Safari malam mungkin sudah terdengar biasa, tapi di Bali Safari Marine Park traveler bisa merasakan sensasi dikurung dalam kandang sambil memberi makan Singa. Ngeri-ngeri seru!
Selain Taman Safari Indonesia di Cisarua Bogor, kegiatan safari malam juga bisa traveler nikmati di Bali Safari Marine Park. Yang membedakan keduanya, di Bali Safari Marine Park traveler tidak menggunakan mobil pribadi saat bersafari malam, melainkan naik mobil dengan kerangkeng berteralis besi ganda agar aman.
Ya, traveler diharap memarkirkan kendaraan di tempat parkir utama, untuk selanjutnya menggunakan kendaraan truk berteralis besi ini selama kegiatan safari malam. Ini semua keamanan, baik bagi satwa agar tidak mengalami stress berlebih, sekaligus mel;indungi traveler dari satwa karnivor yang aktif saat malam tiba.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendaraan berkerangkeng besi yang digunakan untuk safari malam (Wahyu/detikTravel)
detikTravel bersama rombongan media Safari Journalist Adventure merasakan sendiri sensasi bersafari malam di dalam kendaraan kerangkeng besi ini pada Senin (9/5/2016) lalu. Sayang, dalam kesempatan safari malam yang baru pertama kalinya kami alami ini, hujan deras mengiringi keberangkatan rombongan sekitar pukul 18.30 WIT.
"Kalau hujan begini, satwa biasanya sembunyi. Mereka takut hujan, tetapi kalau Harimau tidak. Mereka justru suka kalau sedang hujan. Mereka suka main air," ucap Fernando, pemandu safari yang menemani kami berkeliling.
Kondisi hujan yang sangat deras membuat kegiatan safari menjadi kurang optimal. Hanya sedikit foto satwa yang bisa diambil, jas hujan yang diberikan sesaat sebelum berangkat tak mampu menahan curahan hujan yang turun. Akhirnya kegiatan safari diakhiri dan diulangi keesokan harinya, kali ini berangkatnya agak lebih awal.
Pengamatan satwa saat hujan kurang optimal (Wahyu/detikTravel)
Selasa (10/5/2016) sore, sekitar pukul 17.30 WIT kami sudah berkumpul dan siap bersafari lagi untuk kedua kalinya. Kali ini cuaca cerah dan sangat bersahabat. Sesaat lagi, kami akan mengamati satwa di habitatnya serta memberi makan mereka, baik yang herbivora, sampai yang bikin deg-degan yaitu satwa karnivor.
Perjalanan dimulai dengan melintasi zona Indonesia, dimana traveler bisa melihat kawanan Babirusa, serta gajah sumatera. Lanjut ke bagian selanjutnya yaitu zona Afrika, dimana ada kawanan zebra dan badak putih Afrika yang menanti juluran wortel yang kami berikan.
Serta yang paling ditunggu-tunggu, kami akhirnya memasuki zona satwa karnivora. Wilayah yang pertama kami lintasi adalah habitat Singa. Keeper satwa langsung mengeluarkan potongan daging ayam yang menjadi makanan mereka. Melalui sela-sela jeruji besi, daging tersebut diberikan ke Singa yang lalu lalang.
Memberi makan singa (Wahyu/detikTravel)
Sayang, entah karena sudah kenyang atau memang tidak berselera makan, singa-singa tersebut tampak bermalas-malasan. Hal tersebut dibenarkan Fernando, menurut pengalaman serta pengetahuannya, Singa adalah hewan paling malas di dunia.
"Singa itu hewan paling malas sedunia. Tidurnya bisa mencapai 20 jam lebih. Mereka hidup berkelompok, Singa Jantan yang jadi pemimpinnya. Tetapi yang berburu singa betina, singa jantan tugasnya hanya kawin saja. Sekali kawin bisa lebih dari 4 betina," jelas Fernando.
Beranjak ke wilayah berikutnya, traveler langsung masuk ke dalam kekuasaan Rafli dan Chika, 2 ekor harimau Benggala yang sangat agresif. Kedua pejantan ini aktif lalu lalang, sampai naik ke atap kerangkeng besi kami. Semuanya dilakukan karena tertarik dengan potongan daging ayam yang dibawa pemandu.
Sesekali Rafli yang berumur 7 tahun, dan Chika yang berumur 6 tahun mengeluarkan suara auman ringan setelah sepotong demi sepotong daging ayam mereka lahap. Itu menandakan mereka suka dan menginginkan lagi. Hanya keeper yang boleh memberi makan ke satwa karnivor, itu karena mereka sudah terbiasa dan sudah mengenal harimau-harimau ini sejak mereka kecil.
Memberi makan Rafli dan Chika (Wahyu/detikTravel)
Traveler yang punya nyali lebih bisa mengelus perut Rafli dan Chika, ketika mereka berdua naik ke atas kerangkeng. Bulunya terasa empuk dan tebal. Bau badan Harimau juga sangat khas, jadi disarankan setelah mengelus-ngelus mereka wajib untuk cuci tangan. Namun jangan sekali-sekali menyentuh telapak kaki mereka karena area itu sensitif bagi Harimau.
Selama berinteraksi dengan Rafli dan Chika kami mengambil beberapa gambar. Perlu diingat saat memotret satwa malam, tidak diperkenankan menggunakan flash karena akan membuat mereka terganggu serta stress.
Setelah mengelus-ngelus Rafli dan Chika, perjalanan pun berakhir. Sensasi bersafari, sambil memberi makan satwa-satwa buas ini sungguh luar biasa. Traveler wajib coba demi pengalaman sekali seumur hidup yang tidak akan terlupa di Bali Safari Marine Park yang terletak di kawasan Gianyar, Bali.
Suasana mencekam safari malam dilihat dari Tsavo Lion Restoran (Wahyu/detikTravel)
(rdy/rdy)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Agar Turis Betah, Pemerintah Malaysia Minta Warga Lebih Ramah