Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 13 Sep 2017 12:30 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Ritual Tolak Bala dari Purworejo

Rinto Heksantoro
Redaksi Travel
Warga Purworejo menggelar tradisi tahunan tolak bala (Rinto/detikTravel)
Warga Purworejo menggelar tradisi tahunan tolak bala (Rinto/detikTravel)
Purworejo - Setiap daerah di Indonesia punya tradisi unik yang bisa dilihat wisatawan. Di Purworejo, ada ritual tolak bala menyambut Muharam yang berumur ratusan tahun.

Untuk mengusir malapetaka, ratusan warga Dusun Sembir, Desa Bugel, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo Jawa Tengah menggelar ritual tolak bala. Ritual yang hingga kini masih dilestarikan ini, sudah ada sejak ratusan tahun silam.

Salah satu sesepuh desa setempat, Sutarto (78) kepada detikTravel menuturkan bahwa tradisi tersebut sengaja digelar untuk menolak malapetaka. Ratusan warga mulai dari anak-anak, dewasa, laki-laki maupun perempuan, duduk bersila di perempatan jalan kampung yang menjadi pusat ritual itu pertama kali dilaksanakan.

"Tradisi ini dilaksanakan untuk menolak bala. Pertama kali dulu dilaksanakan di sini oleh nenek moyang kami karena merupakan pertengahan kampung," tuturnya kepada detikTravel, Selasa (12/9/2017) sore.

(Rinto Heksantoro/detikTravel)Foto: Rinto Heksantoro/detikTravel


Diceritakan oleh Sutarto bahwa pada tahun 1917 warga desa itu mengalami penyakit aneh yang mematikan. Setiap hari selalu saja ada yang meninggal dunia dan membuat warga ketakutan.

"Orang sini dulu menyebutnya pageblug atau malapetaka berupa kematian yang terus menerus. Jika sore sakit maka paginya meninggal, jika pagi sakit maka sorenya meninggal, begitu seterusnya," beber Sutarto.
Ritual Tolak Bala Sambut Bulan Muharam Digelar di PurworejoFoto: Rinto Heksantoro/detikTravel


Untuk membersihkan malapetaka yang melanda desa selama berbulan-bulan itu, akhirya Kiyai Marjuki pada waktu itu melakukan sebuah tirakat dan mendapatkan petunjuk untuk mengadakan ruwatan bersih desa. Ruwatan dilakukan sesuai dengan ilham yang telah didapatkan Sang Kiyai.

"Jadi waktu itu langsung membuat ketupat dengan jumlah ganjil, bisa 7 atau 9. Kemudian menyembelih kambing kendit jantan dan kepalanya dikubur di tengah-tengah kampung dan keempat kakinya dikubur di empat penjuru mata angin," lanjutnya.

Selain membuat ketupat dan menyembelih kambing waktu itu, Sang Kiyai berkeliling kampung dengan memanjatkan doa. Akhirnya, dalam waktu beberapa hari pageblug pun hilang dari desa itu.

Ritual Tolak Bala dari PurworejoFoto: Rinto Heksantoro/detikTravel


Hingga kini tradisi itu masih terus dilestaikan setiap tahun, terutama menjelang bulan Muharam dan dilaksanakan pada hari-hari tertentu.

"Sampai sekarang tradisi itu pun masih kami lestarikan setiap tahun, meskipun tanpa menyembelih kambing lagi. Hari pelaksnaanya biasanya hari Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon sebelum memasuki bulan Muharam atau Suro," tutup Sesepuh desa itu.

Ritual Tolak Bala dari PurworejoFoto: Rinto Heksantoro/detikTravel


Warga yang sedari tadi duduk bersila memenuhi perempatan kampung itu, baru bisa menikmati ketupat yang dikemas dalam ancak atau tempat dari pelepah pisang setelah doa selesai dipanjatkan oleh sesepuh desa. Setelah doa diamini, warga pun beramai-ramai melahap ketupat dengan sayur dan lauk seadanya.

Warga setempat percaya, jika tradisi itu terus dijaga maka kampung akan sejahtera dan terjauh dari malapetaka, namun sebaliknya jika tidak dilaksanakan maka pageblug akan datang kembali.

"Rutin mas, ya harus dilaksanakan, jika tidak ya kami takut kenapa napa lagi nantinya," ucap Eni Suwadi (49) salah satu warga setempat. (wsw/wsw)
BERITA TERKAIT
Load Komentar ...
NEWS FEED

Foto: Saat White House Direnovasi

Selasa, 26 Sep 2017 23:15 WIB

White House adalah Istana Kepresidenan AS yang selalu bikin penasaran traveler. Rupanya, Gedung Putih sudah direnovasi pada awal Agustus lalu. Ini fotonya: