Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 02 Des 2016 08:25 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Mengenal Tumpe, Ritual Telur Pertama Burung Maleo

Bona
detikTravel
Telur burung Maleo yang dikumpulkan ke rumah adat (Bonauli/detikTravel)
Telur burung Maleo yang dikumpulkan ke rumah adat (Bonauli/detikTravel)
Luwuk - Burung Maleo merupakan satwa langka. Di Luwuk, Sulawesi Tengah, ada ritual Tumpe untuk telur pertama dari musim bertelur Maleo. Seperti apa sih?

detikTravel mendapatkan undangan dari PT Donggi-Senoro LNG untuk melihat langsung ritual sekali setahun ini, Kamis (1/12/2016). Ritual adat Tumpe hanya diadakan pada bulan Desember.

Tumpe merupakan bahasa masyarakat adat Batui yang artinya adalah pertama. Tumpe merupakan acara penyerahan telur Maleo pertama dari Luwuk ke Pulau Banggai.

Kenapa mesti diserahkan ke Pulau Banggai? Dahulu kala Raja Motindo yang memerintah di Kerajaan Banggai Laut punya burung Maleo.
 Ritual Tumpe yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Batui (Bonauli/detikTravel)Foto: Ritual Tumpe yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Batui (Bonauli/detikTravel)


Kemudian burung tersebut diberikan kepada cucunya yang bernama Abu Kasim. Ternyata di Banggai laut tidak ada pasir. Sehingga burung Maleo tidak bisa bertelur.

Akhirnya Maleo dikembalikan lagi ke Batui. Namun dengan satu perjanjian, jika burung ini bertelur maka telur pertamanya harus diberikan kepada Abu Kasim di Banggai Laut.

Itu adalah amanah yang dipegang teguh oleh masyarakat Batui sampai pada hari ini. Buktinya acara adat ini telah berlangsung sejak zaman dahulu sampai sekarang.

"Inti acara ini amanah. Telur pertama harus diberikan ke Banggai Laut baru boleh dimakan oleh masyarakat Luwuk. Yang di Banggai Laut pun tidak boleh makan sampai yang mengantar belum pulang ke Luwuk," kata Haji Jabar, Ketua Perangkat Adat Kelurahan Batui untuk Kusali Bola Totonga.

Panggung di depan rumah adat masyarakat Batui (Bonauli/detikTravel)Foto: Panggung di depan rumah adat masyarakat Batui (Bonauli/detikTravel)


Walaupun burung Maleo termasuk hewan langka namun menurut SK Menteri Kehutanan, untuk acara adat telur burung Maleo diperbolehkan untuk dimakan.

Penyerahan telur dulunya digunakan sekaligus sebagai sensus penduduk oleh Kerajaan Banggai Laut. Masyarakat Suku Batui diwajibkan untuk menyerahkan satu telur untuk satu orang. Namun karena kelangkaannya saat ini makan hanya dihitung per kelurahan saja.

"Paling banyak 20-25 butir telur per kelurahan,jadi paling hanya 100 butir tiap ritual," ungkap Haji Jabar.

Suku Batui memiliki 5 titik poin berupa rumah yang menjadi tempat pemgumpulan telur dari 5 kelurahan. Di mulai dari Dakanyo Ende, Binsilok Balatang, Tolando, Binsilok Katudunan dan Topundat. Setelah itu telur akan diantarkan ke rumah adat secara estafet.

Para pemuda yang membawa telur Maleo (Bonauli/detikTravel)Foto: Para pemuda yang membawa telur Maleo (Bonauli/detikTravel)


Sebelum diantarkan ke rumah adat, telur diberikan doa dan dzikir terlebih dahulu di 5 titik poin. Ini merupakan ucapan syukur atas rezeki berupa telur burung Maleo.

Telur tidak diantarkan begitu saja tapi dilapisi dengan daun komunong (sejenis palem). Kemudian para pemuda akan membawakan telur dengan busana adat berwarna merah. Ini adalah warna suku masyarakat Batui.

Pada saat mengantarkan telur, para pemuda ombuwa telur (pembawa telur) akan didampingi oleh tetua adat. Jalanan harus sepi dari aktivitas. Karena saat mengantarkan telur tidak diperbolehkan untuk berhenti di tengah jalan.

Masyarakat Suku Batui punya kearifan lokal mensyukuri rezeki Tuhan dengan memakan telur Maleo. Agar tradisi ini bisa terjaga, tentu tanggung jawab kita semua untuk menjaga kelestarian Maleo. (wsw/fay)
BERITA TERKAIT
NEWS FEED