Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 14 Jul 2017 18:15 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Napak Tilas Sesepuh Sunda di Kawah Rengganis

Wisma Putra
Redaksi Travel
Kawah Rengganis (Wisma Putra/detikTravel)
Kawah Rengganis (Wisma Putra/detikTravel)
Bandung - Tak banyak yang tahu kalau Kawah Rengganis menyimpan sejarah penting. Para sesepuh Sunda, pernah mengadakan pertemuan untuk membahas soal kehidupan dan agama.

Kawah Rengganis menjadi saksi bisu pertemuan para leluhur Sunda sejak ratusan tahun lalu. Konon, salah satu leluhur yang disebut sebagai Uyut Saratus Bojol Tilu itu kerap melakukan pertemuan rutin. Persoalan agama dan masalah kehidupan merupakan salahsatu pembicaraannya.

"Kawasan Kawah Rengganis dulunya merupakan salah satu bale paguneman (tempat pertemuan) Uyut Saratus Bojol Tilu, konon setiap tempat memiliki karomah (kehormatan) seperti di Gunung Sanggabuana, Galunggung, Glambir, dan salah satunya di kaki Gunung Sepuh ini," ujar Asep.

Asep mengungkapkan, para leluhur yang bertandang ke tempat itu untuk membahas persoalan keagamaan yang ketika itu masih didominasi oleh ajaran Hindu. Perlahan agama Islam dibahas seiring dengan kehadiran Prabu Kian Santang yang gencar melakukan syiar Islam di Tanah Sunda. Titisan Prabu Siliwangi itu juga ikut dalam bale paguneman di Kawah Rengganis.

Menurut Asep, napak tilas para leluhur tersebut membuat Kawah Rengganis banyak dikunjungi oleh wisatawan atau peziarah asal Bali, terutama menjelang Hari Raya Nyepi.

"Ibadahnya seperti itu, mereka membawa air suci dari mata air di sini, jadi tak hanya peziarah yang beragama Islam saja yang datang ke sini, semua agama bisa masuk, hanya ritualnya saja yang berbeda," kata Asep juru pelihara generasi ketujuh itu.

Awalnya, kata Asep, ada beberapa pantangan bagi peziarah atau wisatawan untuk datang ke Kawah Rengganis. Mereka tidak dianjurkan untuk berkunjung pada Jumat atau Sabtu. "Sekarang pantangan itu sudah tidak dijalankan lagi, bagi wisatawan silakan datang kapan saja, tapi untuk peziarah tidak dianjurkan pada hari-hari tersebut," katanya.

Semula, hanya ada tiga bangunan di Kawah Cibuni pada tahun 1920-an. Satu milik rumah juru kunci, mushala dan bale pengobatan. Namun, kini ada belasan rumah warga yang berada di dekat kawah. "Dahulu tempat ini ditemukan tahun 25 Safar, jadi di setiap tanggal segitu akan dilakukan ritual untuk memperingati perjalanan para leluhur tadi," ucapnya.

Kawah Rengganis memang belum sepopuler Kawah Putih atau Kawah Kamojang. Belum ada penanda yang mencolok untuk masuk ke Kawah Rengganis, hanya ada papan penunjuk yang terbuat dari kayu. (bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
Load Komentar ...
NEWS FEED
Laporan dari Jepang

Foto: Secuil Rasa Amerika di Osaka

Senin, 20 Nov 2017 08:52 WIB

Pengaruh dan nuansa Amerika kental terasa di Amerika-mura. Inilah kawasan belanja, dimana anak-anak gaul Jepang terpengaruh gaya dan budaya negeri Paman Sam.