Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 07 Sep 2018 22:42 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Kisah Sopir Pegaf: Bikin Jalan Sendiri hingga Bermalam di Hutan

Ahmad Masaul Khoiri
detikTravel
Shahrul (42), sopir angkutan 4x4 Manokwari-Anggi (Masaul/detikTravel)
Shahrul (42), sopir angkutan 4x4 Manokwari-Anggi (Masaul/detikTravel)
Pegunungan Arfak - Begitu banyak cerita yang menarik saat traveler pergi ke Pegunungan Arfak (Pegaf), Papua Barat. Salah satunya dari sopir di sana.

detikTravel bersama Mapala UI mengeksplor Kabupaten Pegunungan Arfak dalam rangka Ekspedisi Bumi Cendrawasih 2018. Di sela-sela acara itu, kisah salah satu sopir mobil 4x4 bisa dibilang amat mengagumkan. Begini cerita lengkapnya.

Nama pengemudi itu Shahrul (42) berasal dari Makassar. Di Pegaf, Shahrul biasa dipanggil dengan nama Roni. Pergantian nama shahrul menjadi Roni karena ia dulu mempunyai kondektur warga lokal bernama Roni. Roni cuma setahun kerja bersama Shahrul.

"Kita takut ada apa-apa kalau kerja sama orang sini. Bisa kena denda kalau dia tergores saja," ucap Shahrul mengawali ceritanya.

Pada awalnya Shahrul tidak menyangka akan berakhir di Pegaf. Ia datang sendiri.

"Saya bingung waktu itu dan pergi ke bandara bersama saudara, lalu ada pesawat dan berangkatlah saya setelah membeli tiket. Ikut saja itu pesawat mau ke mana pada tahun 2007 akhir," kata Shahrul.

Shahrul tak tahu jika saudaranya itu tak ikut bersamanya hingga sampai saatnya mendarat di Manokwari. Di kota pusat Papaua barat itu, ia cuma mempunyai uang sebesar Rp 7000.

Medan berat dan tergolong offroad di beberapa titik menuju Anggi (Masaul/detikTravel)

"Ya sudah saya ngojek ke pasar dan memiliki sisa uang Rp 2000. Di pasar saya kerja sebagai buruh angkat barang, memikul gula dari gudang. Setelah itu cuci mobil dan dari situ saya kenal sopir-sopir yang biasa mengangkut ke Pegaf. Pertamanya saya jadi kondektur," kata dia.

3 hari menjadi kondektur Shahrul sudah dipercayai sebuah mobil 4X4. Momen itu sudah sekitar pada tahun 2008.

"Kalau ada pekerjaan lain saya tidak akan melakoni itu. Sangat berat. Karena kalau jalan rusak, misal longsor saya harus bikin jalan. Pernah saya bermalam di jalan dan masih bermandikan lumpur. Hari pertama kerja sebagai kondektiur itu saya tiga hari perjalanan dari Manokwari menuju ke Anggi," jelas Shahrul.

Pekerjaan Shahrul saat di Makassar adalah sopir. Dalam hari pertamanya kerja itu, saat melewati medan berat, Shahrul yang berposisi sebagai kondektur beralih menjadi sopir dan bisa melakukannya.

"Pas waktu medannya sulit saya yang nyetir kok bisa. Zaman dulu itu saya lewat Manokwari Selatan ke Anggi Gida baru ke Anggi, pas pertama kali kerja. Jalan dari Manokwari ke Anggi baru sepuluh tahunan belakang. Pertama kali bawa, semen dan beras karena barang itu yang diutamakan dan mending beras yang jalan dulu daripada orangnya," kata dia.

BACA JUGA: Jangan Nabrak Babi di Pegaf, Tuntutannya Tak Masuk Akal!

Bagi Shahrul, pengalaman paling menyenangkan saat tiba saatnya penumpang membayar jasanya. Sedang pengalaman yang paling tidak enak saat jalan longsor hingga bermalam di hutan hingga 3 malam.

5 tahun bekerja sebagai sopir angkutan Manokwari-Anggi, Shahrul sudah memiliki mobil 4X4-nya sendiri. Kini, sudah ada sekitar 200 mobil offroad yang beroperasi di Kabupaten Pegunungan Arfak.

Kota Anggi, pusat Kabupaten Pegaunungan Arfak (Masaul/detikTravel)

Titik-titik mana yang harus diwaspadai sopir maupun penumpang di Jalan Manokwari-Anggi?

Ada beberapa sungai yang berbahaya jika musim hujan datang karena belum ada jembatan. Adalah Jingga, Wariori dan Gemong adalah sungai yang ganas karena belum ada jembatannya. Sedang trek pertama yang paling berbahaya yakni di KM 5 sampai KM 18 karena terdapat jurang terjal dan rusak jalannya. Trek kedua ada di wilayah Apui dan ketiga ada di Jalur Gunung maut.

"Kalau untuk titik rawan ada di Manser, Kampung Sakumi, Kampung Nenei, dan Gunung Merek. Titik rawan ini bisa berupa terdapat orang yang masih suka memalak pendatang dengan menggunakan senjata tajam," ucap Shahrul.

Shahrul berjuang sedemikian rupa karena sudah menjadi kepala keluarga. Ia mempunyai istri dan tiga anak yang bahakan tak tahu jika kepala keluarganya itu mencari nafkah ke Papua Barat. Shahrul tidak pernah berkomunikasi sama sekali selama 4 tahun. Setelah 5 tahun bekerja, orang-orang di kampungnya kaget dari mana Shahrul menghasilkan uang.

"Selama 4 tahun itu saya kirim nafkah per hari 1 juta berupa pulsa. Saya berpikir bahwa pulsa itu bisa diuangkan," jelas Shahrul.

"Karena saya malu tinggal di kampung. Saya orang yang tidak baik di kampung. Harta punya orang tua saya jual diam-diam," imbuh dia.

Namun begitu, Shahrul merasa bersyukur. Kata dia, kalau memiliki mobil sendiri penghasilannya bisa mencapai Rp 25 juta per bulan. Kalau menjadi sopir akan digaji Rp 5 juta per bulan dan gaji kondektur PP Manokwari-Anggi sebesar Rp 150 ribu dari pemilik mobil dan ditambah dari sopir sebesar Rp 200-300 ribu.

Namun begitu, di jalan yang tak kunjung diperbaiki itulah kehidupan keluarga disambungnya sampai bisa menaikkan haji istrinya. Ia mengaku jika jalan diperbaiki maka penghasilannya akan berkurang.

"Tapi saya ingin dibangun adanya jembatan di tempat-tempat rawan tadi. Kami juga ingin ada asuransi dari pemerintah," jelas dia

Untuk diketahui, biaya menyewa mobil angkutan 4X4 dari Manokwari-Anggi sebesar Rp 1,5 juta per hari PP dan ditambah turun di beberapa tempat. Kalau biaya sewa perorangan dari pangkalan hanya Rp 170 ribu untuk sekali jalan. (msl/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA