Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 13 Apr 2018 19:10 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Main ke Desa Tanpa Listrik dan Sinyal HP, Berani Coba?

Agus Setyadi
detikTravel
Foto: Desa Melidi (Agus Setyadi/detikTravel)
Aceh - Lupakan update di medsos saat jalan-jalan. Datang ke desa ini, tidak ada listrik dan sinyal handphone.

Traveler yang mengunjungi suatu tempat umumnya tidak bisa lepas dari gawai (gadget). Beberapa tempat wisata memang sudah mendukung jaringan internet. Namun bagaimana jika diajak melancong ke pedalaman tanpa listrik dan sinyal handpone, berani coba?

Berkunjung ke pedalaman Aceh Timur, traveler akan menemukan banyak hal-hal baru. Pemandangan alam di sana masih sangat asri. Kehidupan masyarakat pun masih tergolong tradisional. Sore hari, mayoritas perempuan turun ke sungai untuk mandi bareng sambil menyuci pakaian.

Beberapa waktu lalu, detikTravel mengunjungi Desa Melidi di Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur, Aceh. Perjalanan dimulai dari Banda Aceh dengan menggunakan jalur darat dan membutuhkan waktu sekitar 12 jam untuk tiba di ibukota Aceh Timur.

Desa di Simpang Jernih ini memang termasuk ke dalam wilayah administrasi Aceh Timur. Namun untuk masuk ke sana, traveler harus melewati dua kabupaten lagi yaitu Kota Langsa dan Aceh Tamiang dengan estimasi waktu sekitar empat jam. Tiba di Aceh Tamiang, traveler punya dua pilihan untuk ke desa Melidi.

Main ke Desa Tanpa Listrik dan Sinyal HP, Berani Coba?Salah satu sudut Desa Melidi (Agus Setyadi/detikTravel)


Pertama, pelancong dapat naik boat menyusuri sungai Tamiang dari pelabuhan Aceh Tamiang dengan waktu tempuh lima jam. Untuk biayanya Rp 50.000 hingga Rp 100.000 perorang. Sementara opsi kedua, berangkat dari desa terakhir di Aceh Tamiang. Untuk akses ke desa terakhir dari ibu kota Aceh Tamiang butuh waktu sekitar dua jam. Setelah itu, baru naik boat dengan waktu tempuh sekitar satu jam.

Perjalanan dengan boat menjadi tantangan tersendiri. Pasalnya, nahkoda tidak menyediakan pelampung sehingga jika terjadi insiden nyawa menjadi taruhan. Jika kondisi baru selesai hujan, air sungai meluap dan arus menjadi deras. Sepanjang perjalanan, air dari depan boat memercik ke dalam, membuat pakaian basah.

"Perjalanan ini risikonya kalau air surut karena boat bisa kandas. Tapi saya sudah paham medannya," kata nahkoda, Pakat (35) beberapa waktu lalu.

Selama satu jam menyusuri Sungai Tamiang, traveler dimanjakan dengan keindahan alam yang menarik. Kupu-kupu aneka warna bermain di pinggir sungai menjadi pemandangan tersendiri. Namun ada satu tantangan besar untuk ke Desa Melidi, yaitu batu katak.

Batu berukuran besar yang membentang ini hampir menutup sungai dengan lebar sekitar 100 meter. Boat harus melewati dari celah batu jika sungai sedang surut. Sementara jika air meluap, batu tidak nampak dan kerap menimbulkan insiden. Pada 2013, misalnya, tiga warga tewas karena boat tenggelam setelah menabrak batu tersebut.

"Dinamakan batu katak karena kalau dilihat dari jauh batu itu mirip dengan katak," jelas Pakat.

Usai melewati batu katak, perjalanan hanya butuh beberapa menit lagi untuk sampai ke Desa Melidi. Perkampungan di desa ini memang masih jauh tertinggal dibanding di daerah lain. Di sana, warga masih menggunakan listrik tenaga mikro hidro dan hidup dari pukul 18.00 WIB hingga pagi hari. Cahaya lampu pun tidak seterang ditempat lain.

Main ke Desa Tanpa Listrik dan Sinyal HP, Berani Coba?
Suasananya yang tenang (Shinta/detikTravel)

Selain itu, di sana juga belum ada sinyal komunikasi. Traveler yang berkunjung ke sana, bisa melihat perjuangan warga memburu sinyal di bukit sinyal. Ya di desa ini cuma ada satu lokasi di atas bukit yang dijadikan warga untuk mencari sinyal telepon seluler. Itupun tidak semua HP berhasil mendapat sinyal.

"Perburuan" sinyal ini dilakukan warga dari pagi hingga malam hari. Di sana, ada dua batang kayu yang sudah diolah sebagai tempat menaruh HP. Jika sinyal sudah didapat, HP tidak boleh bergeser sedikit pun. Untuk berbicara, harus menghidupkan pengeras suara atau menggunakan headset. Bisa dibayangkan kalau ada anak muda nelpon pacar harus ngomong di antara banyak orang?

"Malam minggu biasa ada anak muda yang ke bukit sinyal untuk nelpon cewek. Itu ngomongnya harus pakai loudspeaker," ungkap Ajisah, tokoh masyarakat Desa Melidi.

Main ke Desa Tanpa Listrik dan Sinyal HP, Berani Coba?Sudut perkampungan (Agus Setyadi/detikTravel)


Suasana perkampungan Melidi pada siang hari tergolong sepi. Tapi saat malam menyapa, suasana berubah. Dara-dara di sana berkumpul di depan sebuah rumah dan belajar tarian Bines, tarian khas Gayo yang dimainkan khusus oleh perempuan. Suara nyanyian yang dilantunkan peserta tari memecah keheningan. Pemandangan seperti ini, jarang ditemukan di perkotaan.

Selain itu, warga di desa Melidi ini juga tergolong sangat ramah-ramah. Pendatang yang berkunjung ke sana disambut dengan baik dan saat berjumpa diajak bersalaman. Meski hidup dengan keterbatasan dan ketertinggalan, tapi masyarakat sangat memuliakan tamu.

Tertarik petualang ke pedalaman, yuk berkunjung ke Desa Melidi! (sna/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA