Ngeteh Sambil Nostalgia Tempo Dulu di Kawasan Glodok

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Ngeteh Sambil Nostalgia Tempo Dulu di Kawasan Glodok

Johanes Randy Prakoso - detikTravel
Senin, 05 Sep 2016 16:55 WIB
Ngeteh Sambil Nostalgia Tempo Dulu di Kawasan Glodok
Pancoran Tea House di kawasan Glodok (Randy/detikTravel)
Jakarta - Kawasan Glodok yang berdekatan dengan Petak 9 di Jakarta memang kaya akan sejarah. Di sana traveler juga bisa ngeteh sambil nostalgia di Pancoran Tea House.

Sejak dulu kawasan Glodok di Jakarta Pusat dikenal sebagai kawasan Pecinan yang ramai mayoritas etnis Tionghoa. Hingga kini, suasana itu pun tidak banyak berubah. Tampak dari deretan toko obat herbal hingga kuliner khas Chinese.

Namun dibalik semua itu, terdapat Pancoran Tea House yang dahulunya adalah Apotheek Chung Hwa. Didirikan pada tahun 1928, sejarahnya apotek tersebut adalah salah satu yang tertua di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Atas inisiatif dari PT Pembangunan Kota Tua Jakarta (JOTRC) dan Jakarta Endowment for Arts & Heritage (JEFORAH), apotek lawas yang menjadi saksi bisu itu diberi nafas baru dalam bentuk tempat ngeteh yang sarat unsur Tiongkok.

Lokasinya berada setelah Jembatan Glodok (Randy/detikTravel)
Baru dibuka awal tahun ini, Pancoran Tea House yang terletak persis setelah jembatan Glodok dari arah Harmoni itu mulai dikenal di kalangan wisatawan. Penasaran, detikTravel pun singgah ke sana pada hari Minggu kemarin (4/9/2016).

Setelah memarkirkan kendaraan tepat di sisi restoran, saya pun mengatamati eksterior restoran terlebih dulu sebelum masuk. Dari luar, restoran yang berfokus pada menu teh tersebut masih mempertahankan bentuk gedungnya yang lawas.

Pintu dan perabot restoran yang terbuat dari kayu dan memiliki ukiran khas Tiongkok juga mendominasi. Tidak mengapa, restoran tersebut memang direnovasi sedemikian rupa seperti bentuk awalnya dulu. Hanya dengan konsep yang lebih segar.

Bagian luar restoran yang jadul (Randy/detikTravel)
Interior restoran (Randy/detikTravel)
Memasuki restoran, tampak meja dan kursi kayu yang rapi berjajar. Lantainya pun cukup menarik perhatian, karena memakai motif jadul yang seakan membawa traveler ke masa lalu. Kesan modern pun tampak dari sejumlah lampu yang digantung menarik di langit-langit.

Tergelitik untuk melihat pemandangan Glodok, saya pun naik ke lantai dua restoran. Tidak jauh berbeda dengan lantai pertama, hanya saja suasana di lantai dua lebih terang dan strategis dalam artian pemandangan.

Sejumlah jendela kayu berukuran besar menghiasi sudut-sudut restoran di lantai dua. Pastikan Anda memiliih meja yang berada tepat di samping jendela untuk mendapat view terbaik.

Tanpa menunggu lama, saya pun segera memesan menu teh hijau yang menjadi andalan Pancoran Tea House. Berhubung cuaca sedang panas, saya pun memesan teh hijau dingin yang menyegarkan. Tanpa tambahan gula, teh hijau pun mengisi rongga tenggorokan yang tengah kering. Segar!

Teh yang jadi menu andalan (Randy/detikTravel)
Untuk teman makan, saya juga memesan menu tambahan seperti sapi lada hitam dan kailan bawang putih. Untuk soal rasa, menurut saya standar enak. Sedangkan untuk harga makanan, cukup menengah ke atas. Yakni sekitar Rp 30 ribuan ke atas.

Selain saya, ada juga tamu lain yang tengah asyik bersantai di kafe. Datang dari Bekasi, wanita bernama Angelica yang akrab di sapa Lica tersebut datang karena tertarik akan konsep restorannya yang menarik.

"Datang ke sini karena tertarik sama konsep restorannya yang tempo dulu, rasanya seperti kembali ke era Pecinan zaman dulu," ujar Lica.

Selain bersantai, ia pun tidak lupa untuk mengabadikan interior restoran lewat jepretan foto. Tidak mengapa, sudut-sudut Pancoran Tea House memang sangat instagenic dan cantik untuk berfoto.

Bagi traveler yang tengah singgah ke Glodok atau Petak 9, mungkin bisa menjadikan Pancoran Tea House sebagai salah satu tempat yang wajib didatangi. Sambil ngeteh, traveler bisa sekalian napak tilas ke masa lalu. (rdy/rdy)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads