Cerita Masjid Dibangun di Atas Reruntuhan Candi

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Cerita Masjid Dibangun di Atas Reruntuhan Candi

Agus Setyadi - detikTravel
Jumat, 09 Jun 2017 14:50 WIB
Cerita Masjid Dibangun di Atas Reruntuhan Candi
Masjid Tuha Indrapuri Aceh dibangung di atas reruntuhan candi (Agus Setyadi/detikTravel)
Banda Aceh - Ada cerita menarik yang mungkin belum kamu tahu dari Serambi Makkah. Di sana ada masjid yang memiliki sejarah unik yaitu dibangun di atas reruntuhan candi.

Masjid kuno dengan atap berbentuk segitiga ini berdiri kokoh meski sudah berusia ratusan tahun. Bangunan dan arsitekturnya bergaya tradisional.

Terletak di bantaran Krueng (sungai) Aceh di Keude Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Masjid Tuha Indrapuri namanya. detikTravel berkunjung beberapa waktu lalu ke masjid yang dibangun Sultan Iskandar Muda itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Konon, masjid dengan arsitektur cukup sederhana ini dibangun di atas reruntuhan pura atau candi. Pada masa Kerajaan Lamuri, di lokasi berdirinya masjid ini dulunya merupakan pura sekaligus benteng kerajaan.

Cerita Masjid Dibangun di Atas Reruntuhan CandiPotret dalam Masjid Tuha Indrapuri Aceh (Agus Setyadi/detikTravel)


Kerajaan Lamuri yang berpusat di Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar ini diyakini sebagai kerajaan tertua di Aceh. Sebelum masuknya pengaruh Islam, kerajaan tersebut sangat masyhur dan berjaya. Pura di Indrapuri diperkirakan sudah ada sejak abad ke-10 Masehi.

Bangunan pura di sana pada awalnya diperuntukkan sebagai sebuah tempat ibadah umat Hindu. Namun setelah Kerajaan Lamuri menjadi penganut Islam, candi di hancurkan dan dibangun masjid.

BACA JUGA: Ini Lho Masjid Bentuk Kubus di Bandung

Keberadaan Masjid Tuha Indrapuri menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting di Aceh. Mulai dari jejak peradaban Hindu hingga masuk dan berkembangnya Islam di Aceh. Kala penjajah Belanda berhasil menguasi Istana Dalam Kerajaan Aceh Darussalam di Banda Aceh, Indrapuri dipilih sebagai pusat kerajaan.

Sekitar tahun 1607-1636, saat pembangunan masjid ini Sultan Iskandar Muda memasang 36 tiang penyangga bersama penopang atap. Ukiran khas kerajaan kuno beragam bentuk terlihat di tiang.

Tempat wudhu Masjid Tuha Indrapuri AcehTempat wudhu Masjid Tuha Indrapuri Aceh (Agus Setyadi/detikTravel)


Atap masjid ini berbeda dengan masjid umumnya. Bentuknya, segitiga menyerupai piramida dengan empat atap dari bawah hingga paling pucuk dan bentuk piramida itu merupakan ciri khas masjid-masjid tradisional di Tanah Rencong.

Masuk ke dalam masjid, tiang-tiang berdiri kokoh. Masjid ini dibangun tidak menggunakan paku atau pun baut. Tiang-tiang di sana hanya di pasak pada kayu. Hal itu lazim ditemukan seperti pembangunan Rumoh Aceh.

Masjid Tuha Indrapuri dibangun di atas areal tanah seluas 33.875 meter persegi. Bangunan masjid dikelilingi tembok yang menjadi benteng. Dinding benteng yang juga berfungsi sebagai pondasi masjid berdenah persegi empat, berdiri di atas tanah seluas 4.447 meter persegi.

Bangunan berundak empat ini pada setiap undakannya memiliki dinding yang sekaligus jadi pembatas halaman. Kaki dan puncak dinding benteng dilengkapi oyif, yaitu bidang sisi genta. Pintu masuk ke masjid terletak di sebelah timur. Di atas halaman kedua terdapat bak penampungan air hujan yang dapat digunakan sebagai tempat wudhu.

Selama bulan Ramadan Masjid Tuha Indrapuri ramai dikunjungi masyarakat untuk beribadah. Pada malam hari, masjid tersebut juga dipakai untuk melaksanakan salat Tarawih. Selain sebagai tempat ibadah, masjid tersebut juga menjadi salah satu lokasi wisata religi di Tanah Rencong. (msl/aff)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads