Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang dilalui garis khatulistiwa atau ekuator. Ini merupakan sebuah garis imajinasi yang digambar di tengah-tengah planet di antara dua kutub dan paralel terhadap poros rotasi planet. Garis khatulistiwa ini membagi Bumi menjadi dua bagian belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Garis lintang ekuator adalah 0 derajat. Panjang garis ekuator adalah sekitar 40.070 km.
Selama ini masyarakat hanya mengenal Tugu Khatulistiwa di Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat. Di sana, masyarakat bisa menyaksikan fenomena unik saat bayangan benda terhadap matahari menghilang setiap dua tahun sekali. Padahal di Indonesia tugu penanda garis ekuator ini bisa kita temukan juga di Desa Khatulistiwa, Tinombo Selatan, Parigi Moutong Sulawesi Tengah. Di Bonjol, Sumatera Barat tugunya dinamai Gerbang Khatulistiwa. Lalu di Koto Alam masih dalam wilayah Sumatera Barat dinamai Bola Ekuator. Ada pula di Santan Ulu, Bontang, Kalimantan Timur dan di Pelalawan Riau.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, yang menarik bisa jadi karena di Desa Khatulistiwa, Sulawesi Tengah matahari lebih terik dari daerah lainnya di Indonesia, fenomena telur tegak berdiri dapat terjadi setiap waktu.
Seperti saat Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola dan Bupati Parigi Moutong, Samsurizal Tombolotutu berkunjung ke sana, Sabtu, 1 April 2017. Mereka bisa menyaksikan warga setempat menempatkan telur ayam tepat di plat bulat penanda titik nol derajat rupa bumi. Dan ajaib, telur itu benar-benar berdiri dengan tegak.
"Untuk membuat telurnya tegak berdiri butuh keahlian dan ketekunan. Bagi warga di sini yang sudah biasa, tidak lama meletakan telurnya di titik nol derajat ini, telurnya sudah tegak berdiri. Tadi saya coba tidak bisa," aku Gubernur Longki sambil tertawa berderai kepada detikTravel pekan lalu.
Selain Indonesia, fenomena serupa juga bisa ditemui di Afrika dan Amerika Latin. Di Afrika, garis khatulistiwa melewati empat negara, yaitu Gabon, Zaire, Uganda, Kenya, dan Somalia. Sedangkan di Amerika Latin, garis khatuliswatia melintasi Ekuador, Peru, Kolombia dan Brasil.
Dari Palu, Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah, Desa Khatulistiwa berjarak sekira 170 kilometer. Dapat ditempuh dengan kendaran umum maupun kendaraan pribadi. Jalurnya berada di lintasan Trans Sulawesi bagian Timur dengan jalan aspal yang mulus dan lebar.
Soal makanan jangan kuatir, karena wilayah berbatasan langsung dengan Teluk Tomini maka makanan laut berupa ikan, kepiting dan udang adalah sajian kuliner yang mudah kita temukan sepanjang jalan.
Nah, jika suatu waktu Anda mengunjungi Desa Khatulistiwa yang dulu dikenal sebagai Desa Sinei sempatkanlah meminta warga setempat mencoba membuat telur ayam tegak berdiri di titik nol derajat ini. Harus coba!
(rdy/aff)












































Komentar Terbanyak
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Melawai Plaza: Markas Perhiasan Jakarta yang Melegenda Itu Tak Lagi Sama