Tim Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz 2015, saat mendaki Puncak Carstensz, Sabtu (29/8) kemarin, mendapat pengalaman tiada dua. Kami, saya dan Sulung yang merupakan wartawan Sinar Harapan, merasakan hujan salju.
"Di sini (Puncak Carstensz), memang sering hujan salju. Tidak tentu kapan bulannya dan tidak tentu juga bisa siang atau malam," ujar ketua tim pemandu kami, Hendricus Mutter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya kemudian membuka sarung tangan yang berlapis dua, untuk memegang saljunya. Saya genggam dan meremasnya. Rasanya seperti es serut saja.
"Tambahin sirup dan buah, jadi deh es buah," ujar Hendricus bercanda.
Tumpukan-tumpukan salju pun sebenarnya juga terlihat di sekitar Puncak Carstensz. Yang paling banyak, ada di sekitar kawasan 'Kadang Babi' yang berupa jurang dengan kedalaman belasan meter. Kalau diukur dengan GPS, ketinggianya sudah mencapai 4.600-an mdpl.
Selain di Puncak Carstensz, Puncak Jaya, Puncak Sumantri dan Puncak Carstensz Timur yang lokasinya saling berdekatan juga sering terjadi hujan salju. Namun tetap saja, yang spesial adalah salju di Puncak Carstensz yang sebagai salah satu Seven Summit dunia ini.
Begini toh rasanya salju. Putih, dingin, lembut dan mudah hancur begitu digenggam. Bukan di Eropa atau Amerika, tapi beruntungnya saya bisa memegang salju di Indonesia. Yang disebut-sebut, salju khatulistiwa!
Tunggu, cerita memegang salju ini masih secuil kisah dari perjalanan tim Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz 2015. Masih banyak kisah kami yang tak kalah menarik, dari bertemu kepala Suku Moni yang istrinya berjumlah 22, menembus hutan hujan tropis, sampai ada juga merasakan suhu 1 derajat Celcius!
(aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru