Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 25 Apr 2017 19:33 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Fulan Fehan: Padang Rumput Ala Eropa, Tapi di Atambua

Fitraya Ramadhanny
Redaksi Travel
Fulan Fehan seperti padang rumput Eropa atau Australia (Fitraya/detikTravel)
Fulan Fehan seperti padang rumput Eropa atau Australia (Fitraya/detikTravel)
Atambua - Bayangkan padang rumput berbukit yang amat luas. Kuda liar dan sapi merumput dan meminum air di danau. Ini bukan di Eropa, tapi Fulan Fehan di Atambua, NTT.

Atambua dan Kabupaten Belu secara keseluruhan adalah perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Kota ini identik dengan hawa panas, tapi kondisi yang berbeda ada di Kecamatan Lamaknen.

Tim Tapal Batas detikcom dan detikTravel di Atambua mendengar cerita tentang padang rumput hijau di atas pegunungan. Namanya adalah Fulan Fehan, namun untuk menuju ke sana ada tantangannya.

"Kalau mau ke Fulan Fehan harus naik mobil 4WD, jalanannya berbatu," kata Kabag Humas dan Protokol Pemkab Belu, Fridolinus Siribein.

Kambing gunung di hutan Desa Dirun (Fitraya/detikTravel)Kambing gunung di hutan Desa Dirun (Fitraya/detikTravel)


Jadilah Tim Tapal Batas detikcom naik mobil 4WD bersama Pemkab Belu menuju Kecamatan Lamaknen. Pagi-pagi betul pada Kamis (30/3/2017) kami berangkat ke Fulan Fehan. Kami menempuh jalan Sabuk Perbatasan, yang sedang dibangun, sampai ke ujung aspal di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen.

Penanda jalan akses masuknya adalah rumah adat Siri Gatal Porbol yang cukup besar dan antik di tepi jalan. Dari situ mobil 4WD kami harus mendaki jalan berbatu yang curam dan terjal di Gunung Lakaan. Kambing gunung menonton mobil kami berjuang mendaki jalan berbatu di tengah pepohonan cendana.

Tiba-tiba, usai jalan mendaki, kami berjumpa dengan savana yang relatif datar dengan bukit-bukit ya landai. Sabana ini luas, luas sekali. Sejauh mata memandang yang ada adalah rumput hijau yang pendek rapi. Seperti lapangan golf saja. Inilah Fulan Fehan, traveler!

"Selamat datang di Fulan Fehan. Entah berapa hektar, belum ada pengukuran pasti," kata Fridolinus tersenyum melihat kekaguman kami.

Savana Fulan Fehan yang indah (Fitraya/detikTravel)Savana Fulan Fehan yang indah (Fitraya/detikTravel)


Aih.... indah betul Fulan Fuhan. Atambua begitu panas di tepi pantai, namun di Lamaknen ada Fulan Fehan yang begitu sejuk dan hijau. Saya melihat sapi-sapi merumput dengan bebas di perbukitan.

Danau-danau alami bertebaran menyediakan air minum yang tidak kunjung habis untuk mereka. Sebagai Lembah Gunung Lakaan, Fulan Fehan malah seperti padang rumput di Inggris atau Australia.

Pepohonan yang ada di sini hanya kaktus saja. Mereka bertebaran di berbagai sudut sabana, dekat batu-batu karang yang mencuat di sana-sini. Ternyata, kekaguman kami tidak berhenti sampai di sana.

Kuda liar merumput di Fulan Fehan (Fitraya/detikTravel)Kuda liar merumput di Fulan Fehan (Fitraya/detikTravel)


Kami melihat kuda-kuda liar, ada sekitar 20-an ekor. Mereka merumput dan menikmati air danau. Kuda-kuda Timor yang gagah perkasa. Ada yang sendirian, ada yang berkelompok.

Namanya juga kuda liar, mereka menjauh kalau kami mendekat. Suara baling-baling drone yang kami terbangkan, begitu asing bagi telinga mereka. Sehingga mereka pun berlari menjauh.

Ya ampun, keren banget pemandangan ini. Tidak ada siapa-siapa selain kami di sana, di tengah sabana hijau yang begitu luas. Terserah kita mau lari kemana sobat, Fulan Fehan seperti padang rumput yang tidak berujung. Tidak percaya? Video ini adalah buktinya:



Inilah bukti bahwa Indonesia begitu cantik sampai ke ujung perbatasannya. Keindahan Fulan Fehan ini juga yang ingin dijaga warga Atambua, terkait dengan proyek jalan Sabuk Perbatasan.

"Iya mereka menyampaikan aspirasi, jangan sampai proyek jalan perbatasan itu sampai ke Fulan Fehan. Mereka takut Fulan Fehan menjadi rusak karena banyak kendaraan lewat dan suhu udara jadi panas," kata Fridolinus.

Indonesia tidak kalah padang rumputnya dengan Eropa atau Australia. Semoga kecantikan dan keindahan Fulan Fehan tetap terjaga. Semoga kuda, sapi dan kambing di sana tetap liar dan apa adanya. Biarkan Fulan Fehan seperti surga yang tersembunyi selamanya!

Simak kisah-kisah lain petualangan ke Atambua di Tapal Batas Detikcom. (fay/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED