Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 26 Okt 2015 08:50 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Dunia Harus Tahu! Tradisi Luhur Raja Ampat Menjaga Lautan

Kampung Limalas di Raja Ampat (Kurnia/detikTravel)
Raja Ampat - Pesona laut Raja Ampat telah mendunia, hasil lautnya juga melimpah. Kenapa bisa begitu? Karena Raja Ampat memiliki tradisi luhur dalam mengolah hasil laut, sambil tetap menjaga kelestarian alam.

Sasi Laut merupakan peraturan adat dalam mengambil hasil laut. Dalam tradisi Sasi ditentukan masa jeda, di mana warga tidak boleh mengambil sumber daya dari laut dalam waktu tertentu dan di tempat yang telah ditentukan. Dengan adanya Sasi, warga pun lebih bijak dalam pengambilan hasil laut.

Tradisi Sasi Laut masih banyak dilakukan oleh warga Indonesia bagian tengah dan timur, termasuk di Kampung Limalas, Misool Timur, Raja Ampat. Di kampung tersebut, ada enam marga yang melakukan Sasi, yaitu Falon, Fadimpo, Fam, Mjam, Mluy dan Moom.

"Tradisi Sasi itu sejak dulu. Sasi teripang, udang, lola, siput. Kalau udang ada dua jenis, ada udang banana ada lobster," ujar Marthen Falon, kepala marga Falon dalam perbincangan dengan awak media di Kampung Limalas, Raja Ampat, Rabu (21/10/2015) malam.



Marthen menjelaskan bahwa ada wilayah laut yang sudah dibagi untuk pelaksanaan Sasi setiap marga. Ketika tutup Sasi teripang berlangsung misalnya, tidak ada yang boleh mengambil hewan tersebut di wilayah yang sudah ditentukan hingga Sasi dibuka.

"Kita ada batas-batas wilayah. Untuk Falon tutup Sasi teripang dari April. Buka Sasi akhir November tahun ini. Buka Sasi satu minggu saja. Kalau Falon buka Sasi, tidak hanya Falon, semua marga bisa ambil di situ," jelas Marthen.

Selama tutup Sasi teripang, warga harus bersabar untuk memanen ketimun laut itu. Walaupun tutup Sasi berlangsung selama berbulan-bulan, mereka tetap sabar dan mencari pencaharian dari sumber alam lain untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Warga Kampung Limalas memang sadar bahwa Sasi dapat membantu melestarikan alam. Selama tutup Sasi, teripang akan berkembang biak dengan baik dan nantinya hasil panen juga akan lebih banyak. Selain itu, ada kepercayaan bahwa orang yang melanggar Sasi akan dirundung malapetaka.

"Kalau mau tutup Sasi akan didoakan di gereja. Kalau kita mau buka Sasi doa lagi, minta izin lagi baru kita panen. Kalau ambil teripang saat tutup Sasi bisa sakit. Kalau tidak mengaku bisa juga sampai meninggal. Kalau mengaku bisa sembuh," tutur kepala marga itu.



Sasi Laut ini memang sudah turun temurun dilakukan marga Falon dan marga lain di Kampung Limalas. Tapi belum lama ini, pelaksanaan Sasi Laut di Limalas dibantu juga oleh The Nature Conservancy (TNC), atas permintaan warga kampung tersebut. TNC memberikan pemahaman dan melakukan monitoring Sasi berbasis ilmu pengetahuan agar hasilnya lebih maksimal.

"TNC bisa kasih kita pemahaman, cara panen. Kalau dulu teripang diambil semua yang ukuran kecil. Sekarang ada batas ukuran panjang 15 cm ke atas bisa diambil," kata Marthen.

Marthen mengatakan bahwa dengan pelaksanaan Sasi yang terarah, hasil panen diyakini akan lebih banyak. Keuntungan dari menjual teripang yang harga per kilogramnya bisa di atas Rp 1 juta ini juga akan meningkat. Warga pun jadi lebih bersabar dan bersemangat dalam menanti Sasi dibuka.

Nah, selama periode tutup Sasi, biasanya dilakukan monitoring beberapa kali. Salah satu saat yang tepat untuk melihat bagaimana perkembangan teripang yang disasi adalah saat air surut, misalnya ketika dini hari.

Setelah banyak berbincang dengan kepala marga Falon ini, detikTravel pun diajak untuk bersama-sama monitoring Sasi teripang. detikTravel serta rombongan wartawan berjalan ke wilayah Sasi marga Falon bersama Marthen, pihak TNC serta beberapa warga Limalas.



Saat itu waktu menunjukkan hampir pukul 01.00 WIT. Air laut sudah surut dan kami berjalan di pesisir dengan pencahayaan lampu minyak. Tak begitu jauh dari bibir pantai beberapa teripang pun ditemukan. Jika diukur, panjangnya mencapai lebih dari 15 cm, berarti teripang tersebut nantinya bisa diambil.

Saat monitoring, teripang hanya dipantau perkembangannya dan dikembalikan lagi ke laut. Walaupun sudah banyak yang berkembang dengan baik dan besarnya mencukupi untuk dipanen, hewan laut itu belum boleh diambil karena Sasi belum dibuka. Setelah usai monitoring, kami pun beranjak dari laut dan kembali ke tempat menginap.

Buat traveler yang liburan ke Misool, Raja Ampat dan singgah di Kampung Limalas, dapat juga melihat kegiatan monitoring Sasi. Jika datang bertepatan dengan buka Sasi, traveler pun bisa ikut larut dalam keramaian warga setempat yang panen hasil laut.

Sasi Laut sungguh merupakan tradisi luhur yang harus diketahui dunia dan manusia modern yang cenderung rakus dalam mengeksploitasi hasil laut. Lihatlah bagaimana saudara kita bisa menyeimbangkan antara kelestarian lautan dengan fitrah manusia mengolah hasil alam.

Ketika manusia mau bersabar dan menekan hawa nafsu, alam akan membalas dengan karunia berlimpah. Warga Raja Ampat telah membuktikannya.

(krn/arradf)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA