Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 20 Agu 2018 17:50 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Mengenal Keunikan Pulau Bungin yang Dilanda Kebakaran

Kurnia Yustiana
detikTravel
Foto: Pulau Bungin di Sumbawa (Aji Surya/detikTravel)
Foto: Pulau Bungin di Sumbawa (Aji Surya/detikTravel)
Sumbawa - Kabar sedih datang dari Pulau Bungin di Sumbawa yang kebakaran pascagempa Lombok. Pulau kecil ini sebenarnya punya banyak keunikan.

Pulau Bungin berlokasi di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, NTB, sekitar 70 km dari kota Sumbawa Besar. Minggu (19/8) malam, kebakaran melanda pemukiman di pulau ini pascagempa pukul 21.56 WIB yang berkekuatan 7 SR dan berpusat di timur laut Lombok Timur.

(dok istimewa)Kebakaran di Pulau Bungin (dok istimewa)
Kebakaran telah berhasil dipadamkan malam itu. Dari hasil pendataan terdapat 23 rumah warga yang terbakar. Menurut BNPB, api dipicu dari rumah yang rubuh karena gempa.

Pulau Bungin selama ini menjadi salah satu destinasi yang dikunjungi wisatawan saat traveling ke Sumbawa. Meskipun kecil, banyak traveler yang tertarik ke sana. detikTravel pun pernah pergi ke sana beberapa waktu silam.

Dari informasi yang dikumpulkan detikTravel, Senin (20/8/2018), Pulau Bungin menjadi pulau terpadat ketujuh di dunia. Luasnya 8,5 hektar, tapi penduduk yang tinggal di sana mencapai sekitar 3.500 orang. Ibaratnya, satu orang hanya menempati area 5x5 meter.

(BBC Indonesia)(BBC Indonesia)
Rumah-rumah yang dibangun di atas gundukan pasir dan karang saling berdempetan, nyaris tidak ada ruang yang tersisa. Satu rumah bisa ditempati dua sampai tiga keluarga. Walau begitu, penduduk setempat betah tinggal di sana, merasakan kehangatan dan kenyamanan yang belum tentu dirasakan di tempat lain. Tak mau pindah ke pulau sebelah (daratan Sumbawa) yang masih kosong.

Warga Pulau Bungin kebanyakan adalah Suku Bajo, yang sudah turun menurun tinggal di sana sejak 1818. Dari yang dulunya masih sepi, hingga kini pulau begitu padat penduduk.

Karena kepadatan penduduk ini, lelaki setempat yang mau menikah harus mampu membuat fondasi rumah, untuk memperluas lahan. Seiring dengan kesadaran masyarakat, tak diperkenankan lagi membangun rumah dengan terumbu karang. Jadi bujangan harus bisa mengangkut tanah atau pasir dari pulau sebelah untuk reklamasi kecil.

Pulau Bungin sendiri tak punya garis pantai dan lahan hijau. Berhubung tak ada lahan hijau luas dengan rerumputan, ternak seperti kambing pun sulit mencari makanan.

(Aji Surya/detikTravel)(Aji Surya/detikTravel)

(Shafa/detikTravel)(Shafa/detikTravel)
Akhirnya kambing di pulau ini terpaksa makan sisa-sisa kertas atau kardus. Saat berkeliling pulau, pemandangan aneh sekaligus miris di mana kambing memakan plastik, kardus dan benda sejenis dari tempat sampah akan terlihat.

BACA JUGA: Tak Ada Rumput, Kambing Makan Kertas di Pulau Bungin

Masih banyak lagi yang bisa dijelajahi dari Pulau Bungin. Biasanya traveler ngobrol-ngobrol bareng penduduk yang ramah, juga menjajal kuliner seafood. Tidak jauh dari pulau ada restoran terapung yang menyajikan olahan ikan segar. Ada kerapu, lobster, kerang kepiting hingga cumi.

Semoga Pulau Bungin segera pulih kondisinya seperti sedia kala. Wisatawan pun bisa kembali datang berkunjung ke sana.

(Aji Surya/detikTravel)(Aji Surya/detikTravel)
(krn/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED