Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 19 Sep 2015 09:50 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Jelajah Budaya Super Seru di Tana Toraja

Suasana Tana Toraja (Rangga/detikTravel)
Tana Toraja -

Indonesia sungguh kaya. Itulah kesan jika bertualang seru ke Sulawesi Selatan. Alamnya yang indah dibarengi dengan beragam adat budaya, masih mengental di Tana Toraja.

detikTravel mendapat kesempatan untuk menjelajah bumi Sulawesi di beberapa lokasi. Kali ini, saya ingin membahas wisata budaya di Tana Toraja. Ya, Indonesia benar-benar kaya!

Pertama kali memasuki Tana Toraja, Anda pasti menemukan kerbau, baik kerbau hidup, patung kerbau maupun kepala kerbau lengkap dengan tanduknya. Ada apa ya?

Bukan, masyarakat Tana Toraja bukan mendewakan kerbau. Handoko Widyaputra, yang memandu perjalanan Datsun Risers Expedition di Tana Toraja menyebut, masyarakat Tana Toraja tetap memiliki agama yang mayoritas agama Kristen. Namun, kerbau dianggap sangat berharga bagi masyarakat Toraja.

"Kalau menyangkut kepercayaan, orang Toraja mayoritas kan beragama Kristen, mereka percaya dengan adanya Tuhan. Tapi kerbau berhubungan dengan adat. Kerbau jadi syarat di beberapa upacara adat. Sudah menjadi binatang wajib," kata Handoko.

Wajar saja, banyak simbol kerbau di Tana Toraja. Di beberapa sawah pun terdapat kerbau dengan badan yang kekar. Konon, kalau sudah ada upacara adat, kerbau bisa dijual dengan harga miliaran rupiah.

Itulah sekilas jawaban mengapa banyak simbol kerbau di Toraja. Salah satunya di rumah adat di Toraja yaitu Tongkonan.

Kali ini, saya bersama tim Datsun Risers Expedition mengunjungi desa wisata Kete Kesu. Di desa ini, setidaknya ada enam rumah Tongkonan yang berdiri berjajaran berhadapan dengan lumbung atau disebut Alang dalam istilah Toraja.

"Tongkonan dan Alang berseberangan. Filosofinya yaitu Tongkonan dan Alang adalah satu kesatuan," ujar Handoko.

Nah, Alang itu bukan hanya tempat menyimpan padi, cengkeh atau hasil panen lainnya. Tapi, Alang itu juga biasa digunakan untuk musyawarah.

"Biasanya untuk duduk-duduk, tokoh adat memusyawarahkan sesuatu. Fungsi utama tetap menyimpan padi, cengkeh, cokelat," kata Handoko.

Lalu, di rumah Tongkonan ada jajaran tanduk kerbau dan satu kepala kerbau. Banyaknya tanduk kerbau itu dikatakan menggambarkan strata sosial di Tana Toraja. Semakin banyak tanduk kerbau maka keluarga di rumah itu telah banyak memotong kerbau yang harganya cukup mahal.

Sementara atap rumah Tongkonan bentuknya sangat khas. Menurut Handoko, atap rumah itu terinspirasi dari bentuk kapal laut.

"Itu warisan dari nenek moyang Toraja. Mereka percaya nenek moyangnya datang dari Tiongkok menggunakan kapal. Nah itu terbawa sampai Toraja. Terinspirasi dari perjalanan nenek moyang. Atap rumah menyerupai bentuk kapal," jelas Handoko.

Oh ya, untuk mengunjungi Kete Kesu ini, pengunjung perlu membayar tiket sebesar Rp 10 ribu per orang. Wisata budaya yang satu ini buka dari pukul 08.00 WITA sampai 17.30 WITA.

Perjalanan Datsun Risers Ekspedition di Tana Toraja tak berhenti di Kete Kesu. Kami melanjutkan perjalanan ke Gua Londa yaitu sebuah gua pemakaman marga Tolengke di Toraja.

Jenazah marga Tolengke tidak dikubur di dalam tanah. Tapi, jenazahnya dimasukkan ke dalam peti dan diletakkan di sela-sela Gua Londa. Bahkan, masih banyak tengkorak-tengkorak manusia yang terdapat di dalam gua.

Reny Sarapang sebagai pemadu wisata mengatakan, gua ini adalah salah satu pemakaman tertua di Toraja. Pemakaman Londa ini adalah gua alami tanpa adanya sentuhan manusia. Tapi, bentuk batuan di dalam gua seakan ada pahatan yang indah.

Jenazah di dalam gua ini ada yang berusia ratusan tahun. Paling muda, ada jenazah yang baru meninggal dunia pada tiga pekan lalu. Kesan horor pun hadir ketika saya bersama tim Datsun Risers Ekspedition memasuki mulut Gua Londa.

Peti matinya ada yang disangkut di langit-langit gua, ada juga yang diletakkan di kanan-kiri lorong gua. Meski tidak dikubur di dalam tanah, jenazah di dalam gua ini tidak menimbulkan bau. Maklum, warga Toraja selalu mengawetkan jenazah yang baru meninggal dunia.

"Kalau sekarang pakai formalin, kalau dulu pakai ramuan yang kayak mumi begitu," kata Reny.

Memasuki ke dalam gua, ada sepasang tengkorak manusia yang memiliki cerita romantis, unik, sekaligus horor. Konon, dua tengkorak itu adalah sepasang kekasih yang ingin menikah namun tidak direstui keluarganya. Mereka meninggal karena bunuh diri.

"Mereka mau menikah tapi enggak direstui. Mereka ada hubungan darah. Itu sekitar 45 tahun yang lalu," ujar Reny.

Melirik lebih ke dalam, peti di dalam gua ada yang masih utuh, ada juga yang sudah lapuk. Namun, tengkorak beserta tulang-berulangnya dibiarkan menggeletak.

"Kalau petinya yang sudah hancur ada yang dibiarkan. Karena kalau mau ganti peti lagi harus ada upacara lagi. Harus potong kerbau lagi," kata Reny.

Untuk mengunjungi Gua Londa, wisatawan lokal harus membayar Rp 10 ribu. Sementara wisatawan asing Rp 20 ribu. Warga di sekitar Gua Londa juga menyediakan penerangan untuk masuk Gua Londa dengan biaya Rp 50 ribu per lampu. Berwisata ke Tana Toraja, ada berjuta pengalaman seru yang bisa didapatkan wisatawan sekaligus mengagumi kebudayaan bangsa sendiri.

(rgr/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA