Masjid itu bernama Masjid Jamik yang terletak di perempatan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Letkol Iskandar. detikTravel berkesempatan salat di sana, Jumat (18/11/2016).
Saat itu menjelang salat Jumat, tapi saya sengaja datang lebih awal. Saya ingin menikmati dulu arsitektur masjid ini sebelum panggilan adzan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tangan Soekarno, jadilah sebuah masjid yang memadukan berbagai gaya arsitektur sekaligus. Itulah yang saya lihat ketika memasuki pelataran masjid.
Interior masjid dengan paduan gaya Islami dan art deco (Fitraya/detikTravel) |
Aha, ini dia sentuhan art deco dari Soekarno. Hal ini membuat masjid ini punya elemen serupa dengan bangunan art deco semacam gedung Konferensi Asia Afrika di Bandung.
Di ruang salat utama, tampak mimbar khutbah yang tinggi, khas masjid yang klasik. Ada juga kaligrafi di dalam interior masjid yang tampak baru. Nah, Soekarno yang kita tahu punya selera seni yang tinggi, juga memberikan sentuhan lain.
Mimbar khutbah yang bergaya Islam klasik (Fitraya/detikTravel) |
Kepiawaian Soekarno berpolitik kita semua sudah tahu. Namun kepiawaian Soekarno merancang bangunan, itu adalah kesempatan langka yang cuma bisa kita rasakan kalau liburan ke Bengkulu.
Jamaah di teras masjid (Fitraya/detikTravel) |
(rdy/rdy)












































Interior masjid dengan paduan gaya Islami dan art deco (Fitraya/detikTravel)
Mimbar khutbah yang bergaya Islam klasik (Fitraya/detikTravel)
Jamaah di teras masjid (Fitraya/detikTravel)
Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru