Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 09 Ags 2017 17:35 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Konon Ada Wanita Menjadi Batu di Kalimantan

Kurnia Yustiana
Redaksi Travel
Foto: Gua Thang Raya di Sanggau, Kalimantan Barat (Kurnia/detikTravel)
Foto: Gua Thang Raya di Sanggau, Kalimantan Barat (Kurnia/detikTravel)
Sanggau - Gua Thang Raya di Sanggau tak hanya menampilkan sisi eksotis. Namun juga penuh misteri.

Liburan ke Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, sempatkan mampir ke Gua Thang Raya. Gua tersebut berada di Dusun Pemodis, Kecamatan Beduai.

detikTravel bersama tim Tapal Batas detikcom berkunjung ke sana beberapa waktu lalu. Gua Thang Raya merupakan warisan sejarah yang dikembangkan menjadi objek wisata alam dan religi. Namun akses untuk mencapainya belum mulus.

Sampai di Dusun Pemodis memang masih bisa dengan kendaraan roda empat sekitar 2 jam dari pusat kota Sanggau. Selanjutnya untuk mencapai gua hanya bisa dilalui dengan jalan kaki atau naik kendaraan roda dua. Dari rumah-rumah penduduk Pemodis, perjalanan harus ditempuh sekitar 3 km lagi.

Melewati jembatan gantung (Kurnia/detikTravel)Melewati jembatan gantung (Kurnia/detikTravel)
Kami kemudian memutuskan sewa ojek warga setempat, untuk mengantar sampai ke Gua Thang Raya. Dari dusun kami melewati jembatan gantung di atas sungai, kemudian melewati jalan setapak semen hingga tanah dengan hutan di kanan kirinya.

Medannya bagaikan offroad, apalagi kalau selepas hujan di mana jalanan becek. Perjalanan hingga ke gua ditempuh sekitar 12 menit. Sesampainya di sana terlihat jembatan kecil dengan mata air di bawahnya, di depannya gua pun terlihat.

Hanya bisa dicapai naik kendaraan roda dua atau jalan kaki (Kurnia/detikTravel)Hanya bisa dicapai naik kendaraan roda dua atau jalan kaki (Kurnia/detikTravel)
Di sisi depan gua ini tampak patung Yesus, patung Bunda Maria serta satu patung lagi yang berukuran besar dengan motif dayak. Suasana sekitar masih benar-benar alami dan udara kala itu terasa sejuk.

(Kurnia/detikTravel)(Kurnia/detikTravel)
Tak lama setelah kami tiba, ada seorang warga yang menawarkan menjadi pemandu kami, namanya Yupinus Gius. Ia mengatakan bahwa baru sejak beberapa tahun lalu Gua Thang Raya dikembangkan menjadi lokasi wisata alam dan wisata religi. Gua ini secara rutin dikunjungi umat Katolik di Beduai untuk beribadah.

"Baru sekitar tiga tahun. Orang ke sini waktu ada misa se-Kecamatan Beduai, gabung sembahyang sini," kata Yupius.

Ia kemudian mengajak kami masuk menjelajahi gua. Hari itu sedang tidak ada misa dan hanya rombongan kami yang sedang berada di sana. Kami pun berjalan perlahan mengikuti langkah Yupius.

Bagian dalam gua batu ini rupanya cukup luas. Di dinding-dindingnya berbatu, dengan beberapa sisi atapnya berbatu besar sehingga jalanan yang dilewati ke dalam cukup sempit. Akar-akan pohon juga ada yang menggantung di langit-langit, di sela-sela batu.

Tak lama setelah masuk, Yupius mulai bercerita. Yang pertama soal dahulu gua ini dihuni oleh penduduk asli setempat. Bebatuan yang di sana pun ada yang dulunya digunakan sebagai meja makan dan kebutuhan lainnya. Kemudian ada bencana hujan batu, angin ribut melanda. Namun belum ada informasi pasti kapan bencana berlangsung.

Konon dahulu ada wanita yang jadi batu di dalam gua (Kurnia/detikTravel)Konon dahulu ada wanita yang jadi batu di dalam gua (Kurnia/detikTravel)
Kemudian Yupius menunjuk sebuah baju yang terletak di salah satu sudut gua. Batu ini cukup besar dengan permukaan yang tidak rata. Konon batu tersebut dulunya adalah seorang wanita hamil. Sebelum sepenuhnya menjadi batu, ia ditemukan saat hanya setengah bagian tubuh saja yang telah membatu, setengahnya masih normal.

"Waktu itu masih segini badan tangan sudah batu. Maniknya (kalung) masih ada," ujar Yupius.

Setiap hari penduduk di perkampungan yang tak jauh dari gua datang membawakan makanan. Hingga akhirnya wanita setengah batu itu mengatakan kalau mungkin penduduk sudah jemu memberi makan setiap hari, bisa memutuskan kalungnya agar ia sepenuhnya menjadi batu.

"Lama kelamaan bilang dengan orang kampung, kalau memang sudah jemu ngasih makan, ngasi apa-apa dengan saya, putuskan manik saja langsung jadi batu. Dah itu orang kampung pun nggak pernah ngasi makan ke sini," jelasnya.

Selain wanita yang telah menjadi batu itu, konon ada pula kucing peliharaan penduduk di gua yang menjadi batu. Percaya tak percaya, cerita inilah yang beredar di penduduk setempat.

(Kurnia/detikTravel)(Kurnia/detikTravel)
Traveler yang mau berkunjung ke Gua Thang Raya sebaiknya jangan datang selepas sore, datanglah saat mentari masih bersinar cerah. Penerangan menuju gua ini masih minim. Di dalam gua sendiri terlihat ada lampu-lampu, namun saat itu tampaknya korslet sehingga tidak menyala.

Untuk kendaraan hingga ke gua dari sekitar rumah penduduk Dusun Pemodis, bisa menyewa motor warga atau minta diantarkan langsung. Usai wisata ke gua traveler bisa bercengkerama dulu dengan penduduk Pemodis. Mereka begitu ramah lho.

Simak terus cerita jelajah Kabupaten Sanggau termasuk kawasan Entikong di Tapal Batas detikcom!

Sebelum wisata ke Gua Thang Raya, yuk tonton dulu video berikut:

(krn/aff)
BERITA TERKAIT
Load Komentar ...
NEWS FEED