan tanggal kematiannya yang ajaib.β
Siapa yang tidak mengenal WR Soepratman, pemuda Surabaya sekaligus tokoh pahlawan yang mengarang lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tanpa lagu gubahannya, bisa jadi semangat para pemuda tidak terbakar dan bersatu untuk Indonesia.
Museum Sumpah Pemuda yang berlokasi di Jalan Kramat Raya No 106, Jakpus menjadi saksi sekaligus tempat bersejarah untuk mengenang WR Soepratman. Dahulu, Museum Sumpah Pemuda memang menjadi lokasi Kongres Sumpah Pemuda II pada tahun 192, sekaligus tempat diperdengarkannya lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya dengan biola.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi ceritanya, WR Soepratman pas kongresnya istirahat waktu malam, menyerahkan kertasnya ke ketua kongresnya, Sugondo, minta izin untuk memperdengarkan sama menyanyikan ciptaannya, tapi saat melihat liriknya, hanya diperdengarkan iramanya saja," terang pemandu Museum Sumpah Pemuda yang bernama Bakti pada detikTravel, Jumat (15/8/2015).
Mengapa hanya dinyanyikan iramanya dengan biola dan tanpa lirik? Alasannya adalah keberadaan sejumlah intel dan polisi Belanda yang turut hadir di kongres kala itu. Takutnya apabila dinyanyikan, polisi dapat membubarkan kongres yang sangat penting tersebut.
Di dalam Museum Sumpah Pemuda, traveler dapat menemukan satu ruangan yang didedikasikan khusus untuk WR Soepratman. Di dalamnya tampak biola yang dulu digunakan oleh WR Soepratman, rekaman lagu dalam piringan hitam, serta foto dan kisah hidupnya.
"Ini kita pajang biolanya WR Soepratman, di sini juga ada piringan hitam tahun 1930-an," cerita Bakti.
Selain kisah biola, satu kisah menakjubkan adalah soal akhir hayat WR Soepratman. Perjuangannya harus berakhir di rumahnya di Surabaya saat menjadi tahanan politik. Atas lagunya yang mengobarkan semangat para pemuda Indonesia, WR Soepratman ditangkap dan dijadikan tahanan rumah oleh kolonial Belanda.
Menjadi tahanan rumah, membuat WR Soepratman tertekan. Akibatnya, fisik WR Soepratman kian melemah hingga ia meninggal dunia di rumahnya. Namun satu yang unik, ia meninggal tepat pada 17 Agustus tahun 1938.
"Sayang nggak berumur panjang, jadi tahun 1938 WR Soepratman sudah meninggal lebih dulu. Meninggalnya unik, tanggal 17 Agustus," cerita Bakti.
Percaya tidak percaya, tanggal meninggalnya WR Soepratman begitu mirip dengan tanggal kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, 7 tahun setelahnya. Sungguh besar jasa WR Soepratman dalam perjuangan Indonesia melalui lagu Indonesia Raya.
Mumpung sebentar lagi 17 Agustus, tidak ada salahnya datang ke Museum Sumpah Pemuda untuk memaknai jasa para pahlawan yang telah rela berkorban untuk kemerdekaan Indonesia. Merdeka!
(rdy/Aditya Fajar Indrawan)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru