Wakatobi di Sulawesi Tenggara merupakan satu dari 10 destinasi proritas Kementerian Pariwisata. Artinya, Wakatobi bakal digarap serius baik segi akses dan akomodasi untuk dijual kepada turis mancanegara.
Hal tersebut pun menjadi kabar baik bagi destinasi di sekitar Wakatobi, seperti Bau-bau atau Buton. Bukan tanpa sebab, jika Wakatobi sudah semakin baik kualitasnya maka semakin banyak turis yang datang. Turis yang datang, kalau masih belum puas di Wakatobi dapat berkunjung ke daerah sekitarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
detikTravel bersama rombongan media dari Jakarta atau undangan Kementerian Pariwisata mampir ke pantai ini, di sela-sela pagelaran Festival Budaya Tua Buton pada pekan lalu (23/8). Kala itu sedang dibangun gapura di jalan raya, sehingga mobil tak bisa berhenti persis di dekat pantai. Jadi harus berjalan kaki sekitar 1 km dulu untuk tiba di bibir pantainya.
Pepohonan yang tinggi dan lebat menghiasi pinggiran pantainya. Memberikan suasana yang sejuk, serta jadi tempat yang asyik untuk berteduh. Kemudian, hamparan pasir putih dan lautan yang bergradasi menyambut di depan mata.
Kontur pantainya cukup landai, asyik sebagai tempat bersantai. Airnya juga jernih dan tenang, sehingga asyik untuk bermain air atau berenang. Hanya saja, harus berhati-hati saat menginjak bebatuan di dalam air karena terdapat bulu babi.
Puas bermain di air, coba trekking masuk ke semak belukar di dekat pantainya. Di sanalah terdapat Danau Udang Merah, yang airnya sebening kaca dan masih sangat alami. Sesuai namanya, danau ini jadi habitat udang merah yang dikeramatkan oleh masyarakat Buton.
BACA JUGA: Cerita Danau Udang Merah Keramat di Sulawesi Tenggara
Jarak dari Pantai Koguna ke Wakatobi sekitar 2 jam naik boat, tak jauh-jauh amat. Turis yang mau bertualang lebih lama di Sulawesi Tenggara, setelah menikmati Wakatobi tentu dapat mampir ke Pantai Koguna ini. Kalau mau lanjut lagi, bisa ke Buton atau ke Bau-bau untuk melihat Benteng Keraton Buton yang merupakan benteng terluas di dunia.
Namun sayangnya, yang harus digarisbawahi adalah fasilitas di Pantai Koguna. Dalam pantauan detikTravel, belum banyak fasilitas yang memadai di sana. Memang sudah ada bangku-bangku kayu dan gazebo, tapi itu tidak terawat dengan baik.
Di sana juga baru ada satu toilet yang juga baru diresmikan. Di pantainya sendiri masih terlihat banyak sampah seperti plastik-plastik bungkus makanan hingga botol-botol bekas minuman. Hal ini sangat menganggu pemandangan.
Masalah selanjutnya adalah rumor sengketa tanah. Saat datang ke sana, detikTravel sempat mewawancari seorang pria bernama Fadal. Dia mengaku kalau tanah di sekitar pantai adalah kebun orangtuanya dan sampai saat ini belum ada komunikasi dari pemerintah setempat untuk menjadikannya destinasi wisata.
Ditemui dalam kesempatan terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Buton Abdul Zainudin Napa menanggapi soal pengembangan Pantai Koguna. Usut punya usut, Pemkab Buton ingin mengembangkan Pantai Koguna sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
"Kami terus mengembangkan Pantai Koguna dengan membangun jalan dan fasilitas-fasilitas wisata di sana. Kita juga minta bantuan pemerintah pusat untuk mengembangkannya," tegasnya. (wsw/wsw)












































Komentar Terbanyak
Duh, Jembatan Ikonik Suramadu Jadi Sasaran Pencurian, 480 Kg Besi Raib
Hotel Legendaris di Gerbang Malioboro Kembali Beroperasi
Terkuak! WNA Punya Lahan di Proyek Akomodasi Wisata, Caranya Pinjam Identitas Warlok