Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 15 Mar 2018 08:50 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Cerita Unik Masjid di Cirebon yang Dibangun dalam 100 Hari

Sudirman Wamad
Redaksi Travel
Masjid Nurbuat di Ciamis yang dibangun selama 100 hari (Sudirman Wamad/detikTravel)
Masjid Nurbuat di Ciamis yang dibangun selama 100 hari (Sudirman Wamad/detikTravel)
Sudirman Wamad - Selain memiliki arsitektur unik, Masjid Nurbuat di Cirebon juga punya cerita menarik untuk wisata. Konon, masjid ini hanya memakan 100 hari pembangunan.

Masjid Nurbuat atau Masjid Merah Kedung Menjangan salah satu dari sekian masjid di Kota Cirebon yang memiliki arsitektur menarik. Perpaduan budaya antara Demak, Kudus, dan China menjadi tema utama dalam bangunan masjid itu. Masjid Kedung Merah Menjangan ini berlokasi di Kampung Kedung Menjangan, Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Bagian luar didominasi warna merah, mirip dengan bangunan Masjid Merah Panjunan atau Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Bedanya, Masjid Merah Kedung Menjangan memiliki menara seperti Masjid Menara Kudus. Namun, menara di Masjid Merah Kedung Menjangan identik dengan bangunan di China. Menara tersebut memiliki sembilan atap. Selain itu, memolo masjid juga identik dengan bangunan China, jumlahnya puluhan.

Cerita Unik Masjid di Cirebon yang Dibangun dalam 100 HariMasjid Nurbuat didominasi warna merah (Sudirman Wamad/detikTravel)

Pagar masjid dibuat seakan menyerupai bangunan Keraton Demak. Pagarnya dihiasi dengan keramik, sementara di bagian ruang utama masjid didominasi warna putih. Ada 17 tiang di ruang utama itu. Menurut Bari (50) salah seorang pengurus DKM Masjid Merah Kedung Menjangan mengatakan 17 tiang penyangga itu memiliki makna sebagai jumlah rakaat dalam salat lima waktu.

BACA JUGA: Avanza Kesalip Xpander, Toyota: Itu Bukan Kanibalisme

Bari mengatakan Masjid Merah Kedung Menjangan didirikan oleh pria bernama Rohim sekitar tahun 2000. Bari menjelaskan pembangunan masjid tersebut memiliki kaitan dengan Syekh Abdurahman Rauf As Singqili, ulama dari Aceh. Seorang pendirinya sempat mendapatkan hidayah dalam mimpinya untuk membangun masjid dari ulama tersebut.

Tak hanya itu, menurut Bari, hal gaib juga konon mengiringi proses pembangunan masjid. Hanya memakan waktu selama 100 hari masjid tersebut dibangun.

"Proses pembangunannya cuma 100 hari, kelar tuh. Pekerjanya cuma belasan, tukang aslinya cuma dua. Rasanya tuh tidak ada capeknya, sampai malam kerja juga tidak rasa capek. Wallahu a'lam ya, kenapa bisa begitu," kata Bari saat ditemui detikTravel di Masjid Merah Kedung Menjangan, Rabu (14/3/2018).

Cerita Unik Masjid di Cirebon yang Dibangun dalam 100 HariBangunan masjid perpaduan Demak, Kudus, dan China (Sudirman Wamad/detikTravel)

Bari bukanlah warga asli Kota Cirebon, melainkan warga Desa Plumbon, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon. Bari mengaku mendapatkan arahan dan bimbingan dari para guru dan sesepuhnya untuk mengurus Masjid Merah Kedung Menjangan. Padahal, sambung Bari, Masjid Merah Kedung Menjangan belum ada.

"Saya sudah tahu dari dulu kalau di sini bakal ada masjid. Saya pindah ke sini dari kampung saya itu tahun 1990. Tahun 2000 baru mulai pembangunannya," tutur Bari.

BACA JUGA: Senyum Dulu Pagi Ini, Lihat Meme Kocak Pendaki Gunung

Bari mengatakan setiap tanggal 11 menurut kalander Jawa, pengurus masjid bersama jamaahnya menggelar tradisi manakiban. Hebatnya, diakui Bari, jamaah manakiban yang datang dari berbagai daerah.

"Banyak jamaahnya kalau manakiban, itu dilakukan setiap bulan. Ada yang dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan lainnya. Kalau yasinan setiap malam Jumat, dulu ada sekarang sudah tak ada," ucapnya.

Cerita Unik Masjid di Cirebon yang Dibangun dalam 100 HariRuang utama masjid yang berwarna putih (Sudirman Wamad/detikTravel)

Lebih jauh, dia mengatakan Masjid Merah Kedung Menjangan memiliki dua sumur, namanya Sumur Kembar. Sumur Kembar tersebut terletak di lokasi berbeda, ada di lokasi halaman masjid dan luar masjid. Bari mengaku sumur kembar tersebut belum pernah kering kendati kemarau.

"Surut belum pernah, paling rendahnya itu permukaan airnya hanya satu meter dari dasar sumur," tutup Bari. (sym/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED