Adalah Waroeng Kemarang, salah satu restoran di Banyuwangi yang menyuguhkan pengalaman budaya menyantap khas Suku Osing. Berbekal rekomendasi dari seorang teman, detikTravel pun sempat mampir ke sana pada Sabtu malam pekan lalu (3/2/2018).
Berlokasi tidak jauh dari pintu masuk utama Desa Wisata Kemiren, traveler dapat menjumpai Waroeng Kemarang di sisi kiri. Papan penanda pun sudah jelas terpampang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara konsep, Waroeng Kemarang memang menawarkan pengalaman wisata budaya Osing di tepi sawah. Dalam bahasa setempat, Kemarang diketahui memiliki arti bakul nasi. Tampak juga dari logo khas waroeng kemarang yaitu sebuah siluet bakul nasi
Kue kucur khas Banyuwangi (Randy/detikTravel) |
Setelah soft launching pada 31 Desember 2017 kemarin, rumah makan yang dimiliki oleh tokoh setempat bernama Wowok Meirianto ini langsung mencuri perhatian pecinta kuliner di Banyuwangi
ini salah satu investasinya dia di bidang kuliner, tapi juga sebagai wadah kesenian juga.
"Jadi Waroeng Kemarang ini konsepnya sederhana sih, makan makanan khas banyuwangi di tepi sawah. Ini salah satu investasinya bapak (Wowok - red) di bidang kuliner tapi juga sebagai wadah melestarikan kesenian juga," ujar Co-Owner Waroeng Kemarang, Yorint Mayrza Laoli saat ditemui detikTravel di lokasi.
Layaknya tempat wisata kekinian, pengunjung pun bisa memanfaatkan panorama tepi sawah untuk berfoto selfie atau ala-ala. nampak juga paglak dengan angklung sebagai spot iconic dari waroeng ini. Secara suasana, tidak jauh beda dengan Ubud, di Bali.
Atraksi Paju Gandrung yang ada setiap Sabtu (Randy/detikTravel) |
Sebagai rumah makan khas Banyuwangi, Waroeng Kemarang juga menyuguhkan berbagai menu setempat. Tidak tanggung-tanggung, makanannya dibuat langsung oleh para koki handal setempat yang bekerja di sana.
"Kelebihan Waroeng Kemarang itu di experience makannya, kita menyajikan makanan tradisional khas Banyuwangi. Tim dapurnya itu orang-orang sini, kami libatkan orang di sekitar Waroeng Kemarang. Lewat Waroeng Kemarang, kita bisa menciptakan "Multiplier Effect" bagi warga sekitar," pungkas Yorint.
Untuk menu, traveler bisa memesan aneka menu khas Banyuwangi seperti sego tempong, rujak soto, kucur, kopi osing hingga pecel pitik yang menjadi andalan. Harganya pun terbilang ramah di kantong.
Setelah memesan menu, pengunjung pun bisa memilih makan di venue utama Waroeng Kemarang atau lesehan di sejumlah gazebo kecil yang dibuat berjajar di tepi sawah.
Suasana tepi sawah di Waroeng Kemarang (Randy/detikTravel) |
Menariknya lagi, venue utama Waroeng Kemarang disebut begitu istimewa. Memiliki bentangan sepanjang 13 meter, bangunan itu diklaim sebagai rumah adat Osing yang terbesar.
" Setelah survey ke beberapa tempat, ini kami klaim sebagai rumah adat Osing terbesar di dunia. Ini bentangnya paling besar, malah kemarin ada penawaran dari museum rekor di sini, tapi kita belum kerjasama," ujar Yorint.
Sedangkan dari segi pengalaman budaya, Waroeng Kemarang juga menghadirkan pertunjukan budaya Banyuwangi seperti Paju Gandrung dan Arak-arakan Barong pada Sabtu dan Minggu. Setiap hari pengunjung bisa menikmati juga kesenian angklung paglak. Jadi tidak usah menunggu event budaya.
"Selain itu kami jadi wadah seni, karena setiap Sabtu Minggu itu ada kesenian Paju Gandrung dan Arak-arakan Barong. Sabtu malam pukul 18.00 Paju Gandrung, kalau arak-arakan jam 14.00 siang hari Minggu, itu rutin" jelas Yorint.
Kabar baiknya, pengunjung Waroeng Kemarang pun bisa melihat pertunjukan budaya khas Banyuwangi itu secara cuma-cuma. Jika ingin merasakan pengalaman lebih, traveler bahkan bisa menyewa pakaian penari Paju Gandrung dengan membayar Rp 20 ribu per orang.
Apabila ingin mampir, Waroeng Kemarang buka setiap hari dari pukul 08.00-21.00 WIB. Lokasi persisnya ada di Jalan Kalibendo KM 5 Desa Taman Suruh atau tepatnya setelah pemancar radio Banyuwangi FM. (rdy/aff)












































Kue kucur khas Banyuwangi (Randy/detikTravel)
Atraksi Paju Gandrung yang ada setiap Sabtu (Randy/detikTravel)
Suasana tepi sawah di Waroeng Kemarang (Randy/detikTravel)
Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun