40 Ribu Fragmen Fosil Tersimpan di Museum Ini

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Pesona Jawa Tengah

40 Ribu Fragmen Fosil Tersimpan di Museum Ini

Wahyu Setyo Widodo - detikTravel
Rabu, 26 Apr 2017 18:30 WIB
40 Ribu Fragmen Fosil Tersimpan di Museum Ini
Gudang penyimpanan fosil di Sangiran (Wahyu/detikTravel)
Sangiran - Museum Manusia Purba Sangiran jadi lokasi disimpannya kurang lebih 40 ribu buah fragmen fosil. Traveler bisa melihat fosil buaya hingga kerbau purba di sana.

Museum Manusia Purba Sangiran merupakan museum di Sragen, Jawa Tengah yang mendapat predikat sebagai 'Situs Warisan Dunia UNESCO'. Penobatan ini tepat dianugerahkan pada tanggal 5 Desember 1996 silam.

Tak heran, sebab Situs Sangiran merupakan 'rumah' bagi fosil-fosil manusia purba Homo erectus yang hidup dalam rentang masa sekitar 1,2 Juta tahun silam. Tak hanya itu, aneka fosil lainnya seperti fosil gajah purba, kerbau, kerang, hingga buaya juga ditemukan di Sangiran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

detikTravel mendapat kesempatan langka melihat ribuan fragmen fosil yang masih berada di ruang penyimpanan, dan tidak didisplay di Museum Sangiran pada Kamis (20/4/2017) pekan lalu. Ada kurang lebih 40 ribu buah fragmen fosil yang tersimpan di ruangan ini.

Fosil gading gajah dan tanduk kerbau (Wahyu/detikTravel)Fosil gading gajah dan tanduk kerbau (Wahyu/detikTravel)


Fosil-fosil ini asli, dan belum dibuat replikanya. Selama ini memang fosil yang didisplay di museum merupakan fosil hasil replika. Sementara fosil di ruang penyimpanan adalah fosil aslinya.

Bahkan sebagian fosil masih tampak sedang dibersihkan dari tanah-tanah yang menempel. Itu tandanya, fosil ini masih terhitung baru sejak dilakukan proses eksvakasi alias proses pengangkatan dari dalam tanah.

Pembersihan ini dilakukan para arkeolog dengan penuh kehati-hatian, agar fosil tidak rusak. Suhu udara ruangan juga dijaga agar tetap dingin, sehingga tidak lembap dan jamur tidak berkembang biak. Fosil pun bisa bertahan lebih lama.

Fosil kerbau sedang dibersihkan para arkeolog (Wahyu/detikTravel)Fosil kerbau sedang dibersihkan para arkeolog (Wahyu/detikTravel)


Fosil-fosil yang diletakkan di ruang penyimpanan ini rata-rata merupakan hasil temuan warga. Dari mulai gajah, kerang, hingga buaya ada di ruangan ini. Fosil-fosil ini berasal dari lapisan tanah yang menunjukkan rentang tahun yang berbeda satu sama lain.

Fosil kerang ditemukan karena dulunya Sangiran merupakan lautan jutaan tahun silam. Kemudian laut surut, Sangiran berubah menjadi rawa-rawa, sehingga bisa ditemukan fosil, kuda nil, buaya purba dan juga buaya gavial (buaya bermoncong panjang).

Lanjut ke era rentang tahun yang lebih muda, Sangiran berubah menjadi dataran yang subur, sehingga ditemukan fosil badak, rusa, hingga gajah. Mereka adalah hewan-hewan herbivor pemakan tanaman yang banyak ditemukan di era tersebut. Serta tidak ketinggalan, fosil manusia purba era awal, yaitu Homo erectus

Fosil buaya (Wahyu/detikTravel)Fosil buaya (Wahyu/detikTravel)


Baru kemudian ditemukan fosil Homo sapiens, alias manusia modern seperti kita sekarang. Jika melihat bentuk tengkoraknya, Homo sapiens sudah jauh lebih berkembang daripada tengkorak Homo erectus. Itulah sebabnya kehidupan Homo sapiens jauh lebih maju dibandingkan pendahulunya, Homo erectus.

Cukup merinding juga melihat tengkorak Homo sapiens di ruangan ini, karena ini adalah tulang asli. Konon katanya tengkorak ini didapatkan dari penggalian makam-makam lama yang ada di sekitar Sangiran. Hii..
Tengkorak Homo sapiens (Wahyu/detikTravel)Tengkorak Homo sapiens (Wahyu/detikTravel)


Tetapi kesan mistis dan seram bisa dipinggirkan terlebih dahulu, karena fosil-fosil ini ada demi ilmu pengetahuan. Banyak data-data yang bisa digali dari fosil-fosil ini. Kita bisa mengetahui sedikit gambaran tentang kehidupan di era purba, saat manusia modern belum eksis.

Di setiap fosil pun tercantum label yang memuat informasi tentang fosil tersebut. Infromasinya antara lain nama spesies, dan spesimen bagian tubuh apa, kemudian ukuran serta lokasi dimana fosil ditemukan. Tak ketinggalan nama orang yang menemukan, serta tanggal saat fosil ditemukan.

Informasi ini tentu saja penting bagi penelitian di dunia arkeologis. Traveler yang penasaran bisa berkunjung ke Sangiran untuk belajar dan memenuhi rasa penasaran tentang dunia purbakala.
Label yang tertera di setiap fosil (Wahyu/detikTravel)Label yang tertera di setiap fosil (Wahyu/detikTravel)
(wsw/wsw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads